Minggu, 8 Maret 2026, pukul : 13:54 WIB
Surabaya
--°C

ITS Sumbangkan i-nose C-19, Deteksi Covid-19 Lewat Bau Ketiak

SURABAYA-KEMPALAN: Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) kembali mendapatkan dukungan alat deteksi Covid-19 dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Alat deteksi Covid-19 melalui bau ketiak itu diterima langsung dari Tim i-nose C-19  ITS yang dipimpin  founder i-nose C-19  sekaligus Ketua Tim, Prof. Drs. Ec. Ir. Riyanarto Sarno M.Sc, Ph.D, Jumat (26/2), sekitar pukul 09.30 WIB.

Tim dari ITS tersebut disambut penanggungjawab RSLI  Surabaya, Laksamana Pertama TNI dr. I Dewa Gede Nalendra Djaya Iswara, Sp.B, Sp. BTKV (K), setelah sebelumnya memimpin kegiatan rutin Morning Report RSLI yang dihadiri seluruh jajaran nakes, apoteker, analis medis, admin, unsur BPBD dan relawan pendamping.

Dalam paparannya, Prof. Ryan menjelaskan bahwa i-nose c-19 merupakan alat screening Covid-19 pertama di dunia yang mendeteksi melalui bau keringat ketiak (axillary sweat odor).

Menurutnya, i-nose c-19 bekerja dengan cara mengambil sampel dari bau keringat ketiak seseorang dan memprosesnya menggunakan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

“Keringat ketiak adalah non-infectious, yang berarti limbah maupun udara buangan i-nose c-19 tidak mengandung virus Covid-19,” katanya.

Selain itu, lanjut Prof Ryan, alat ini memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan teknologi screening Covid-19 lainnya. Sampling dan proses berada dalam satu alat, sehingga seseorang dapat langsung melihat hasil screening pada i-nose c-19. Hal ini tentunya menjamin proses yang lebih cepat.

”i-nose c-19 juga dilengkapi fitur near-field communication (NFC), sehingga pengisian data cukup dengan menempelkan e-KTP pada alat deteksi cepat Covid-19 ini,” jelasnya.

Selanjutnya, Prof. Ryan menjelaskan bahwa data dalam i-nose c-19 terjamin handal karena penyimpanannya pada alat maupun cloud. Penggunaan cloud computing mendukung i-nose c-19 dapat terintegrasi dengan publik, pasien, dokter, rumah sakit maupun laboratorium.

Dengan berbagai kelebihan yang ada, i-nose c-19, hadir untuk menjawab tantangan pandemi Covid-19 yang belum terkendali. Selain terjamin dari segi biaya karena menggunakan komponen teknologi yang murah, i-nose c-19 juga tidak membutuhkan keahlian khusus dalam implementasinya.

Relawan Covid-19 mencoba mengoperasionalkan i-nose C-19.

“Scanner ini dapat dilakukan oleh semua orang dengan perangkat pengaman yang lebih sederhana, yakni hanya sarung tangan dan masker sebagai perlindungan dasar,” tuturnya.

Menanggapi presentasi sekaligus menerima prototipe i-nose C-19, Penanggungjawab RSLI, dr. Nalendra sangat mengapresiasi inisiasi alat baru tersebut.

Dikatakan, banyaknya lembaga/institusi yang terus meriset penemuan-penemuan alat deteksi Covid-19 sangat membantu sekali, khususnya bagi rumah sakit yang terus menangani covid dari sisi medis.

Termasuk apa yang dilakukan oleh ITS, dalam hal ini tim pengembangan perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan. Apalagi  dipimpin langsung oleh guru besar dari Departemen Teknik Informatika ITS dan melibatkan mahasiswanya dari jenjang magister dan doktoral.

Sehingga, tentunya sangat bermanfaat sebagai sumbangsih penanganan pandemi Covid-1, khususnya di Indonesia.

“Silakan terus dikembangkan dan disempurnakan, semoga alat tersebut segera mendapatkan izin dan legalisasi dari pihak terkait. Kami siap membantu untuk proses tersebut. Untuk pengoperasian di RSLI silakan berkoordinasi dengan relawan pendamping pada Program Pendampingan Keluarga Pasien Covid-19 RSLI, yang kebetulan juga personilnya banyak berasal dari ITS,” saran dr. Nalendra.

Pada kesempatan tersebut, i-nose C-19 diujicobakan langsung kepada Dr Ega (Relawan Nakes) dan Radian Jadid (Relawan Pendamping). Mulai dari pengoperasian alat, input data, pemasangan selang di ketiak, hingga pengolahan data yang hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari 5 menit.

Dan yang lebih mengejutkan, hasil tes dari  i-nose C-19 tersebut saat itu juga (realtime) dikirimkan ke nomor hp/whatsapp dr.Ega dan Radian Jadid berupa sertifikat dengan format pdf. Sebuah pencapaian yang luar biasa dari sebuah kontribusi teknologi dalam upaya mengatasi Covid-19.

Mengingat, semakin meningkatnya penyebaran virus Covid-19 saat ini, di mana dunia sangat membutuhkan  banyak teknologi screening yang mudah dan cepat diimplementasikan.

Sampai saat ini, i-nose c-19 sebagai inovasi alat pendeteksi Covid-19 melalui bau keringat ketiak telah sampai pada fase satu uji klinis. Ke depan akan ditingkatkan lagi data samplingnya untuk izin edar dan dapat disebarluaskan ke seluruh faskes yang ada di tanah air. Juga dapat dikomersialkan ke masyarakat. (*)

Peliput: Dwi Arifin

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.