Meneruskan Api Kartini Di Tengah Tantangan Zaman Yang Terus Berkembang

waktu baca 4 menit
RA Kartini. (Foto: CNN)

KEMPALAN: Setiap bulan April, Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai bentuk penghormatan perjuangan yang sangat luar biasa dari seorang tokoh perempuan nasional, yaitu Raden Ajeng Kartini.

Beliau perempuan yang dengan lantang menerobos sekat-sekat budaya yang mengakar. Yaitu budaya patriarki demi memperjuangkan hak perempuan yang sangat mulia dalam mengenyam pendidikan dan menentukan masa depan.

oleh: NISA AFIFAH

Lebih dari sekadar emansipasi, beliau adalah api yang membara di dalam perjuangan perempuan semangat yang tidak pernah padam. Tapi, kita mengetahui tantangan zaman saat ini semakin kompleks menuntut kita tidak hanya untuk mengenang. Lebih dari itu, perempuan masa kini harus meneruskan perjuangan Kartini dalam mengaktualisasikan semangat Kartini dengan lebih luas.

Dunia bergerak begitu cepat. Digitalisasi, revolusi industri 4.0, tantangan global seperti perubahan iklim hingga krisis ekonomi pasca-pandemi membawa perubahan besar dalam tatanan sosial, budaya, dan ekonomi.

Perempuan bukan sekadar pelengkap tetapi perempuan adalah aktor penting dalam pembangunan bangsa dan pencetak peradaban. Data menunjukkan peningkatan jumlah perempuan yang terlibat di sektor strategis: mulai politik, kewirausahaan, akademisi, hingga teknologi.

Namun, yang jadi persoalan adalah benarkah emansipasi sudah sepenuhnya terwujud?

Realitanya, diskriminasi berbasis gender marak dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Perempuan masih menghadapi ketimpangan dalam hal upah, keterbatasan akses terhadap pendidikan yang berkualitas, serta yang lebih parahnya beban ganda yang kerap memaksa mereka memilih antara karier atau keluarga.

Lebih mengerikan lagi, belakangan ini masyarakat dikejutkan oleh berbagai kasus kekerasan seksual terjadi di berbagai profesi dengan informasi yang cepat dan mudah diterima dari berbagai platform media sosial.

Dari dunia pendidikan, media, hiburan, hingga lembaga-lembaga formal yang semestinya menjamin keselamatan perempuan, muncul laporan-laporan yang sangat mengkhawatirkan.

Bahkan mereka yang berkarya dalam profesi jurnalis pun tidak luput dari ancaman kekerasan yang mengakibatkan kematian. Terdapat oknum yang berasal dari profesi terhormat yang tidak banyak orang menyangka jika oknum tersebut akan melakukan kekerasan seksual terhadap perempuan.

Nisa Afifah saat berorasi. (Foto: Koleksi Pribadi)

Kasus kekerasan seksual yang terjadi saat ini bukan hanya soal kriminalitas. Tetapi juga persoalan budaya diam dan ketimpangan kuasa. Korban memilih bungkam karena khawatir terhadap stigma, tekanan institusi, hingga bisa kehilangan pekerjaan.

Hal tersebut jadi alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan bahwa perjuangan Kartini belum selesai. Kita butuh sistem perlindungan yang lebih tegas, ruang aman yang nyata, serta keadilan yang berpihak pada korban.

Dalam konteks ini, api Kartini harus terus membara, diteruskan dengan strategi yang adaptif dan juga progresif. Pendidikan tetap jadi senjata utama. Namun, bukan hanya pendidikan formal, melainkan juga pendidikan karakter, literasi digital, dan yang terpenting adalah kesadaran gender.

Perempuan yang berpendidikan bukan menjadi untuk bersaing dengan laki-laki. Tetapi perempuan yang berpendidikan menjadi agen transformasi di lingkungannya.

Pemerintah dan masyarakat sipil berperan krusial dalam menciptakan ekosistem dalam mendukung pemberdayaan perempuan. Regulasi yang berpihak, program pelatihan keterampilan, serta akses dalam permodalan bagi perempuan pelaku usaha harus diperluas dan dipermudah.

Di sisi lain, kampus, sekolah, serta institusi keagamaan juga mengambil peran dalam membentuk perspektif gender yang adil seadil-adilnya dan setara sejak dini.

Di ruang-ruang politik, representasi perempuan lebih diperkuat bukan hanya dari segi kuantitas, tetapi juga kualitas. Perempuan yang berada di legislatif, eksekutif, maupun yudikatif harus menjadi suara bagi kebijakan yang inklusif dan berkeadilan gender.

Kartini masa kini bukan hanya mereka yang memimpin di panggung besar. Tapi juga para ibu rumah tangga yang mendidik anak-anaknya dengan nilai-nilai tertanam sejak dini seperti keadilan, toleransi, dan cinta tanah air.

Sebagaimana kutipan Kartini, “Habis Gelap, Terbitlah Terang,” maka terang masa kini, perempuan bukan dipersilahkan tapi perempuan memiliki hak, kewajiban, dan peran. Meneruskan api Kartini bukan berarti menjadikan semua perempuan seragam dalam peran, tetapi justru mengisi semua ruang sesuai jalannya sendiri dengan bebas dan bermartabat.

Akhirnya, kita semua baik perempuan maupun laki-laki memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga nyala semangat Kartini agar tidak redup di tengah tantangan zaman. Emansipasimerupakan upaya kolektif menuju masyarakat yang adil dan beradab.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi, semangat Kartini menjadi jangkar moral yang menjaga kita terus berpijak pada nilai-nilai keadilan, keberanian, dan kemanusiaan.

Selamat Hari Kartini, 21 April 2025. Semangatnya harus terus hidup di setiap langkah perempuan Indonesia.

Surabaya, 22 April 2025

*Aktivis perempuan

Editor: YMP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *