Jumat, 5 Juni 2026, pukul : 10:33 WIB
Surabaya
--°C

PHK Terhadap Banyak Jurnalis Televisi

KEMPALAN : Tjuk Suwarsono mantan Wapemred Surabaya Post, Jumat 2 Mei lalu mengirim kabar prihatin ke nomor WA saya. Intinya :

Kompas TV PHK 150 orang lagi, TV One PHK 75 orang lagi,
CNN Indonesia TV PHK 200 orang lagi.

(Yang saya tangkap dari kabar di atas, kosakata ‘lagi’ berarti sebelum ini tiga station TV tersebut sudah melakukan PHK).

Lantas di bawah alinea itu tercatat alinea lainnya, yaitu:

VIVA.Co.id. bulan depan mulai menutup kantor di Pulogadung.

EMTEK Group (SCTV & Indosiar) mulai melakukan PHK hingga 100 orang.

MNC bersiap regrouping, dari 10 pemred diciutkan menjadi 3 pemred.

Global TV bagian produksi juga terimbas dan kena layoff 30 %.

i-News per 30 April, mulai menutup semua kantor bironya di Indonesia.

MNC Group kabarnya akan melakukan pengurangan karyawannya hingga 400 orang. (Alasannya: konvergensi dan efisiensi).

BACA JUGA  IFA7 WORLD CHAMPIONSHIP HONDURAS 2026

RTV juga bersiap melakukan pengurangan 40 orang per divisi.


Tanggapan saya begini atas kiriman dari kakak angkatan saat menimba ilmu di Akademi Wartawan Surabaya dulu :

Platform digital dengan content creator dan influencer yang beragam latar belakang pendidikan dan yang dilandasi algoritma telah ikut meruntuhkan media konvensional yang dulu dianggap mainstream, termasuk yang ada di stasiun-stasiun.

Kalau dulu media massa setia berlandaskan azas 5 W + 1 H diimbangi cover both side, kini digantikan oleh individu-individu, seperti : Deddy Corbuzier, Deni Sumargo, dr. Richard Lee, Willy Salim, Melaney Ricardo, dan bahkan Dedi Mulyadi yang oleh seorang teman dianggap demagog.

Mudah-mudahan yang saya sebut di atas paham azas-azas itu.

Zaman telah berubah, era digital membuka babak baru di dunia informasi dan hiburan.

BACA JUGA  UE Serukan Israel untuk Hentikan Eskalasi Militer di Lebanon

Yang runyam jika para content creator dan influencer tidak paham prinsip-prinsip jurnalistik tersebut dan 11 Pasal dalam Kode Etik Wartawan Indonesia. Maka kasunyatan semu alias post truth makin menebal di ranah informasi Indonesia. Banyak orang sudah sulit membedakan mana yang benar-benar realitas, mana yang semu.

Padahal media sudah dikuasai individi-individu. Bukan institusi lagi. Apalagi dirunyamkan oleh para pendengung. Komplit sudah keruntuhan media konvensional yang dulu dianggap mainstream.

Saya berharap teman-teman jurnalis banyak yang mengkonversi dirinya untuk terjun di era post truth ini –mungkin menjadi content creator dan influencer di tiktok – YouTube – instagram dan lain-lain– sebagai counter culture dengan tetap membawa ruh 5 W + 1 H plus 11 Pasal Kode Etik Wartawan Indonesia. (Amang Mawardi).

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.