Konsumen Indonesia: Politik dan Marketing Jangan Dicampurkan
JAKARTA-KEMPALAN: Campaign bersama dengan YouGov melakukan riset untuk mengetahui bagaimana perilaku responden di Asia Pasifik. Total 18.929 responden ambil bagian dalam survei. Sebanyak 5.620 di antara mereka dari Asia Pasifik.
Salah satu pertanyaan survei pemasaran adalah seberapa cocok sebuah merek (brand) mengikutkan isu politik dalam aktivitas pemasaran mereka? Dapatkah kita memisahkan politik dari marketing? Sebanyak 54% responden di India mengatakan cocok bagi merek untuk terlibat dalam politik pada aktivitas pemasaran mereka.
Di sisi lain, sebagian besar responden dari China—70% persisnya—menilai mencampurkan politik dengan pemasaran adalah tidak cocok. Dengan struktur sosial dan pemerintahan Negeri Tirai Bambu yang dikuasai Partai Komunis China dan aspek bisnis dan komersial berjalan terpisah, tidak heran jika masyarakatnya cenderung tidak permisif terhadap blending antara aktivitas pemasaran dengan isu sosial dan politik.
Sementara untuk Indonesia, hanya 9% responden menilai kegiatan komunikasi pemasaran sangat cocok dibaurkan dengan isu politik serta 30% di antara responden memandang komunikasi pemasaran cukup pas dibaurkan dengan isu politik. Sebanyak 31% dan 20% responden di Tanah Air justru memandang aktivitas komunikasi pemasaran tak bisa dan sangat tidak cocok dicampurkan dengan isu politik.
Secara umum di global market, sentimen konsumen terhadap political marketing memang terlihat negatif dan konsumen menilai kurang cocok dipraktikkan untuk aktivitas komunikasi pemasaran produk dan jasa komersial. (campaignasia)









