Bisnis Menuju New Normal: Skenario Menghadapi Tantangan

waktu baca 5 menit

Dr Putu Anom Mahadwartha

Dekan Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya

KEMPALAN.COM–Ketika mendengar istilah New Normal, sebagai pengajar di bidang bisnis maka bayangan pertama tentunya akan menuju pada praktik bisnis yang akan terjadi selama proses menuju New Normal ini. Secara harfiah tentunya kita bisa menyebutnya sebagai “proses menuju” karena untuk sesuatu yang baru, tidak ada istilah tiba-tiba New Normal. Secara umum akan terdapat 3 skenario besar dalam menuju New Normal. Skenario pertama adalah skenario best dimana dunia terbebas sepenuhnya dari Covid19. Vaksin sudah ditemukan, disebarkan, dan berdampak positif.

Vaksin juga bisa mengisolasi penyebaran dengan program vaksinasi semenjak bayi. Skenario kedua adalah skenario most likely dimana selama masa 12-18 bulan penyebaran Covid19, mampu dikontaminasi khususnya pada negara-negara dengan ekonomi maju dan berkembang, kemudian larangan semisal social distancing sudah dilonggarkan bahkan dicabut. Skenario ketiga adalah skenario worst, dimana dunia hidup dengan Covid19. Dalam skenario ini belum ditemukan vaksin, bisnis berjalan dengan tidak normal dan dipaksa menuju New Normal. Covid19 diperlakukan selayaknya flu, dengan mendorong herd immunity. Ekonomi akan melemah, dan prospek bisnis akan turun.

Sebagai bagian dari proses maka dunia bisnis akan melakukan sifat adaptif yang bisa dimaknai secara teoritis akan menunjukan adanya proses non-kontaminasi dan kontaminasi. Apakah proses non-kontaminasi dan kontaminasi? Dalam proses non-kontaminasi maka dunia bisnis akan menjalankan proses bisnis seperti biasa khususnya untuk proses bisnis yang tidak terpengaruh dengan perubahan menuju New Normal. Misalnya proses menjaring konsumen dengan jejaring pemasaran yang sudah ada. Sebuah online shop tentu tetap akan menyapa calon konsumennya dengan iklan di media social, atau secara direct message. Proses selanjutnya adalah kontaminasi, proses ini yang krusial menuju kepada New Normal, karena pebisnis akan mulai menyesuaikan proses bisnis yang ada dengan kondisi baru, mulai mencari peluang, mencoba peluang baru, atau menghindari pasar tertentu dengan tujuan efisiensi.

Dari analisis tiga skenario diatas, dan proses menuju New Normal dengan non-kontaminasi dan kontaminasi maka pertanyaan selanjutnya apakah yang bisa dilakukan oleh dunia Bisnis dalam menghadapinya. Pijakan pertama tentunya pada tiga skenario diatas. Tulisannya mencoba menjadi penengah dengan mengambil basis skenario yang kemungkinan akan terjadi yaitu skenario most likely, dan sekaligus bersiap untuk skenario worst.

Kedua skenario ini bila digabungkan akan mengkondisikan bahwa ditemukan vaksin, namun penyebaran vaksin lambat dan hanya pada negara-negara maju dan berkembang, dunia medis masih berkutat dengan proses penyembuhan karena obat secara sahih belum teruji bagi yang sudah terinfeksi. Imunitas Herd (kelompok) dipaksakan untuk terjadi, dimana larangan-larangan selama Pandemi mulai dikurangi agar ekonomi mampu distabilkan (atau tidak bertambah parah). Social distancing tetap dilakukan secara longgar. Skenario ini berada dalam kisaran jangka waktu satu sampai dua tahun kedepan.

Kondisi awal yang sudah terbentuk dalam bisnis bisa membantu pebisnis menyiapkan strategi. Kondisi awal itu antara lain bahwa dunia sudah converge selama ini, alias dunia yang sudah sangat pudar batas antar negara, antar pesaing dan non-pesaing, serta kebijakan ekonomi negara yang belum mampu mengurangi social inequality. Namun ada yang berubah dari kondisi awal tersebut khususnya berkaitan dengan isu globalist dan localist.

Bila sebelum New Normal, kita biasa mendengar isu globalist mengenai isu-isu global warming, isu lingkungan hidup, isu energi terbarukan, korupsi dan governance maka saat ini localist akan menunjukan adanya isu-isu sosial berkaitan hidup sehari-hari, dan ketahanan komunitas dalam menghadapi pandemic. Gabungan skenario most likely dan worst ini dan pergeseran isu antar globalist dan localist membawa dampak redefinisi beberapa faktor-faktor bisnis khususnya berkaitan dengan proses kontaminasi.

Proses kontaminasi dan adaptif dalam Bisnis akan meliputi beberapa hal yang menjadi acuan bila Bisnis mengasumsikan bahwa skenario most likely dan worst akan terjadi dimasa depan. Faktor pertama yang akan menjadi prioritas adalah redefinisi produktivitas. Redefinisi produktivitas akan mengacu pada penggunaan teknologi, termasuk didalamnya otomatisasi. Misalnya manufaktur padat karya akan mengalami kendala dengan adanya social distancing, yang menyebabkan jumlah pekerja secara langsung akan berkurang, namun disisi lain produktivitas haruslah sama dengan sebelum New Normal.

Maka otomatisasi akan menjadi pilihan strategis. Perusahaan cenderung tidak memprioritaskan skema ESG atau Environmental, Social, dan Governance dalam proses bisnis untuk mengejar produkstivitas. Apalagi skenario ini juga membawa isu-isu localist yang lebih pragmatis. Sektor pemerintahan juga akan mengalami proses kontaminasi yang selanjutnya membawa pada redefinisi produktivitas. Namun sebagai regulator maka kebijakan yang dilakukan tidak akan sedrastis sektor bisnis.

Faktor kedua berkaitan dengan kebijakan bisnis yang bertendensi mengubah pasar secara gradual. Maka factor ini disebut redefinisi pasar yang bagian integralnya berkaitan dengan kebijakan-kebijakan localist yang lebih menekankan pada kepentingan perusahaan dan negara (bila cakupannya lebih luas) khususnya pada sektor-sektor strategis. Akan terjadi strategi market concentration dengan kondisi terburuk bail-out bisnis maka ada kemungkinan nasionalisasi atas bisnis. Pemerintah akan mengetatkan pembayaran pajak, untuk melunasi utang dan menjaga rasio utang.

Utang pemerintah akan banyak berada pada kondisi penjaga kebijakan “keadilan sosial” dimana ini sebenarnya tidak feasible secara bisnis namun feasible secara social. Arah pengembangan rantai pasok, dan logistik akan berfokus pada lokal dan regional, karena dorongan untuk melakukan efisiensi sangat kuat, selain karena tekanan strategi market concentration. Model bisnis yang dikembangkan startup juga akan terkontaminasi dengan sendirinya karena tekanan efisiensi akan lebih kuat dibandingkan pertumbuhan bisnis yang masif untuk menarik investor besar.

Faktor terakhir dalamm tulisan ini berkaitan dengan redefinisi dari fungsi korporasi atau bisnis. Redefinisi fungsi korporasi erat kaitannya dengan proses bisnis yang berubah seiring menuju New Normal, sudut pandang localist yang semakin kuat, tekanan regulator melalui kebijakan publik, dan sisi pragmatism bisnis yang semakin menguat. Fungsi bisnis terdefinisi sebagai bagian dari proses pembentukan safety net bagi stakeholder dan shareholder mereka, kemudian akan mengarah pada capain-capaian bisnis jangka pendek yang menekankan pada isu-isu localist, dan kurang berfokus pada isu-isu globalist.

Perusahaan akan mengadopsi sistem kerja yang mendorong kompetensi unik tenaga kerja, dengan fokus pada efisiensi, dan optimalisasi produktivitas. Pengembangan selanjutnya dari redefinisi fungsi korporasi akan mengarah pada penyelarasan “man and machine workforce”. Proses detailnya akan mengorbankan pasar global dan fokus bisnis mengarah pada pasar domestik dan local.

Menjadi catatan bahwa tulisan ini bukan menjadi bagian pesimisme namun memberikan gambaran apa yang akan terjadi bila gabungan skenario most likely dan worst terjadi saat bisnis menuju New Normal. (Dr Putu Anom Mahadwartha–Dekan Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *