Selasa, 28 April 2026, pukul : 09:32 WIB
Surabaya
--°C

Glorifikasi Uni Soviet oleh Pemikir Marxis India, Kiri Tak Selalu Kritis ke Sesamanya

Judul buku: Bintang Merah Menerangi Dunia Ketiga
Penulis: Vijay Prashad
Penerjemah: Ronny Agustinus
Peresensi: Reza Hikam
Penerbit: Marjin Kiri
Tebal buku: viii+137 halaman
Tahun terbit: 2020

Bicara tentang Marxisme pasti pernah mendengar nama Vijay Prashad. Seorang pemikir berhaluan kiri yang pernah mengajar di Trinity College dan American University of Beirut. Ia adalah Marxis abad 21 yang produktif menghasilkan karya dengan pendekatan kesejarahan, salah satunya adalah buku ini.

Bintang Merah Menerangi Dunia Ketiga mengulas tentang keberadaan pemikiran kiri yang bermunculan di negara-negara berkembang atau yang baru saja merdeka. Buku terjemahan Ronny Agustinus ini akan membawa kita menyelami peristiwa penting yang membuat komunisme bermekaran di dunia ketiga.

Namun dimulai dengan awal yang kurang menarik, karena upaya mengglorifikasi Uni Soviet dan Lenin oleh penulis tidak dibarengi dengan pandangan kritis yang harusnya dianut oleh seorang Marxis. Bagian awal ini didominasi oleh pujian yang berlebih terhadap Lenin.

Meskipun memuat fakta bagaimana Revolusi Oktober 1917 menginspirasi negara lain beserta tokoh-tokohnya, interpretasi yang melulu positif dari Vijay menghilangkan nuansa kritis yang harusnya dibawa oleh pemikir dari Partai “Komunis” India.

Namun cukup menarik bagaimana si penulis membangun kembali kisah tersebarnya pemikiran komunisme ke negara dunia ketiga yang dibawa oleh para pemikir sekaligus aktivis komunis. Adapun medium utama tersebarnya semangat perlawanan dimulai dengan tersebarnya berita revolusi Rusia tersebut.

Vijay juga menuliskan bagaimana peranan para seniman dalam menyebarkan semangat perlawanan, apalagi perlawanan tersebut harus dibangkitkan di negara yang mayoritas penduduknya masih buta huruf, maka seni visual dan teater menjadi mesin yang tepat untuk memperkenalkan ide-ide revolusioner.

Pada lembar lainnya, Prashad mengulas tentang kaum buruh dan tani yang menjadi tulang punggung kaum komunis. Bagi penulis, mereka yang harus pertama-tama mendapatkan manfaat dari revolusi yang digulirkan, terutama berkaitan dengan pengetahuan.

Bab selanjutnya mengupas bagaimana Rusia yang sudah menjadi republik sosialis menjadi idola bagi para “komunis” di negara dunia ketiga. Pada bagian inilah Tan Malaka disebutkan dan pandangannya yang menyarankan untuk bekerjasama dengan kelompok Pan-Islamisme. Turut disebutkan sejumlah pemikir Islam berhaluan kiri seperti Muzaffar Ahmad yang juga menginginkan hal serupa. Apa yang diajukan Tan ditolak oleh Komintern karena pertimbangan ada ulama’ kolot dalam kelompok Islam yang bekerja sama dengan kelompok kanan reaksioner. Di sini Komintern melupakan keberadaan Ulama’ modern anti-imperialisme seperti Jamaluddin Al-Afgani.

Namun dalam buku ini terdapat penjelasan menarik tentang “kompradorisme,” sebuah istilah yang menggambarkan kapitalis pribumi yang menghamba pada imperialisme asing. Istilah itu muncul dari Portugis, di mana mereka menggunakan pedangang non-Portugis (pribumi) untuk membeli komoditas di negaranya dan menyimpannya agar nantinya bisa dibeli oleh Portugis. Vijay menggambarkan pemerintahan Karensky sebagai komprador yang menghamba pada imperialisme Rusia dan koneksi asingnya.

Kasus yang cukup menarik, yang diulas oleh Vijay, adalah pribumisasi dari komunisme, dengan contoh Peru dan India. Nampaknya di negara Dunia Ketiga, yang tertarik dengan ide pembebasan awal abad keduapuluh ini harus disesuaikan dengan gagasan yang sudah berkembang di suatu negara.

Usai membahas banyak hal berkenaan dengan permasalahan universal, penulis buku ini melirik permasalahan kesetaraan jender yang diawali di Baku, di mana dari 2.000 delegasi, hanya ada 55 delegasi perempuan. Dalam bagian ini, disebutkan nama salah satu komunis perempuan terkenal, Alexandra Kollontai yang pernah menjadi ketua Departemen Perempuan.

Keberlanjutan dari kumpulan cerita kiri ini bergerak kepada ranah partai. Pada bagian ini, Partai Komunis Uni Soviet sudah tidak bisa dijadikan tauladan karena invasi Soviet ke Hongaria. Partai Komunis India terpecah gara-gara invasi itu dan muncul Partai Komunis India (Marxis), sedangkan Partai Komunis Indonesia mencari jalannya sendiri dan menemukan akhirnya ditahun 1965.

Ditutup dengan renungan tentang komunisme, buku ini didasarkan pada harapan bahwa pemikiran itu masih ada pasca keruntuhan Uni Soviet. Pada akhirnya Soviet yang menjadi tauladan pun berubah menjadi monster. Banyak hal negatif yang lupa disampaikan Vijay di sini, salah satunya invasi Soviet atas Afghanistan.

Meskipun tidak terlalu kritis, namun buku ini tetap menawarkan kisah yang menarik berkenaan dengan pemikiran kiri yang dibawa oleh Soviet. Karya Vijay ini dibanderol dengan harga 55.000 rupiah. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.