KEMPALAN : Libur sekolah, Bulan Puasa 1970.
Kaya tidak, miskin juga tidak; pas-pasan. Tak ada kamus berlibur ke luar kota, atau refreshing ke tempat-tempat lokasi wisata.
Aktivitas apa lagi yang mesti saya lakukan? Rasanya semua bacaan yang ada di rumah sudah saya lahap habis. Novel-novel koleksi mbakyu saya seperti karya NH Dini, Suparto Brata, Ani Asmara, sudah saya nikmati.
Bahkan serial silat ‘Ang Bing Tin’ 8 jilid karya Kho Ping Ho yang saya temukan tidak sengaja di bawah tumpukan Majalah Mekarsari di laci bawah lemari besar, juga sudah tamat saya baca. Karya ini di mata saya yang pelajar SMP kelas 3 sungguh memikat.
Padahal Bulan Puasa baru berjalan seminggu. Tiba-tiba saya teringat salah satu sahabat SD yang ketemu di Pasar Pacarkeling dua minggu sebelum puasa. Kami berbasa-basi menanyakan kabar masing-masing, dengan antara lain saling menyilakan mengunjungi rumah satu sama lain.
‘Kenapa nggak dolan ke rumah Yanto saja?’, monolog saya.
Begitulah, pagi itu saya jalan kaki ke rumah Yanto di kawasan Kapas Krampung, Surabaya, yang jaraknya sekitar 1 kilometer.
Rumah Yanto lebih besar dari rumah kami. Bahkan masih menyisakan halaman relatif luas di bagian belakang.
Yanto menemui dengan celana pendek dan kaos oblong. Kondisinya ‘mbelgadus’. Rambut keritingnya menambah awut-awutannya pagi itu.
Rupanya ada sesuatu yang sedang dikerjakannya saat saya bertamu. Inti pertemuan, saya disarankan untuk berjualan mercon.
Pantas kondisinya awut-awutan. Rupanya dia sedang bikin mercon dalam jumlah banyak di halaman belakang. Kok mercon? Akhirnya saya paham. Ibunya berasal dari Bangil, sebuah kota eks. kawedanan di Kabupaten Pasuruan yang dulu dikenal sebagai kawasan industri mercon rumahan. Sekarang Bangil menjadi ibukota dari Kabupaten Pasuruan.
Meski ragu-ragu, tawaran Yanto saya terima juga. Barangkali lantaran Mbak Yati, kakak Yanto itu, ikut ngipasi, “Dari pada liburan bengong, dik. Kalau laku kan lumayan dapet duit. Dijual di pasar Blauran saja…”
Masing-masing 15 pak mercon rawit sebesar kelingking dan mercon ukuran sedang sebesar jempol, saya bawa pulang di dalam tas anyaman plastik imitasi tikar.
Di rumah disambut adik saya: Mushadi. Rupanya dia antusias. “Nanti malam kita jual di (pasar) Blauran ya, Mas,” ujarnya berseri-seri. Saya menanggapi ‘aras-arasen’. Males. Ya, membayangkan berdiri di depan deretan toko emas sambil menawarkan mercon kepada yang lalu-lalang. Antara gengsi dan gak punya nyali, jadi satu. Bagaimana kalau ketemu teman sekolah? ‘Uisiin’, Rek ! Malu. Seumur-umur baru kali ini (akan) melakukan pekerjaan mengasong.
Selepas mahgrib kami jadi berangkat ke Blauran. Jalan kaki melewati Jl. Jagiran, potong kompas masuk ke kampung Karanggayam, melewati kuburan, ‘njedul’ di Jl. Teratai, masuk ujung selatan Jl. Tambaksari, terus ke Jl. Ambengan, lurus terus yang makin lama makin enggan kaki melangkah. ‘Jual nggak, jual nggak…’, saya membatin.
Sampai di jembatan Patuk ujung selatan Jl. Undaan Kulon, langkah saya berhenti. Saya ragu-ragu. Intinya malu dan gengsi. Mau ‘balik kucing’ pulang, ragu-ragu juga. Masak mercon mau dikembalikan ke Yanto. Gak enak… Tapi adik saya kasih semangat, “Ayo Mas…pasti laku!”
Langkah diayun lagi, melewati Jl. Gentengkali, nyebrang Jl. Tunjungan. Lantas Jl. Praban. Sampailah di emperan pertokoan emas Pasar Blauran sebelah barat jalan. Masih sepi. Tapi sudah ada beberapa PKL dan pengasong. Ada terlihat beberapa penjual mercon dan kembang api.
Mula-mula berdua. Akhirnya adik saya mencari posisi agak jauh, berdiri sambil memegangi dagangan mercon, di pinggiran trotoar depan salah satu toko emas, hadap timur.
Saya juga berdiri sambil menyodorkan mercon kepada orang-orang yang lewat, tanpa berkata-kata. Masih malu-malu. Tapi saat satu-dua orang mulai berhenti, menawar mercon dan membeli, lambat laun hilang rasa malu dan gengsi, diganti rasa senang dan semangat. (Duik, Rek !).
Cekas aos dagangan kami malam itu ludes. Tak ada sisa. Duit harga kulakan saya setorkan ke Yanto pagi harinya. Lantas jumlah merconnya ditambah menjadi dua kali lipat.
Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari gembira. Dagangan kami seringkali ludes. Kalaupun sisa cuma 1-2 pak.
Seringkali kalau pulang dari Blauran tidak dengan jalan kaki, tapi naik becak. (‘Enco’, Rek…he-he-he…). Bayangkan, berjualan mercon untungnya bisa 100 persen.
Setiap hari saku dipenuhi duit. Saku celana pendek kiri kanan isinya duit. Saku baju? Duit! Dompet? Aha, gak punya dompet! Karena belum punya KTP. Kartu pelajar juga tidak punya, setidaknya di SMP Jayawarsa, Surabaya, tempat kami sekolah. Rasanya tahun-tahun itu belum ada tradisi kartu pelajar.
(Sekarang ini seringkali dompet tebel bukan karena isi duit, tapi kebanyakan berisi kartu — KTP, SIM A dan C, kartu BPJS, dua kartu perpustakaan, kartu berobat RS Haji, kartu PWI yang sudah kadaluwarsa, press card kempalan.com. dan entah kartu apa lagi).
Bulan puasa akhirnya berakhir. Semua ada masanya. Tabungan pun makin menipis. Adik saya berkata, “Coba ya, Mas, hari di bulan puasa ditambah seminggu, kan duit kita tidak cepat habis …”
Bagaimana kabar terakhir Yanto? Ia menjadi pengusaha sukses. Usahanya di bidang pembuatan mesin industri kecil. Salah satu anaknya jadi dokter. Ia meninggal 10 tahun lalu. Diabetes penyebabnya. Al Fatihah…
Lantas, (salah satu) adik saya itu yang ikut jualan mercon? Sejak 25 tahun lalu bersama istrinya bergerak pada usaha katering, melayani pesta pernikahan dan pesanan kuliner hajat lainnya. Juga mengelola depot prasmanan di Jl. Pacarkeling 11, Surabaya. Pernah menjadi koresponden Pos Film (Pos Kota Group) dan mantan karyawan Divisi Iklan Harian Surya.
Dia sering jadi “bank tubruk” saya. Sering saya tubruki untuk saya pinjami duit. Sering kalau pinjamnya kecil, “wis ga usah dibalekno” — kalau pas waktunya bayar.
Kalau dalam jumlah agak besar, “nyicil sak duwene, Mas… ” kata adik saya itu. (Amang Mawardi).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi