Jalan Tasawuf KH. Syaiful Ulum Nawawi (14)

waktu baca 2 menit
KH. Syaiful Ulum Nawawi (*)

KEMPALAN : Sebagaimana dipaparkan pada tulisan sebelum ini, KH. Syaiful Ulum Nawawi antara lain menyebut bahwa ada tiga sosok ulama besar yang berada pada koridor dunia tasawuf dan yang berpengaruh pada Sufisme Gus Dur, yaitu : Al Ghazali, Ibn Arabi dan Jalaluddin Rumi.

Khusus untuk tulisan kali ini, KH.Syaiful Ulum Nawawi akan mencoba menjelaskan tentang sosok Al-Ghazali.

Al-Ghazali (1058-1111 Masehi) adalah seorang Sufi, filsuf, dan teolog Islam terkemuka yang lahir di Tus, Persia (sekarang Iran).

Sufi ini dikenal sebagai “Hujjatul Islam” (Bukti Islam) karena kontribusinya yang signifikan dalam bidang teologi, filsafat, dan Sufisme.

Al-Ghazali memulai pendidikannya di Tus, kemudian melanjutkan ke Nishapur untuk mempelajari filsafat dan teologi.

Beliau menjadi profesor di Universitas Nizamiyah di Baghdad, salah satu pusat pendidikan Islam terkemuka pada masa itu.

Menurut KH. Syaiful Ulum Nawawi, pemikiran tasawuf Al-Ghazali adalah keberaniannya mengkritik terhadap pemikiran-pemikiran filsafat, terutama terhadap filsafat Aristoteles dan sejumlah filsuf Islam lainnya karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Oleh sebab itu, Al-Ghazali berpendapat tentang betapa pentingnya perspektif spiritualitas. Bagaimana narasinya?

Menurut KH. Syaiful Ulum Nawawi, beliau menekankan pentingnya spiritualitas dan pengalaman mistik dalam mencapai kesadaran diri dan kebenaran.

Ada juga buah pikiran Al-Ghazali yang menarik, yaitu konsep Ma’rifa. Beliau, kata KH. Syaiful Ulum Nawawi, berusaha mengembangkan konsep “ma’rifa” (pengetahuan spiritual) yang menekankan pentingnya pengalaman spiritual dalam mencapai kebenaran.

Banyak buku-buku yang sudah dihasilkan Al-Ghazali, salah satunya yang sangat terkenal “Ihya’ Ulumuddin”. Ini karya magnum opus (karya besar yang mencerahkan) dari Sufi besar ini yang membahas tentang berbagai aspek kehidupan, termasuk spiritualitas, etika, dan filsafat.

Selain karya magnum opus tersebut, banyak lagi yang menarik, antara lain yang berjudul “Munqidh min al-Dalal” sebuah autobiografi Al-Ghazali yang membahas tentang perjalanannya pada dunia spiritual dan intelektual.

Tentang pengaruh potensi Al-Ghazali, KH. Syaiful Ulum Nawawi memaparkan:

Bahwa beliau memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan Sufisme, terutama dalam hal pengembangan konsep spiritualitas dan mistik.

Bahwa beliau juga memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan filsafat Islam, terutama dalam hal kritik terhadap filsafat Aristoteles.

Bahwa beliau memiliki pengaruh besar terhadap pemikiran Islam, terutama dalam hal pengembangan konsep spiritualitas, etika, dan filsafat (Amang Mawardi – Bersambung).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *