KEMPALAN: Pati, 13 Agustus 2025. Alun-alun Pati hari ini bukan sekadar pusat kota, melainkan medan pertempuran rakyat melawan arogansi kekuasaan. Ribuan warga dari berbagai penjuru desa dan kota berduyun-duyun mengitari Pendopo Kabupaten Pati, menuntut satu hal yang tak bisa ditawar: Bupati Pati Sudewo harus lengser!
Dari atas mobil bak terbuka, Ahmad Husein, inisiator gerakan Aliansi Masyarakat Pati Bersatu, menggenggam mikrofon dan menyuarakan tuntutan dengan suara bergetar namun mantap. “Target kita jelas, tidak ada kompromi. Sudewo harus mundur hari ini! Kalau tidak, kita bertahan di sini sampai ada keputusan!” teriaknya, disambut dentuman pekik ribuan massa.
Di sisi lain, Syaiful Ayubi, sang orator yang dikenal santun namun tegas, mengingatkan massa agar tetap tertib. “Kita buktikan warga Pati santun, berakhlak, tapi teguh dalam tujuan. Jangan terprovokasi, jangan anarkis. Kita akan menang karena kita benar!” ujarnya.
Massa tidak datang dengan tangan kosong. Sejak subuh, truk-truk penuh logistik berdatangan, ribuan kardus air mineral, tumpukan pisang, semangka, hingga nasi bungkus yang dikirim dari pelosok desa, bahkan dari perantauan di luar pulau. Posko donasi di depan kantor bupati menjadi simbol gotong royong perlawanan, seperti dapur umum pejuang gerilya di masa revolusi.
AROGANSI MEMANTIK BARA
Kemurkaan rakyat bukan sekadar soal kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB-P2) hingga 250 persen yang kemudian dibatalkan. Akar kemarahan jauh lebih dalam yaitu kebijakan lima hari sekolah yang dianggap mengganggu pendidikan agama, pengelompokan sekolah yang mematikan peluang kerja guru honorer, pemecatan karyawan RSUD tanpa pesangon, pembubaran paksa posko donasi, hingga ucapan Sudewo yang menantang warganya untuk mengerahkan puluhan ribu massa jika berani menentang.
Pernyataan itu terekam jelas di media sosial, “Siapa yang akan melakukan penolakan? Silakan lakukan. Jangan cuma 5.000 orang, 50.000 pun kerahkan. Saya tidak gentar!”
Ucapan yang bagi rakyat adalah puncak kesombongan seorang pemimpin. Dan rakyat pun menjawab tantangan itu, bukan hanya dengan 50 ribu, tapi potensi 100 ribu massa yang siap memadati pusat kota.
Sekitar pukul 11.00 WIB, tensi memuncak. Pagar kantor bupati digedor, meriam air menyembur, lalu gas air mata dilepaskan ke kerumunan. Perempuan, anak-anak, dan lansia berhamburan, beberapa tumbang, mata perih, napas sesak. Kartini (56), korban gas air mata, dengan mata merah berlinang berkata lirih, “Tolong, Pak Polisi… banyak anak dan perempuan di sini.”
Total 33 orang luka-luka, semuanya dirawat di RSUD RAA Soewondo. Namun bahkan luka dan air mata tak mampu meredam tekad massa. Orasi kembali menggema, bendera tuntutan “Lengserkan Sudewo” kembali berkibar.
Peristiwa Pati menggema ke dunia. Perlawanan rakyat Pati hari ini bukan peristiwa lokal belaka. Ia bergema seperti People Power di Filipina (1986), saat rakyat menggulingkan Ferdinand Marcos yang dianggap otoriter. Sama seperti rakyat Pati, jutaan warga Filipina kala itu memenuhi jalanan, membawa rosario, makanan dan doa, bertahan sampai sang diktator angkat kaki.
Sejarah mengajarkan: ketika rakyat bersatu dan memiliki tujuan tunggal, kekuasaan sebesar apapun bisa runtuh.
TIDAK ADA JALAN PULANG
Sudewo mungkin berdalih ia dipilih secara demokratis dan hanya bisa diberhentikan melalui mekanisme hukum. Namun rakyat Pati hari ini mengirim pesan yang lebih tegas, legitimasi bukan sekadar soal kotak suara tapi kepercayaan yang dijaga dengan sikap rendah hati, bukan kesombongan.
Aliansi Masyarakat Pati Bersatu sudah berjanji akan bertahan di alun-alun, siang dan malam, hingga tuntutan terpenuhi. Gelombang dukungan dari luar kota terus berdatangan, wartawan nasional mengabadikan tiap detik perlawanan ini, dan media sosial dipenuhi siaran langsung dari lapangan.
Pati sedang menulis babak baru sejarah perlawanan rakyat di Indonesia. Dan seperti orasi Husein di hadapan massa aksi, “Kalau pemimpin sudah dzolim, tak ada pilihan lain, lengser secara ksatria atau dilengserkan secara paksa!”
Oleh:
Rokimdakas
Rabu 13 Agustus 2025

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi