Selasa, 5 Mei 2026, pukul : 22:48 WIB
Surabaya
--°C

Menanti Dampak Psikologi, Ekonomi, dan Kesehatan Vaksin (2)

Vaksin sudah diluncurkan. Di seluruh dunia. Di Indonesia juga sudah. Pun di Surabaya. Walaupun jumlahnya masih sangat sedikit. Pertanyaannya: kalau sudah divaksin, apakah berarti sudah aman untuk bepergian ke seluruh dunia? Industri pariwisata tentu dengan gembira menjawab iya. Industri ini, bersama-sama dengan bisnis travel, perhotelan, entertainment termasuk yang paling terpuruk di antara para industri dan bisnis lain setelah diterpa pandemi Covid-19.

Vaksin Covid-19 akan disambut bak pahlawan oleh industri dan bisnis yang mengharuskan perputaran roda bisnis berlangsung dengan tatap muka dan interaksi intensif langsung lainnya. Selama pandemi ini, apalagi selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB) atau kini menjadi pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Jawa-Bali dengan sejumlah revisi kecil setelah ganti istilah, industri-industri tersebut mengalami kemerosotan sangat signifikan.

Pun, PPKM Jawa Bali 11-25 Januari 2021 itu menjadi tarik-ulur sejumlah peraturannya. Awalnya, pemerintah pusat menetapkan jam buka pusat perbelanjaan hingga pukul 19.00 WIB. Namun, pada akhirnya, sejumlah pemerintah daerah—seperti Kota Surabaya–memundurkannya menjadi pukul 20.00 WIB.

Wajar jika para pengusaha mal tampak kebakaran jenggot dengan penutupan pukul 19.00 itu. Selisih waktu satu jam sangat berarti. Jam-jam itu adalah jam-jam premium bagi bisnis resto dan café yang menjadi andalan banyak pusat belanja di Tanah Air. Waktunya makan malam. Terlebih setelah banyak pusat belanja menggeser (shifting) pangsa pasarnya dari pusat ritel menjadi lifestyle center. Fenomena wajar setelah e-dagang makin marak akibat pembatasan mobilitas selama pandemi. Pun, Asosiasi Pusat Belanja Indonesia mengakui tingkat kunjungan re-rata nasional ke pusat belanja selama PSBB/PPKM merosot hingga 50 persen.

Bloomberg menukil data terkini dari World Travel and Tourism Council, yang diterbitkan awal November lalu, pembatasan perjalanan yang disebabkan oleh pandemi virus corona diproyeksikan menyapu bersih 4,7 trilliun dollar AS dari produk domestik global yang dihasilkan selama 2020 saja.

Namun, para profesional medis masih mendesak keras: individu-individu yang telah divaksinasi Covid-19 harus tetap menjaga protokol kesehatan. Dengan disiplin. Peringatannya: vaksin tidak 100% efektif. Butuh berminggu-minggu membangun imunitas (setelah vaksinasi kedua). Masih sangat sedikit pengetahuan mengenai kemampuan menularkan Covid-19, bahkan setelah imunisasi. Kekebalan kawanan (herd immunity) masih jauh.

Konsensus para dokter, risiko tetap ada. Namun, kebebasan bermobilitas bisa ditingkatkan secara aman. Orang-orang dengan proteksi vaksin yang sudah aktif dapat berpergian dengan relatif aman.

Pertanyaan merujuk pada satu titik: uji klinis untuk vaksin yang saat ini disetujui, termasuk yang berasal dari Pfizer dan Moderna, tidak mengikutkan uji PCR reguler dari relawan penelitian. “Tanpa data tentang kemampuan relawan ini membawa virus, hanya dapat disimpulkan bahwa vaksin memberikan perlindungan efektif 95% untuk infeksi dengan gejala,” ujar Dr. Kristin Englund, spesialis penyakit infeksi di Cleveland Clinic kepada Bloomberg.

Untuk Sinovac, vaksin yang kini digunakan di Tanah Air, efektivitasnya lebih rendah: sekitar 65 persen. Artinya, ketika melakukan travelling misalnya, kita tidak tahu siapa di antara penerima vaksin yang menjadi 35 persen tanpa proteksi itu.

Memang, masih banyak titik gelap yang belum diketahui. Namun, vaksinasi Covid-19 adalah sebuah titik terang di ujung lorong gelap. Titik harapan. Dengan segala risikonya tentu saja.

Atas risiko itu, negara sudah menyatakan akan bertanggung jawab jika ada kejadian ikutan pasca-imunisasi (KIPI) atau efek samping yang dialami oleh penerima vaksin Covid-19. Hal tersebut ditegaskan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Budi mengatakan, pemerintah sudah menyiapkan komite di tingkat nasional dan daerah untuk menangani KIPI. “Sudah ada komite daerah dan komite nasional untuk menangani KIPI. Kita akan mengikuti prosedurnya,” kata Budi dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR, Kamis (14/1/2021).

Selamat menunggu giliran divaksin. Semoga itu menjadi titik terang kekebalan komunitas (herd community) yang selama ini kita tunggu-tunggu bersama sejak Maret 2020. (FREDDY MUTIARA—kolumnis kempalan.com & dosen Fakultas Bisnis Ekonomika UBAYA)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.