Din Syamsudin, Habib Rizieq, dan Kang Jalal

waktu baca 4 menit

KEMPALAN: Tiga orang tokoh pergerakan Islam  itu beda generasi, berkiprah pada atmosfer berbeda, dan menghasilkan trajectory perjuangan yang berbeda pula.

Din Syamsudin, tak pelak, menjadi ikon perjuangan oposisi nasional baru sekarang ini, terutama oposisi yang berbasis pada gerakan Islam. Ketika gerakan oposisi mengalami void, kekosongan, Din muncul mengisinya. Namanya menjadi makin besar karena menjadi sasaran persekusi dan perundungan yang gelap mata beberapa waktu terakhir ini.

Habib Rizieq Shihab sudah berhasil diberangus akhir tahun lalu. Ia ditangkap, diborgol, dan ditahan. Organisasinya dibubarkan paksa dan sejumlah pengikutnya dibunuh. November lalu sejak balik dari eksile tiga tahun di Arab Saudi, Habib Rizieq menjadi instant hit yang membawa euforia besar di kalangan umat. Jutaan orang bergelombang menyambutnya dengan penuh semangat.

Kemampuan orasinya yang berapi-api mengisi kerinduan akan pemimpin yang berani dan artikulatif dan setiap pidatonya selalu menyedot perhatian dan menghipnotis massa. Habib Rizieq terlalu berbahaya untuk tetap dibiarkan berkeliaran. Kata Jusuf Kalla, Habib Rizieq mengisi kekosongan kepemimpinan umat. Amien Rais mengoreksi. Habib bukan mengisi kekosongan leadersip umat, tapi mengisi kerinduan umat akan kehadiran pemimpin yang berani.
Soal keberanian, tentu, saja Amien Rais sudah membuktikannya semasa gerakan Reformasi yang kemudian berhasil menumbangkan rezim otoritarian Soeharto yang sudah berkuasa 32 tahun. Tiap orang ada masanya dan tiap masa ada orangnya. Habib Rizieq mempunyai potensi besar untuk membawa perubahan seperti Reformasi 1998, karena itu gerakannya harus cepat dibunuh sebelum tumbuh terlalu besar.

Pada era Orde Baru yang begitu full power gerakan oposisi tidak punya ruang yang cukup untuk bernafas. Ketika itu pun yang menjadi potential enemy bagi rezim adalah gerakan Islam politik yang diwakili dalam bentuk partai-patai Islam. Standar operasi yang dilakukan rezim otoriter dari dulu sampai sekarang sama saja, tangkap dan penjarakan lalu organisasinya dibubarkan.

Trajektori gerakan oposisi Islam pun berubah dari Islam politik berbasis partai menjadi politik Islam berbasis gerakan intelektual. Maka bermunculanlah gerakan halaqoh kajian keislaman di berbagai kampus di kota-kota besar seperti Jogjakarta, Bandung, Surabaya, Jakarta. Lahirlah jargon politik yang terkenal dari Cak Nur, Noercholish Madjid, “Islam Yes, Partai Islam No”. Gerakan Islam berubah menjadi gerakan penyadaran.

Dari rahim gerakan inilah lahir pemikir-pemikir intelektual Islam berbasis pesantren dan kemudian mendapatkan rennaisance, pencerahan, dari Barat melalui pendidikan pasca-sarjana. Generasi pemikir itu memunculkan Cak Nur, Amien Rais, Gus Dur, dan kawan-kawan. Jalaluddin Rakhmat termasuk di dalamnya. Ia memberikan warna tersendiri bagi gerakan pencerahan Islam era Orde Baru. Setelah kembali dari pendidikan pasca-sarjana di Iowa, Amerika Serikat, Kang Jalal menceburkan diri dalam pergerakan pencerahan Islam. Gagasan-gagasannya mengenai kontekstualisasi dan aktualisasi pemikiran Islam tertuang dalam bukunya “Islam Aktual” (1988) menunjukkan intensitas pergumulannya dengan berbagai khazanah pemikiran Islam.

Pengembaraannya yang luas membawanya menjelajahi pemikiran berbagai intelektuan Islam sejak zaman abad pertengahan seperti Ibnu Rusydi, Ibnu Sina, dan Al Farabi, sampai ke para pemikir modern seperti Fazlur Rahman yang sangat memengaruhi para pemikir modernis Islam Indonesia. Pengembaraan Kang Jalal membawanya kepada pemikiran-pemikiran sufistik Al Ghazali dan Kang Jalal seperti terperangkap di dalamnya. Ia mendalami sufisme dan menjadi praktisi sufisme.

Pada titik inilah Kang Jalal terbawa pada pemikiran-pemikiran intelektual sufi dari Iran yang memang terkenal sebagai benteng besar sufisme. Tidak mengherankan kalau kemudian ide-ide syiah sangat memengaruhi pemikirannya. Sebagaimana banyak intelektual Barat, seperti Frithjof Schuon, yang tertarik pada sufisme Islam dan mengembara ke Iran  kemudian masuk Islam dan mendalami Syiah, Kang Jalal pun mendalami dan memraktikkan Syiah sampai kemudian menjadi orang nomor satu dalam gerakan Syiah Indonesia dengan mendirikan Ijabi (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia). Pada titik inilah Kang Jalal kemudian dianggap menyimpang dari Islam mainstream. Pengembaraan intelektualnya yang tidak pernah terpuaskan akhirnya sampai pada penemuan Syiah yang sangat mungkin bukan terminal terakhir bagi perjalanan intelektualnya seandainya ia tidak dihentikan oleh umur.

Generasi Kang Jalal memberi warna tersendiri pada gerakan intelektual Islam di Indonesia. Amien Rais adalah pejuang seangkatan pada era yang sama dengan Kang Jalal. Amien adalah Sisa-Sisa Laskar Pajang dan The Last of the Mohicans yang tetap memberi warna pada gerakan politik Islam sekarang.

Tongkat estafet beralih, dan Din Syamsudin sekarang yang membawanya. Ia menjadi ikon pemersatu gerakan oposisi berbasis Islam yang kehilangan inspirasi sejak Habib Rizieq ditahan. Din punya potensi yang dahsyat sebagai pemimpin oposisi karena mempunyai basis yang komplet sebagai intelektual dan pemimpin pergerakan. Tidak gampang memberangus Din seperti rezim memberangus Habib Rizieq, setidaknya rezim Jokowi menghindari clash terbuka dengan Din karena risikonya yang sangat besar.
Rezim Jokowi cepat-cepat mengambil jarak dari gerakan persekusi terhadap Din yang dilakukan oleh sekelompok orang secara acak dan untung-untungan. Gerakan persekusi terhadap Din belakangan ini tidak bakal bisa menghentikan pengaruh Din, malah sebaliknya akan membuatnya semakin besar. Ibarat balon, makin ditekan makin besar dan bisa meledak setiap saat menjadi gerakan yang membahayakan rezim. Jokowi tahu persis megenai hal itu. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *