Geng Solo Makin Kuat di Kepolisian

waktu baca 3 menit

JAKARTA-KEMPALAN: Geng Solo di tubuh Kepolisian RI makin kuat posisinya. Mutasi pertama Kapolri Listyo Sigit Prabowo yang diumumkan pada Kamis (18/2), menempatkan orang-orang Jokowi pada posisi strategis.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S. Pane menilai ada enam hal strategis dalam dinamika Polri ke depan.

Pertama, dalam mutasi ini terlihat bahwa Sigit makin mengukuhkan kekuatan Geng Solo di tubuh Polri. Orang orang “dekat” Jokowi makin memperkuat posisinya di tubuh kepolisian.

Setelah menjadi Kapolri, saat ini orang dekat keluarga Jokowi dipercaya memegang posisi Kabareskrim. Yakni Komjen Agus digeser dari kabaharkam ke kabareskrim. Bukan hanya itu, Irjen Nana yg pernah terdepak sebagai Kapolda Metro Jaya di era kapolri Idham Azis, kini kembali mendapat posisi Kapolda Sulut. Ini agak aneh, sebab posisi Nana turun “derajat”, dari Kapolda Metro Jaya menjadi Kapolda Sulut.

Kedua, dalam mutasi ini, “orang orang BG” belum terlihat bergerak masuk ke dalam posisi strategis di era Sigit. Ketiga, begitu juga orang orang Idham Azis dan Tito, dalam mutasi  masih bertahan di posisi semula. Belum bergeser ke posisi strategis atau terdepak dari posisinya.

Keempat, yang menarik dalam mutasi pertama kapolri Sigit ini, posisi Sestama Lemhanas masih dibiarkan kosong. “Sepertinya Sigit masih mencari figur tepat yg akan digeser kesana. Apakah Geng Solo akan masuk kesana kita tunggu,” kata Neta.

Kelima, ketua tim pembuat naskah uji kepatutan kapolri Sigit di komisi III yakni Irjen Wahyu Widada masih belum mendapat tempat. Ia belum bergeser dari posisinya sebagai Kapolda Aceh. Belum jelas, kenapa Wahyu belum mendapat tempat, sementara cukup banyak figur figur yg “tak berkeringat” dalam suksesi kapolri Sigit, dalam mutasi ini sudah mendapat tempat strategis.

Keenam, mutasi pertama Kapolri Sigit ini berhasil mereposisi Kabaintelkam, yg semula dipegang mantan ajudan presiden SBY, Komjen Rycko diserahkan kepada Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpau dan baru kali ini putra Papua mendapat bintang tiga di Polri.

Menurut Neta, terjadinya kerumunan massa dalam kepulangan Habib Riziq maupun kasus penembakan laskar FPI di Tol Cikampek tak terlepas dari kelemahan deteksi dini dan antisipasi Baintelkam, sehingga reposisi di Baintelkam polri menjadi sebuah kewajaran dilakukan.

IPW menilai, kapolri Sigit sangat sulit untuk melakukan mutasi maksimal di tubuh Polri, terutama dalam mencapai konsep Presisi yg dicanangkannya saat uji kepatutan di DPR. Sebab gerbong mutasi yg bisa dilakukan Sigit hanya sebatas pada bintang dua ke bawah. Sedangkan mutasi di posisi bintang tiga hanya ada dua tempat yg kosong, yakni Kabareskrim dan Sestama Lemhanas.

Selebihnya, Posisi lainnya masih dijabat oleh jenderal bintang tiga yg masa dinasnya masih lama, yakni dua tahun lagi. Sehingga perputaran mutasi dari bintang dua ke posisi bintang tiga sangat terbatas dan cenderung stagnan hingga dua tahun ke depan.

“Kondisi ini tentunya membuat kapolri Sigit kesulitan dalam menggerakkan gerbong mutasi dengan maksimal dan dampaknya organisasi Polri akan stagnan hingga dua tahun ke depan, apalagi Sigit sendiri baru pensiun di 2027. Bagaimana pun ini menjadi dilema dalam dinamika polri ke depan,” kata Neta.

Di sisi lain, lanjut Neta, sebagai Kabareskrim baru tugas Komjen Agus tak kalah  berat karena masalah dalam dinamika masyarakat setahun setelah pandemi Covid cukup berat. Kebangkrutan sosial, PHK, pengangguran menganga di depan mata yg otomatis akan memicu angka kriminalitas.

Di sisi lain wabah narkoba sudah merebak kemana mana, termasuk ke internal polri. Tak kalah pelik, polri masih punya utang kasus berat, di antaranya kasus penembakan laskar FPI di tol Cikampek dan pembakaran gereja, serta pembunuhan sekeluarga di Sigi Sulteng. “Kasus kasus ini harus segera diselesaikan agar tidak menjadi api dalam sekam bagi masyarakat,” pungkas Neta. (nsp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *