KEMPALAN : Pada suatu hari seorang ibu melihat anaknya yang masih seumuran Taman Kanak-kanak sedang bermain-main dengan seekor capung.
Karena kasihan melihat capung itu yang hampir mati, Sang Ibu berkata kepada anaknya.
Ibu : “Eh dilepas tuh capungnya … kasihan mau mati.”
Anak : “Memangnya kenapa, Ma?”
Ibu: “Dosa!”
Anak: “Dosa itu apa?”
Ibu: “Dosa ya dosa…(sambil agak jengkel) ‘ntar induknya datang lho”
Anak: “Gede, Ma ??”
Ibu: “Gede sekali, sebesar guling” (sambil tambah jengkel).
Untuk sejenak Sang Anak terdiam. Ibunya pun mulai tersenyum, dan mulai mau pergi. Namun tiba-tiba terdengar si anak berteriak: “Asyiik ! Asyiik !”, sambil terus memain-mainkan capung tadi.
Ibu: “???”
Anak : “Ma, ntar kalau induknya datang bantuin tangkap ya Ma, mau naik capung gede nih…”
Ibu: “???!!!”
Logika anak-anak selalu mengejutkan manakala dihadapkan kepada logika orang dewasa. Dan, logika anak-anak kalau dirunut sesungguhnya tampak “matematis”.
Ketika Sang Ibu mengatakan induknya sebesar guling, berarti bisa dinaiki oleh Sang Anak dan menerbangkannya sekaligus.
Dalam cerita nyata, saya teringat seorang teman yang pelukis saat menyuruh anaknya menggambar suasana malam. Maka suasana itu dilukiskan dengan bulatan bulan yang jumlahnya tiga. Ketika ditanya ayahnya, “Lho kok bulannya ada tiga?”
Anak itu pun menjawab: “Di rumah kita ada satu bulan, di rumah kakek ada satu bulan, dan di rumah paman ada satu bulan. Jadi jumlahnya ada tiga bulan, Yah… “.
Anak pelukis ini memang pernah melihat bulan saat malam hari ketika berlibur di rumah kakeknya, juga melihat bulan yang sama ketika diajak ke rumah pamannya.
Ada satu kejadian nyata lagi –masih di seputar dunia lukisan– seorang anak ketika mulai memasuki kursus melukis disuruh menggambar sebatang pohon. Maka ia melukis pohon dengan daun yang diwarnainya merah.
Sang Guru melukis lantas menganjurkan agar daunnya diberi warna hijau.
Jawab si murid: “Lho Pak Guru, di luar negeri daun pohon banyak yang berwarna merah. Saya pernah melihatnya”.
Sang guru tertegun, tak menduga dengan jawaban murid yang begitu. Barangkali guru itu pun berpikir, ‘Mungkin benar juga nih murid. Aku belum bisa membuktikan, karena aku belum pernah keluar negeri…’
Begitulah dunia anak-anak, selalu menunjukkan sesuatu yang lugu. Dan keluguan identik dengan kebenaran yang acapkali menyiratkan hal-hal “matematis” nan logis — sebagaimana alam pikiran mereka.
O ya, ada yang hampir terlupa sehubungan dengan “analisis” anekdot ini, betapa Sang Ibu sudah mengajarkan nilai-nilai welas asih kendati obyeknya terkait “hanya” seekor capung. (Amang Mawardi).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi