Bambang Haryo Dorong Konektivitas Transport Bandara Sibisa Dengan Pelabuhan Ajibata

waktu baca 3 menit
Kunjungan Bambang Haryo di Pelabuhan Ajibata Toba/Foto : Istimewa

Toba – Kunjungan Anggota DPR RI Bambang Haryo Soekartono ke Pelabuhan Penyeberangan ASDP Prapat di Labuhanbatu memunculkan seruan penting: menjadikan pelabuhan tersebut sebagai pusat ekonomi baru di kawasan Danau Toba. Menurutnya, pelabuhan yang terletak hanya lima kilometer dari Bandara Sibisa ini memiliki potensi strategis untuk menggerakkan perdagangan, pariwisata, dan industri jasa sekaligus.

Bambang Haryo menyampaikan bahwa integrasi antar-moda transportasi merupakan fondasi utama untuk membangun kawasan ekonomi yang hidup. Dengan akses udara dari Bandara Sibisa, akses darat dari Medan maupun kabupaten sekitar, serta akses air yang dilayani puluhan kapal penumpang dan kapal kendaraan, Pelabuhan Prapat berada di posisi ideal sebagai simpul utama pergerakan manusia dan barang.

Ia menilai bahwa ASDP telah menata pelabuhan ini dengan standar yang cukup tinggi. Terminal penumpang luas, fasilitas modern, serta kelengkapan infrastruktur dermaga membuat pelabuhan ini siap untuk dikembangkan lebih jauh. “Kalau kita bicara skala internasional, pelabuhan ini sebenarnya sudah sangat memenuhi syarat,” ujarnya.

Menurut Bambang Haryo, keberadaan pelabuhan ini bukan hanya untuk menyeberangkan penumpang ke Pulau Samosir atau destinasi lain, tetapi juga sebagai potensi pusat kegiatan ekonomi. Kawasan pelabuhan dapat menjadi pusat UMKM, sentra kuliner, area rekreasi, hingga lokasi pengembangan hotel dan tempat pertemuan berskala besar.

Ia menekankan bahwa udara sejuk di ketinggian 700 meter dpl merupakan modal wisata yang sangat menjual. Banyak negara memanfaatkan kawasan pelabuhan dan tepian danau sebagai ruang publik premium, dan Prapat memiliki semua syarat itu. Dengan penataan yang tepat, kawasan pelabuhan bisa menjadi magnet wisata baru, mendatangkan pendapatan bagi masyarakat lokal dan daerah.

Bambang Haryo juga menyoroti pentingnya mempersiapkan Bandara Sibisa agar kapasitasnya meningkat. Semakin banyak penerbangan, semakin besar potensi pergerakan wisatawan menuju Prapat. Dengan waktu tempuh yang hanya sekitar 15 menit dari bandara ke pelabuhan, kawasan ini sangat layak menjadi contoh integrasi transportasi nasional.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan pengembangan pelabuhan tidak hanya bergantung pada fasilitas fisik, tetapi juga manajemen, keamanan, dan promosi. Mengingat banyaknya kapal yang hilir-mudik di perairan Danau Toba, ia meminta agar aspek keselamatan pelayaran menjadi perhatian serius, termasuk pemeriksaan berkala terhadap kapal-kapal tradisional yang masih beroperasi.

Konsep kawasan ekonomi terpadu di Prapat, menurutnya, juga akan menarik investor. Hotel, restoran, pusat oleh-oleh, hingga layanan transportasi wisata dapat berkembang pesat bila pemerintah menyediakan regulasi yang mendukung. Ditambah lagi lokasi pelabuhan yang berada di pusat kota membuatnya sangat mudah diakses masyarakat dan wisatawan.

Bambang Haryo optimistis bahwa Danau Toba dapat menjadi ikon ekonomi baru Sumatera Utara. Dengan kolaborasi pemerintah, BUMN, swasta, dan masyarakat, Pelabuhan ASDP Prapat bisa menjadi wajah modern kawasan danau terbesar di Indonesia.

“Kita punya infrastruktur hebat di sini. Tinggal bagaimana kita memaksimalkan dan menjadikannya pusat ekonomi baru yang memberi manfaat bagi masyarakat luas,” tutup Bambang Haryo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *