KEMPALAN: Buku karya Amang Mawardi, yaitu “Biografi Puisi – Jiwa Tampak Rohan”, pada 13 Februari lalu diluncurkan di Gedung A. Azis PWI Jatim dalam rangkaian Hari Pers Nasional tingkat Provinsi Jawa Timur.
Selain buku karya Amang Mawardi tersebut, diluncurkan juga buku antologi puisi ke-8 dari komunitas Warumas (Wartawan Usia Emas) berjudul “Tanpa Jeda”.
Buku ke-18 Amang Mawardi ini berupa tinjauan atas buku kumpulan puisi tunggal ” Bicaralah yang Baik Baik” karya M. Rohanudin praktisi penyiaran yang pernah menjabat Direktur Utama RRI Pusat.
Dalam perspektif jurnalistik, Amang meninjau puisi-puisi Rohan di bukunya itu.
Berikut ini pengantar Prof. Dr. Soetanto Soephiady terhadap buku karya Amang Mawardi tersebut.
Personalitas Amang Mawardi dalam Buku “Biografi Puisi – Jiwa Tampak Rohan”
Adalah Jacob Bronowski seorang matematikawan, biolog, dan penulis Inggris kelahiran Polandia.
Brownoski dikenal antara lain karena serial dokumenter BBC “The Ascent of Man” yang membahas tentang evolusi manusia dan peran ilmu pengetahuan dalam sejarah manusia.
Bronowski juga dikenal sebagai penulis produktif dan telah menghasilkan beberapa buku, termasuk “Science and Human Values” dan “The Identity of Man”.
Dia dianggap sebagai salah satu tokoh yang paling berpengaruh dalam mempopulerkan ilmu pengetahuan dan mempromosikan pemahaman manusia tentang dirinya sendiri.
Dalam hubungan dengan buku karya Amang Mawardi berjudul “Biografi Puisi – Jiwa Tampak Rohan”, tersarikan paparan creativity (kreativitas) atas karya-karya sastra dalam bentuk puisi dari penyair : M. Rohanudin.
Dalam salah satu aspek kreativitas yang menyangkut kepenulisan, tentang creativity Brownoski menjelaskan bahwa karya sastra apapun bentuknya harus bersifat personal, yakni terkait erat dengan gagasan tentang keunikan individu, nilai-nilai kemanusiaan, dan tanggung jawab moral dalam konteks sains dan masyarakat.
Dalam hal ini, personal juga diartikan sebagai karya kreatif individual berlatar belakang nilai-nilai humanisme. Kreativitas personal menyangkut kaitannya dengan intelektualitas tinggi. Salah satu contoh, gaya tulisan Amang Mawardi telah menunjukkan jati dirinya yang tidak dimiliki oleh penulis lain. Kemelekatan jati diri, itulah salah satu ciri intelektualitas.
Dalam strategi kebudayaan, apa yang telah dibahas oleh Amang Mawardi merupakan jalinan antara kreativitas dengan konsep strategi kebudayaan.
Amang Mawardi di buku ini, meskipun menuansakan tulisan seorang jurnalis, tetapi masih berpegang pada konsep estetika, yakni cabang ilmu filsafat yang membahas tentang keindahan, seni, dan rasa, serta apresiasi manusia terhadapnya.
Pada judul tulisan “Menelaah ‘Sukarno Bapakku’, Membedah Patriotisme M. Rohanudin,” Amang Mawardi mampu memaparkan pikiran-pikiran yang estetik.
Sebagai Founding Father, Proklamator, dan Bapak Bangsa, nama Bung Karno sering dibahas dengan pro dan kontra, dan penulis mampu mengembangkan secara kreatif.
Sedangkan dalam tulisan berjudul “Puisi Bernyanyi ‘Sungai Ciliwung’, Otokritik Lingkungan Hidup,” Amang Mawardi berhasil mendeskripsikan tentang gagasan keunikan Sungai Ciliwung sebagai manifestasi pemikiran tentang lingkungan dalam rangkuman yang deskriptif, detil, namun jauh dari bertele-tele.
Akhirnya judul tulisan “Bahasa Paling Indah Adalah Puisi,” merupakan pemikiran orisinilitas personal serta kreativitas penulis, dalam hal ini adalah Amang Mawardi.
Nah, Amang Mawardi berhasil mendeskripsikan puisi M. Rohanudin berjudul “Bicaralah yang Baik-Baik” dalam tinjauan begitu indah bahwa orang yang mencintai karya sastra, khususnya puisi, sebagai sosok yang senantiasa mendambakan sastra. Sosok ini dipercaya sebagai humanis, menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.
Semoga dari tangan Mas Amang Mawardi bermunculan buku-buku sastra lainnya.(AM).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi