Mungkin konflik internal AD ini dimanfaatkan oleh apa yang disebut Perwira Progresif Revolusioner merancang G30S binaan PKI. Seusai pemakaman para jendral korban, ibu Yani jatuh pingsan di depan Jenderal Nasution.
Oleh: Drs. M. Hatta Taliwang, MIKom
KEMPALAN: Ketika menjelang berhenti sebagai KSAD,Nasution setelah menjabat KSAD selama lebih kurang 10 tahun, AH Nasution mengajukan 4 nama ke Presiden Soekarno untuk menjadi penggantinya:
1. Letjen Gatot Soebroto; 2. Mayjen Soeharto; 3. Mayjen A Yani; 4. Mayjen R Soedirman (ayahnya Basofi Soedirman).
Soekarno memilih A Yani. Gatot Soebroto dianggap sudah terlalu senior. Soeharto diduga kecewa karena merasa lebih senior dari A Yani. R Soedirman tak terdengar reaksinya.
Sejak saat itu A Yani mentereng karirnya. KSAD disebut sebagai Menteri/Panglima TNI AD. Menjadi Kastaf Komando Tertinggi (KOTI) di bawah Presiden Soekarno sebagai Panglima Tertinggi ABRI.
Sementara Nasution “terlempar ke atas” sebagai Menko Hankam/Kepala Staf Angkatan Bersenjata (tak menguasai pasukan lagi, hanya urusan administrasi). “Terlempar ke atasnya” Nasution diduga hasil lobi PKI yang saat itu sangat benci dengan Nasution yang keras anti PKI.
Sementara Soekarno sedang gencar mempromosi ide Nasakom (Nasional Agama Komunis) yang didukung kuat oleh PKI.
Diduga Nasution yang saat itu berusia lebih kurang 44 tahun kecewa. Mungkin berharap jadi Panglima ABRI dalam struktur yang dia bayangkan atau minimal sebagai Kas Koti mengingat jasa jasanya merebut Irian Barat, mengorganisir kembali ke UUD 1945, Nasionalisasi perusahaan Belanda, membangun fasilitas struktur dan kultur TNI AD, memperkenalkan konsep Jalan Tengah TNI sehingga TNI tak tergoda kudeta seperti trend militer di Asia, Afrika dan Amerika Latin waktu itu, ikut mendirikan Sekber Golkar, memimpin Operasi Budhi dan Paran dalam rangka memberantas korupsi, memadamkan PRRI, DI/TII dll.
Jendral A Yani mengganti Jenderal AH Nasution sebagai KSAD sekitar Juni 1962. A Yani adalah Deputi AD yang dipercaya oleh Nasution.Prestasinya bagus seperti mengatasi PRRI.
Namun dalam hubungan mereka ada juga korsluitingnya misalnya:
1. Yani melakukkan penggantian beberapa Pangdam tanpa diskusi dengan Nasution.
2. Gaya hidup A Yani yang parlente pada eranya berbeda denga Nasution yang sederhana dan puritan. Nasution pernah menegur Yani soal kepemilikan villa di Puncak. Sesuatu yang tergolong mewah untuk tentara pada era itu.
3. A Yani sebagai orang Jawa menempatkan Soekarno sebagai bapak, sementara Nasution yang tidak suka terhadap Soekarno karena memberi angin kepada PKI bersikap dingin dan zakelijk.
Nasution mengorganisir perlawanan terhadap PKI seperti membentuk Hansip, Menwa, Pergururuan Tinggi Islam, Harian Angkatan Bersenjata, PAB, Harian Berita Yudha dll.
Saat itu Yani adalah Menteri/Panglima AD yang menguasai pasukan, sementara Nasution ketika itu adalah Menko Hankam/KASAB, jabatan mentereng tapi tanpa menguasai pasukan.
4. Suatu saat Nasution yang tak pegang komando memerintahkan Kolonel Hasan Basri yang Panglima di Kalimantan melakukan operasi intelijen dalam kaitannya dengan Dwikora. Ini membuat A Yani marah ke Nasution. Karena Nasution tidak berwewenang mengerahkan pasukan. Apa pertimbangan Nasution tentu saja kita harus baca dalam memoarnya.
5. Suatu ketika Nasution sebagai Ketua Penertiban Aparatur Negara (PARAN) memerintahkan untuk menyelidiki Markas AD. Yani marah lagi ke Nasution. Membuat Bung Karno memberhentikan operasi PARAN.
6. Dua hal tersebut pada poin 4 dan 5 di atas membuat Yani memerintahkan mencabut pengawalan atas, dan menurut Prof Salim Said, Yani akan menangkap Nasution dengan memerintahkan Mayjen Suprapto.
Namun senior-senior AD seperti R Soedirman, Sarbini, Soeharto dll melarang Yani melakukan itu sehingga penangkapan dibatalkan.
Pengawalan Nasution diambil alih oleh Kodam Siliwangi, Pangdam Ibrahim Adjie mengirim 1 peleton pengawal baru.
Mengutip ulasan Ulf Sundhaussen, Harold Crouch dll, Konflik antara Ahmad Yani dan Abdul Haris Nasution memang nyata, tetapi sering disederhanakan hanya sebagai konflik pribadi.
Padahal, jika ditarik lebih dalam, itu adalah konflik struktur kekuasaan, perbedaan strategi politik militer, dan perebutan pengaruh di sekitar Soekarno pada periode 1962–1965.
1. Latar Belakang Adalah “Dualisme Kekuasaan” di Tubuh AD
Setelah 1962, terjadi konfigurasi unik: A. Yani KSAD (penguasa pasukan nyata), Nasution Menko Hankam/KASAB (otoritas formal, tapi tanpa komando langsung)
Ini menciptakan situasi yang oleh banyak analis disebut: “dua matahari dalam Angkatan Darat”.
Masalah utamanya yaitu: Soekarno sengaja membagi kekuatan untuk mencegah kudeta militer. Sehingga AD jadi tidak solid secara komando strategis.
Jadi latar belakangan konflik bukan sekadar pribadi, tapi desain politik Soekarno.
2. Perbedaan Karakter dan Orientasi Politik
Gaya hidup dan kultur militer. Nasution adalah puritan, keras, intelektual. Arsitek “Dwifungsi ABRI”. Anti gaya hidup mewah.
Sementara Yani, lebih “field commander”, lebih dekat dengan gaya elit Jakarta dan dianggap sebagian perwira lebih pragmatis. Jadi Ini bukan sekadar gaya hidup, tapi mencerminkan.
Nasution sebagai militer ideologis. Yani sebagai militer operasional dan loyal ke Presiden.
3. Sikap terhadap Soekarno dan PKI
Ini titik konflik paling krusial. Yani loyal kepada Soekarno. Menolak PKI, tapi tidak konfrontatif, menjaga keseimbangan (tidak ingin bentrok langsung).
Sementara Nasution curiga keras terhadap PKI. Menganggap Soekarno terlalu memberi ruang PKI. Lebih siap untuk langkah keras.
4. Kasus Hasan Basri dalam Rangka Dwikora
Nasution memerintahkan operasi intelijen ke wilayah Kalimantan. Dilakukan tanpa koordinasi penuh dengan KSAD (Yani).
Bagi Yani Ini pelanggaran rantai komando. Bisa memicu konflik dengan Malaysia/Inggris tanpa kontrol.
Sementara bagi Nasution. Ini bagian dari fungsi strategis Hankam. Akhirnya ini menunjukkan konflik otoritas: “siapa sebenarnya pengendali militer?”
5. Kasus PARAN (Penertiban Aparatur Negara)
Nasution memerintahkan penyelidikan ke tubuh AD sendiri. Dampaknya Yani melihat ini sebagai “intervensi politik”, “ancaman terhadap stabilitas internal AD”.
Soekarno akhirnya menghentikan operasi ini. Artinya Soekarno lebih percaya Yani untuk stabilitas AD. Nasution mulai “dipinggirkan secara halus”.
6. Strategi Soekarno: Divide and Balance.
Soekarno tidak ingin AD terlalu kuat. Tidak ingin satu jenderal dominan. Maka Yani diberi komando pasukan. Nasution diberi posisi tinggi tapi “dikunci”. Ini menciptakan konflik struktural.
7. Persaingan Generasi Militer
Nasution adalah generasi perintis (revolusi). Yani adalah generasi berikutnya (profesionalisasi). Ada ketegangan senioritas vs efektivitas operasional.
8. Bayangan Kudeta dan Paranoid Politik
Periode 1963–1965 adalah periode ketegangan tinggi: PKI vs AD. Semua pihak saling curiga: Nasution curiga PKI, sementara Soekarno dan Yani curiga manuver politik di luar kontrolnya.
9. Menjelang 1965, Posisi Akhir Yani dan Nasution
Yani tetap KSAD, orang kepercayaan Soekarno. Menjadi target utama dalam Gerakan 30 September 1965.
Sementara Nasution secara politik melemah namun selamat dari penculikan G30S.
Kemudian bangkit kembali sebagai Ketua MPRS pasca 1965.
Mungkin konflik internal AD ini dimanfaatkan oleh apa yang disebut Perwira Progresif Revolusioner merancang G30S binaan PKI. Seusai pemakaman para jendral korban, ibu Yani jatuh pingsan di depan Jenderal Nasution.
Setelah tersadar berjanji akan menemui Jenderal Nasution di kediaman. Ketika bertemu di kemudian hari, Ibu Yani menyesalkan terjadi korsluiting hubungan Pak Yani dengan Pak Nas. Mungkin kalau selalu kompak tak akan terjadi tragedi luar biasa itu.
Wallahu ‘alam.
*) Drs. M. Hatta Taliwang, MIKom, Mahasiswa S3 Ilmu Politik UNAS, Mantan Anggota DPR/MPR RI

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi