KEMPALAN : Sobir memulai kariernya sebagai office boy di kantor itu pada tanggal 1 Januari. Sebulan kemudian kariernya meningkat menjadi salesman. Dua bulan berikut dia diangkat sebagai manajer wilayah.
Di bulan Juni dia naik sebagai asisten general manager. Sungguh luar biasa, pada bulan November lantas diangkat sebagai general manager.
Pada hari ulang tahun perusahaan di bulan Desember, Sobir secara khusus dipertemukan dengan seluruh dewan komisaris perusahaan. Saat berhadapan dengan presiden komisaris, Sobir segera menjabat tangan preskom itu sambil berkata, “Terima kasih, Ayah”.
Dalam dunia usaha, cerita mirip di atas tidaklah aneh. Banyak pemilik perusahaan yang mula-mula menempatkan anaknya pada jabatan paling rendah untuk kemudian naik berjenjang-jenjang. Dimaksudkan untuk lebih bisa merasakan denyut nadi perusahaan, dan pengalaman pun dapat diperoleh “selengkap-lengkapnya”.
Pada saat dia memimpin jabatan puncak, diharapkan akan mudah mengatur manajemen.
Namun, dalam satu tahun, seperti kisah anekdot di atas? Dalam dunia nyata? Bisa iya, bisa tidak. Eits, nanti dulu. Saya rasa banyak tidaknya, ya. Sangat sangat sangat jarang dalam satu tahun mengawali dari jabatan terendah sebagai petugas bersih-bersih, akhirnya meraih jabatan bergengsi : general manajer. Maka tak aneh jika kisah potong kompas di atas sebatas cerita anekdot!
Tentang istilah ‘lonjakan karier’, atau barangkali yang lebih tepat adalah ‘tahapan karier’, saya kutip pendapat David J. Schwartz seorang motivator penulis buku ‘Berpikir dan Berjiwa Besar’ bahwa orang yang naik hingga ke puncak di dalam pekerjaan apa pun –manajemen, marketing, hukum, konstruksi, acting, atau apa saja — tiba di sana karena mereka mempunyai sikap unggul dibarengi pikiran sehat dalam rentetan kerja keras.
Soal ‘lonjakan karier’ dalam dunia bisnis, sebagaimana cerita di atas, tak ada beda dengan dunia politik: seorang anak yang masuk ke “Senayan” lantaran ayahnya yang ketum partai; seorang anak yang ibunya ketum partai lantas menjadikannya ketua kumpulan orang-orang di “Senayan”; atau seorang walikota masih muda yang lantas jadi wakil presiden lantaran ayahnya sosok paling berkuasa di negeri tanah air beta.
Begitulah, dalam dunia bisnis dan jagad politik, pada akhirnya “rekayasa dinasti” senantiasa “masuk akal” untuk diiyakan — setidaknya di negeri tanah air beta ini. Dan, rasanya sangat tidak paralel sebagaimana dinyatakan David J. Schwartz. (Amang Mawardi).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi