The Gentlemen dan Kembalinya Guy Ritchie pada Gaya Khasnya
KEMPALAN : Sutradara kawakan asal Inggris, Guy Ritchie, kembali merilis film bergenre aksi dengan sentuhan kehidupan mafia. Setelah sebelumnya menggarap film seperti Aladdin, King Arthur: Legend of the Sword dan Sherlock Holmes, Guy Ritchie kembali ke gaya lamanya, film mafia seperti Lock, Stock and Two Smoking Barrels; Rock and Rolla; dan Snatch pada karya tahun 2019-nya, The Gentlemen.
Sebelumnya, ia membawa Charlie Hunnam yang sukses dengan serial Sons of Anarchy ke dalam film King Arthur: Legend of the Sword dengan gaya kepribadian yang sama, sementara dalam film The Gentlemen ini, Hunnam tampil sebagai Raymond yang lebih rapi, tenang dan “OCD”. Adapun Hunnam disuruh menonjolkan aksen Inggrisnya bersama dengan umpatan khas dari negaranya, berlainan dengan perannya dalam serial itu sebagai seorang “preman” yang “urakan.”

Selain Hunnam, tokoh utamanya, Matthew McCounaughey juga memperlihatkan sisi khas dari seorang mafia ala Inggris yang rapi namun bermain dengan keras, bersama dengan istilah yang melekat pada orang semacam ini di Inggris: Gangster.
Seperti film Guy Ritchie lainnya, adegan film didasarkan pada narasi dan pembicaraan para aktornya (antara Raymond dan Fletcher) yang nanti masuk ke dalam adegan aksi untuk lebih mudah memperlihatkan kepada penonton mengenai apa yang terjadi. Model pemindahan adegan semacam ini membuat para penonton harus fokus mengamati pergantian tiap adegan dengan seksama, sembari mendapatkan permainan kata sekaligus istilah-istilah maupun peribahasa Inggris yang menarik, film ini adalah pemaknaan yang mudah atas “retorika.” Sekali tidak melihat adegan yang sebelumnya, bisa jadi kita tidak akan paham apa yang sedang terjadi selanjutnya.
Adapun, film Gangster semacam ini pasti memuat umpatan maupun hinaan yang bersifat rasis atau merendahkan, namun seperti pembelaan Henry Golding, itulah kenyataan dari para gangster. Umpatan atau hinaan itu bukan berniat mendiskreditkan ras tertentu, tapi murni untuk membuat adegan dan akting para gangster lebih terasa nyata. Namun beberapa orang nampaknya terlalu memasukkan ke dalam hati dan terlalu jauh memaknai sebuah film, tindakan semacam itu pastinya membuat film menjadi membosankan.

Akan tetapi film ini tidak memuat kekerasan fisik hingga tahapan Gore, namun lebih ke kekerasan verbal yang kreatif dan imajinatif.
Film ini berdurasi cukup lama dibanding umumnya, hampir dua jam: 1 jam, 53 menit. Karya Guy Ritchie ini diproduksi oleh Miramax dan dirilis pada 3 Desember 2019 di Curzon Mayfair Cinema. (Reza Maulana Hikam)
