Melemahnya Nilai Rupiah dan Akhir Pemerintahan Jokowi

waktu baca 3 menit
Jokowi dan Sri Mulyani (*)

JAKARTA-KEMPALAN: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) kembali mengalami tekanan signifikan di bulan Juni 2024, dengan mencatatkan level terendahnya sejak beberapa tahun terakhir. Pada sesi perdagangan beberapa hari yang lalu, nilai tukar rupiah terhadap dolar mencapai Rp 16.000 per USD, menandai penurunan yang cukup dalam dari posisi sebelumnya.

Faktor utama yang menjadi pemicu melemahnya nilai rupiah kali ini adalah ketidakpastian pasar terhadap kebijakan ekonomi nasional, yang semakin diperparah oleh berbagai pernyataan dari pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Meskipun langkah-langkah telah diambil untuk mengendalikan inflasi dan memperbaiki daya beli masyarakat, dampaknya terhadap stabilitas nilai tukar rupiah belum terlihat signifikan.

Dalam sebuah konferensi pers yang diselenggarakan belum lama ini, Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani, menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mencari solusi jangka panjang guna memperbaiki kondisi nilai tukar.
Terhadap pernyataan tersebut, para analis ekonomi mengingatkan bahwa upaya perbaikan harus diiringi dengan langkah-langkah konkret yang mampu meningkatkan kepercayaan investor dan mengurangi ketidakpastian pasar.

Di tengah gejolak global dan kekhawatiran akan dampak pandemi yang masih terasa, pergerakan nilai tukar rupiah diharapkan akan tetap menjadi fokus utama bagi pemerintah dalam beberapa bulan ke depan. Sejumlah langkah intervensi pasar dan peningkatan koordinasi antarlembaga diharapkan mampu memberikan kestabilan yang lebih baik bagi perekonomian Indonesia.

Dampak serius bagi ekonomi Indonesia dengan Melemahnya nilai rupiah di akhir bulan Juni 2024 antara lain :

  1. Inflasi : Penurunan nilai rupiah cenderung meningkatkan biaya impor, terutama barang-barang konsumsi dan bahan baku yang tidak diproduksi secara lokal. Hal ini dapat mendorong inflasi karena harga barang-barang tersebut naik.
  2. Utang Luar Negeri : Jika perusahaan atau pemerintah Indonesia memiliki utang dalam mata uang asing, melemahnya nilai rupiah akan membuat utang tersebut lebih mahal untuk dibayar kembali, meningkatkan beban utang negara atau perusahaan.
  3. Investasi Asing : Melemahnya nilai rupiah bisa membuat investasi asing menjadi lebih mahal atau kurang menarik bagi investor asing, karena nilai investasi mereka dalam mata uang asing (seperti dolar AS) bisa turun ketika dikonversikan ke rupiah.
  4. Daya Beli Masyarakat : Jika inflasi meningkat karena harga barang-barang naik, daya beli masyarakat dapat tergerus. Hal ini bisa menghambat pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek karena konsumsi rumah tangga, yang merupakan pendorong utama pertumbuhan ekonomi, bisa turun.
  5. Stabilitas Keuangan : Melemahnya nilai tukar rupiah juga dapat mempengaruhi stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan, termasuk harga saham, likuiditas perbankan, dan kepercayaan pasar terhadap kestabilan ekonomi nasional.
  6. Kebijakan Moneter Indonesia : Bank Indonesia mungkin perlu merespons dengan kebijakan moneter yang ketat untuk menjaga nilai tukar rupiah, misalnya dengan menaikkan suku bunga. Ini bisa mengurangi pertumbuhan kredit dan aktivitas ekonomi dalam upaya untuk menjaga stabilitas mata uang.

Dengan demikian, melemahnya nilai rupiah di akhir masa jabatan Jokowi di 2024 bukan hanya masalah pasar valuta asing semata, namun juga memiliki implikasi luas terhadap kehidupan ekonomi masyarakat dan kebijakan pemerintah di Indonesia. (Nur Izzati Anwar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *