Napak Tilas Pejuang Islam Kesultanan Seljuk
Judul buku: Imaduddin Zanki
Penulis: Handri Satria & Sayf Muhammad Isa
Penerbit: Salsabila
Tebal buku: 164 halaman
Tahun terbit: 2021
Kisah Imaduddin Zanki adalah kisah perjuangan mempertahankan kedaulatan Islam dan kerajaan-kerajaan di bawahnya. Namanya mungkin tidak setenar Shalahuddin Al-Ayyubi, tapi ia adalah peletak dasar persatuan Islam di masa genting.
Berawal dari kisah ayahnya, Aq-Sunqur, komik ini menceritakan sepak terjang seorang pengikut Sultan Seljuk Malik Syah yang naik ke panggung politik dengan upayanya sendiri tanpa mengandalkan keturunan ataupun kedekatannya dengan sang sultan.
Diceritakan bahwa Sunqur pernah menolong nyawa Malik Syah ketika sedang berburu. Ia terluka dan harus diobati hingga Malik akhirnya diangkat sebagai sultan ketika ayahnya, Alp Arslan yang ternama, syahid dalam sebuah pertempuran.
Malik Syah yang digambarkan sebagai pemimpin adil dan bijaksana memberikan posisi wazir (menteri/penasehat) kepada ayah Imaduddin Zanki dengan gelar Qasim Ad-Daulah bersama. Di sisi lain, adik sang sultan, Tutush yang ambisius menerima gelar Tajud Daulah.
Suatu ketika, pada saat sang sultan, adiknya dan Sunqur berkumpul, datang kabar bahwa Mosul dalam keadaan yang menyedihkan karena dipimpin oleh seorang zalim bernama Navis bin Bardan Al-Uqaili dari Bani Uqail. Berita ini dibawa oleh para pengungsi dari Mosul yang melarikan diri karena sudah tidak tahan berada di kota tersebut.
Meskipun Tutush menyarankan untuk langsung menyerang Mosul, namun Malik dan Sunqur bersepakat untuk menyelidiki terlebih dahulu nasib para penduduk di sana sebagai langkah bertabayun. Diutuslah Sunqur dan pengawalnya Ekram untuk menyelidiki kondisi Mosul yang memang benar sedang dalam keadaan genting.
Sekembalinya dari Mosul dan menyampaikan berita mengenai situasi kota tersebut kepada sang sultan, Sunqur ditugasi untuk merebut kota Syam tersebut. Kemenangan ada di tangan ayah Imaduddin dan Navis dikalahkan.
Usai peperangan, Malik memberikan Mosul kepada Kerbogha, keputusan yang sempat ditentang oleh Tutush yang menganggap bahwa Sunqur seharusnya yang mendapat kehormatan untuk mengelola Mosul. Meskipun begitu, Sunqur tetap menerima keputusan sang sultan tanpa kekecewaan sedikitpun.
Tidak seberapa lama, Aleppo yang dipimpin oleh saudara Navis, Hafizh, juga ditaklukkan oleh Sunqur karena alasan yang sama: kezaliman pemimpinnya. Keberhasilan Sunqur yang kedua kalinya menjadikannya sebagai pemimpin Aleppo. Mulailah awal keamiran Zankiyah di bawah sang Qasim Daulah.
Pada masa perjuangan ayahnya untuk membebaskan Mosul inilah, Imaduddin Zanki lahir. Selepas Sunqur diangkat sebagai amir Aleppo, segera ia bersama keluarganya pindah ke sana. Imaduddin besar di Aleppo di bawah naungan ayahnya.
Ketika Imaduddin berumur 10 tahun, ayahnya diminta Tutush untuk berangkat bersamanya menyerbu Tripoli yang menurut adik sang sultan itu telah membangkang terhadap kesultanan Seljuk. Dalam pertempuran ini, Sunqur dibunuh oleh Tutush.
Usai kejadian nahas tersebut, Zanki di bawa ibunya ke Mosul di bawah perlindungan Kerbogha, amir kota itu. Setelah wafatnya Sultan Malik Syah, menapaki jalan ayahnya, Imaduddin Zanki mengabdi kepada anak sang sultan, Berkyaruq.
Pasca kematian Sultan Malik Syah, Tutush segera mengambil alih kekuasaan dan mengangkat dirinya sebagai sultan. Di sisi lain, Berkyaruq dan Zanki berangkat ke Khurasan untuk mengambil takhta dari Tutush, karena wasiat terakhir Malik adalah memberikan singgasananya kepada sang anak.
Ketika kedua pasukan, baik dari kubu Berkyaruq maupun Tutush berhadapan, strategi yang digunakan Imaduddin adalah duel antara dirinya dan Tutush yang pastinya dimenangkan oleh tokoh utama dalam komik ini. Alih-alih membunuhnya, Zanki mengampuni Tutush.
Selanjutnya bisa para pembaca ketahui bagaimana pasukan salib merebut Al-Quds/Yerusalem. Namun Imaduddin Zanki bersama tuannya, Amir Maudud sang pemimpin Mosul yang baru berhasil mengalahkan pasukan salib ketika akan merebut Tiberias.
Dalam pertempuran ini, sang amir Mosul mati syahid, dan Zanki diangkat sebagai amir yang baru untuk kota itu. Mosul menjadi modal utama dinasti Zankiyah dalam membebaskan Syam dan Mesir dari cengkeraman pasukan salib.
Kisah ini dikemas dengan sederhana dan mudah dipahami, dilengkapi dengan ilustrasi ala komik yang menarik dari kedua penulis. Meskipun para tokoh terlihat seperti manga (komik ala Jepang), tapi amanat-amanat yang disampaikan oleh penulis dapat membantu untuk menanamkan keislaman bagi para pembacanya. Buku ini dibandrol seharga 73.000 rupiah.






