Jumat, 17 April 2026, pukul : 09:32 WIB
Surabaya
--°C

Wacana “Goro-Goro” Tak Semudah Dibayangkan pada Era Digital

Hatta Taliwang. (Foto: Istimewa)

Kita harus memetakan kondisi sosiopolitik masyarakat dulu. Kaum elit dinilai sarat beban masa lalu sehingga sulit mengambil posisi tegas. Apalagi, kelas menengah cenderung oportunis dan tidak konsisten dalam perjuangan.

Oleh: Drs. M. Hatta Taliwang, MIKom

KEMPALAN: Bahwa ada wacana mengganti pemerintahan melalui gerakan “goro-goro” atau revolusi bukanlah perkara sederhana, terutama di tengah dinamika era digital saat ini.

Munculnya gagasan pelengseran kekuasaan di luar jalur konstitusi kerap dipicu oleh anggapan bahwa mekanisme formal seperti impeachment terlalu rumit dan sulit ditembus. Namun, ia menegaskan bahwa kondisi objektif dan subjektif untuk sebuah perubahan besar belum tentu terpenuhi.

Tidak mudah melakukan gerakan perubahan dalam era informasi digital seperti sekarang. Banyak variabel yang harus terpenuhi secara simultan.

Setidaknya ada lima faktor utama yang harus terjadi bersamaan agar perubahan rezim bisa berlangsung. Pertama, krisis ekonomi parah yang memicu kemarahan rakyat secara luas.

Kedua, konflik tajam di internal kekuasaan yang sulit didamaikan. Ketiga, oposisi yang solid dengan kepemimpinan kuat dan mampu menggerakkan massa.

Keempat, adanya tekanan atau dukungan dari kekuatan global yang memiliki kepentingan terhadap perubahan rezim. Dan kelima, adanya celah dalam konstitusi yang memungkinkan terjadinya pergantian kekuasaan.

Kalau variabel ini belum terpenuhi, maka wacana revolusi hanya akan menjadi isu tanpa kekuatan nyata.

Bahwa adanya perubahan besar dalam pola masyarakat sejak berkembangnya teknologi informasi. Begitu pula, dengan derasnya arus informasi justru membuat gerakan sosial sulit fokus dan terkonsolidasi.

Masyarakat diserbu berbagai isu setiap hari. Belum selesai satu isu, muncul isu lain. Ini membuat gerakan sulit membangun konsentrasi dan arah yang jelas.

Selain itu, masyarakat kini cenderung jenuh terhadap kegaduhan politik, sehingga muncul sikap apatis dan permisif terhadap berbagai persoalan bangsa.

Salah satu fenomena yang disorot adalah munculnya rasa percaya diri berlebihan di tengah masyarakat akibat kemudahan akses informasi. Banyak individu merasa setara dengan tokoh publik, sehingga sulit untuk membangun kepemimpinan yang diikuti secara luas.

Setiap orang merasa punya otoritas sendiri. Ini membuat sulitnya membangun barisan yang solid dalam sebuah gerakan perubahan.

Bahwa kaburnya nilai dan ideologi menjadi kendala serius. Perdebatan yang tak berujung membuat arah perjuangan tidak jelas, sementara berbagai tawaran solusi belum menemukan titik temu.

Apalagi, peran media massa arus utama yang belum juga sepenuhnya berpihak pada kepentingan rakyat, serta meredupnya peran kampus sebagai suatu agen perubahan sosial.

Faktor lain yang menjadi penghambat adalah menguatnya budaya transaksional di berbagai lini kehidupan. Bahkan isu strategis dan ideologis, menurutnya, kerap dipertukarkan dengan kepentingan pragmatis.

Ia juga menyoroti beratnya beban hidup para aktivis yang idealis, sehingga gerakan seringkali hanya sebatas wacana di media sosial tanpa aksi nyata di lapangan.

Kita harus memetakan kondisi sosiopolitik masyarakat dulu. Kaum elit dinilai sarat beban masa lalu sehingga sulit mengambil posisi tegas. Apalagi, kelas menengah cenderung oportunis dan tidak konsisten dalam perjuangan.

Sementara itu, rakyat di bawah seringkali pasrah dan mudah beradaptasi dengan kondisi yang ada.

Meski demikian, bahwa perubahan tetap merupakan keniscayaan dalam sejarah. Ia meyakini bahwa ketika sebuah rezim mencapai titik nadir, perubahan akan datang dengan caranya sendiri.

Mengutip pemikiran sejarawan Arnold Toynbee, bahwa perubahan besar selalu diawali oleh kelompok kecil yang kreatif.

Perubahan pasti terjadi, tapi dengan versi baru yang sesuai dengan zamannya. Dan biasanya dimulai oleh minoritas kreatif.

Contoh Kasus

Setidaknya ada 4 kasus yang sebelumnya diprediksi bisa memicu goro-goro. Tapi, ternyata tidak terjadi sama sekali.

1. Pembunuhan Letkol Purn M. Mubin yang penuh dengan rekayasa di Lembang dan Penusukan Kolonel Purn TNI Sugeng Waras adalah salah satu peristiwa yang diduga akan memicu goro-goro/kerusuhan besar, atau bahasa aktivis, bisa jadi bibit revolusi, namun ternyata berakhir adem ayem saja.

2. Peristiwa Kanjuruhan yang menimbulkan korban ratusan orang, diduga akan memicu kerusuhan besar, atau revolusi, ternyata berujung normal-normal saja. Tidak menjadi casus belli. Padahal itu terjadi di daerah yang katanya banyak orang Madura dan Arek-areknya.

3. Kerusuhan besar yang terjadi di Morowali karena ketidakadilan yang parah soal gaji TKA China denga TKI, diduga akan menjalar ke berbagai proyek yang banyak TKA China-nya, ternyata juga berakhir datar-datar saja dan situasi terkendali.

4. Peristiwa pembunuhan secara sadis 6 pengawal HRS bahkan penahanan HRS dengan pasal yang kontroversi, tak menggerakkan kemarahan massa 212 atau massa 411 yang jutaan itu.

*) Drs. M. Hatta Taliwang, MIKom, Mahasiswa S3 Ilmu Politik UNAS, Mantan Anggota DPR/MPR RI

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.