Selasa, 26 Mei 2026, pukul : 22:44 WIB
Surabaya
--°C

Iran Menyebut Payung Keamanan Amerika Penuh Lubang

Seperti rumah yang atapnya mulai menetes ketika hujan deras, sebagian pihak mulai bertanya: apakah payung keamanan yang selama ini dianggap kokoh memang masih bisa diandalkan?

Oleh: Massayik IR

KEMPALAN: Pernyataan terbaru Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir-Abdollahian Araghchi, kembali memanaskan perdebatan soal keamanan di kawasan Teluk.

Ia menyebut apa yang selama ini dipromosikan sebagai “payung keamanan Amerika Serikat” ternyata memiliki banyak lubang. Alih-alih melindungi, menurutnya, sistem itu justru membuat kawasan semakin rentan terhadap konflik.

Komentar tersebut muncul di tengah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung selama beberapa pekan terakhir. Washington diketahui mengerahkan berbagai aset militer di kawasan, termasuk jaringan pangkalan di negara-negara Teluk.

Namun di saat yang sama, pemerintah AS juga disebut-sebut meminta bantuan sejumlah negara lain untuk menjaga keamanan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.

Selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu bukan jalur biasa. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati perairan tersebut setiap hari. Gangguan kecil saja bisa membuat pasar energi global bergetar seperti harga cabai di pasar tradisional menjelang Lebaran.

BACA JUGA  Keputusan Devisa Prabowo, Terkecuali Amerika

Dalam beberapa laporan diplomatik, AS bahkan disebut mencoba untuk melibatkan negara-negara lain – termasuk China – untuk membantu menstabilkan situasi di kawasan.

Jika benar, langkah ini memunculkan pertanyaan yang cukup tajam: mengapa negara dengan anggaran militer terbesar di dunia masih perlu memanggil “tetangga” untuk menjaga keamanan jalur yang selama ini berada dalam pengaruhnya?

Bagi Teheran, situasi ini menjadi bahan kritik. Araghchi menilai sistem keamanan yang dipimpin Washington selama ini lebih menyerupai payung bocor di musim hujan – tampak meyakinkan dari jauh, tetapi tidak terlalu membantu ketika hujan benar-benar turun.

Dalam pesannya kepada negara-negara Teluk, ia menyarankan agar mereka mempertimbangkan kembali ketergantungan pada kekuatan militer asing.

Pernyataan itu secara khusus ditujukan kepada negara-negara di kawasan seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain yang selama ini menjadi mitra keamanan Washington. Iran berargumen bahwa keberadaan pasukan luar justru sering memperbesar risiko konflik dibanding menguranginya.

Teheran juga menyinggung satu isu sensitif yang selama ini menjadi pusat dinamika politik Timur Tengah: dukungan kuat AS terhadap Israel. Dalam narasi Iran, kepentingan strategis Washington di kawasan Teluk kerap dikaitkan dengan perlindungan terhadap sekutunya tersebut.

BACA JUGA  Kertajati dan “Industri” Pertahanan AS: Mengancam Kedaulatan RI?

Pertanyaannya kemudian menjadi semakin menarik. Apakah sistem keamanan regional memang benar-benar dirancang untuk melindungi negara-negara Teluk? Ataukah ia lebih berfungsi sebagai pagar geopolitik bagi kepentingan yang lebih luas?

Bagi sebagian pengamat, debat ini sebenarnya bukan hal baru. Sejak dekade 1980-an, kehadiran militer AS di Teluk selalu memunculkan dua narasi yang bertolak belakang: satu melihatnya sebagai penjamin stabilitas, yang lain menilainya sebagai sumber ketegangan permanen.

Di tengah situasi global yang semakin multipolar, pernyataan Araghchi seolah menambah satu lapisan baru dalam perdebatan lama itu.

Seperti rumah yang atapnya mulai menetes ketika hujan deras, sebagian pihak mulai bertanya: apakah payung keamanan yang selama ini dianggap kokoh memang masih bisa diandalkan?

Atau justru waktunya mencari cara baru untuk menjaga kawasan tetap kering dari badai geopolitik.

*) Massayik IR, Pemerhati Politik Internasional

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.