Selasa, 30 Juni 2026, pukul : 06:22 WIB
Surabaya
--°C

Selat Hormuz Dibuka Sejenak, Lalu Ditutup Lagi: Gencatan Senjata yang Hanya Bertahan 12 Jam

Situasi ini menimbulkan pertanyaan sederhana, tapi menggelisahkan. Jika gencatan senjata hanya bertahan 12 jam, apa arti komitmen diplomasi di tengah konflik seperti ini?

Oleh: Massayik IR

KEMPALAN: Situasi di kawasan Teluk kembali berputar cepat, nyaris seperti sakelar lampu yang dipencet naik-turun dalam hitungan jam. Iran sempat membuka kembali Selat Hormuz di bawah payung gencatan senjata, dan dua kapal tanker dilaporkan melintas tanpa gangguan.

Pasar minyak langsung bereaksi, harga sempat jatuh tajam seolah dunia menarik napas lega.

Namun jeda itu ternyata hanya seumur kopi panas di pagi hari. Beberapa jam kemudian, Israel melancarkan lebih dari seratus serangan ke Lebanon – eskalasi terbesar sejak konflik terakhir meletus.

Laporan awal telah menyebut ratusan korban jiwa dalam satu gelombang serangan, membuat situasi kembali memanas.

Respons Teheran tak butuh waktu lama. Selat Hormuz kembali ditutup, arus kapal tanker langsung tersendat. Dalam sekejap, maka jalur yang biasanya dilewati sekitar seperlima distribusi minyak dunia berubah seperti jalan tol yang mendadak ditutup tanpa pemberitahuan.

BACA JUGA  Escrow Account: Umrah Tanpa Bertaruh Nasib

Media seperti Al Jazeera melaporkan bahwa Iran kini mempertimbangkan untuk keluar sepenuhnya dari gencatan senjata. Sementara itu, laporan dari Shafaq News menyebut militer Iran mulai mengidentifikasi target di dalam wilayah Israel.

Jika ini benar, apakah kita sedang menyaksikan jeda sebelum badai yang lebih besar?

Di sisi lain, pernyataan dari Pete Hegseth yang menyebut Iran “memohon gencatan senjata” justru kontras dengan langkah terbaru Teheran. Narasi yang saling bertabrakan ini membuat publik global seperti menonton dua siaran berbeda dalam satu layar – mana yang harus dipercaya?

Dampaknya langsung terasa ke sektor energi global. Harga minyak yang sempat anjlok hingga hampir 20 persen kini kembali diliputi ketidakpastian. Sekitar 150 kapal sempat terjebak saat penutupan sebelumnya, dan lalu- lintas harian yang biasanya padat kini merosot drastis.

BACA JUGA  Jokowi Berani Tantang Prabowo dan Megawati

Efek domino mulai merembet ke berbagai negara. Di California, harga bensin menembus angka tinggi, sementara Jepang dikabarkan melepas cadangan energinya untuk meredam gejolak. Bahkan ada negara yang mulai mengatur ulang ritme kerja, seperti mengurangi hari kerja demi menghemat konsumsi energi.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan sederhana, tapi menggelisahkan. Jika gencatan senjata hanya bertahan 12 jam, apa arti komitmen diplomasi di tengah konflik seperti ini?

Jika satu serangan bisa langsung mengubah arah pasar global, seberapa rapuh sebenarnya sistem energi dunia?

Jika semua negara tahu jalur vital seperti Selat Hormuz di bawah kendali Iran, mengapa 46 tahun dunia mengisolasinya sendirian?

Untuk saat ini, dunia yang pernah mengucilkan Iran tampaknya hanya bisa menunggu – seperti penumpang menunggu di halte yang tak tahu apakah bus berikutnya akan datang, atau justru dibatalkan tanpa kabar.

*) Massayik IR, Pemerhati Politik Internasional

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.