Dihadiri Dahlan Iskan, Indah Kurnia Luncurkan Buku “Indah Dalam Pandemi”

waktu baca 4 menit
Indah Kurnia dengan buku berjudul “Indah Dalam.Pandemi” yang ditulis Doan Widhiandoko.(Foto: Dwi Arifin, Kempalan.com).

SURABAYA-KEMPALAN: Anggota Komisi XI DPR RI Indah Kurnia meluncurkan buku berjudul “Indah Dalam Pandemi” di Surabaya, Sabtu (27/1) sore.

Buku setebal 214 halaman yang ditulis Doan Widhiandono ini menceritakan  perjuangan Indah Kurnia saat berjibaku turun ke tengah masyarakat untuk membantu penanganan pandemi Covid-19.

Menurut Doan Widhiandono,  buku “Indah Dalam Pandemi”  itu menceritakan aktivitas Indah Kurnia dan kekuatan nilai kegotongroyongan antarmasyarakat yang terpotret selama masa pandemi Covid-19.

“Buku berjudul Indah Dalam Pandemi ini saya kerjakan selama lima bulan, sejak Agustus tahun 2023 lalu,” kata Doan kepada Kempalan.com di sela acara peluncuran buku “Indah Dalam Pandemi” yang dihadiri Dahlan Iskan, Founder Harian Disway.

Kendati mulai dikerjakan sejak Agustus, namun sebelum itu Doan mengaku sudah beberapa kali melakukan pertemuan dengan Indah Kurnia. “Hanya cerita-cerita, namun waktu itu angle-nya belum ketemu. Tapi judulnya sudah dapat, Indah Dalam Pandemi,” terangnya.

Dari kiri: Doan Widhiandono, Dahlan iskan, dan iIndah Kurnia. (Foto: Dwi Arifiin, Kempalan.com)

Dari judul tersebut kemudian dikembangkan dengan melakukan wawancara-wawancara yang dimulai pada Agustus 2023. “Intinya, Bu Indah punya keinginan kegiatannya selama pandemi Covid-19 terabadikan. Dan tidak hanya Bu Indah yang kita wawancarai, tapi juga beberapa sumber lain. Kurang lebih empat sampai lima atau enam kali kami melakukan pertemuan,” ungkapnya.

Sumber lain yang dimaksud Doan, antara lain dengan Surabaya Entertainer Club (SEC), yaitu klub seniman yang diasuh Indah Kurnia.

Buku ini sendiri; kata Doan, sesuai judulnya punya dua makna. Yang pertama Indah Kurnia ketika pandemi. Sedang kedua adalah sisi keindahan lain saat pandemi.

Di mata Doan, Indah Kurnia merupakan sosok yang begitu inspiratif karena perhatiannya kepada seluruh kalangan masyarakat. “Bu Indah Kurnia itu sosok yang berserah tetapi tidak menyerah,” katanya.

“Prinsip seperti itu yang kami bagikan, bagaimana beliau tetap memperhatikan seniman sebagai pertanggungjawaban dia kepada Tuhan,” sambung dosen Universitas 17 Agustus 1945 itu.

Dahlan Iskan menunjukkan buku “Indah Dalam Pandemi” pemberian dari Indah Kurnia.

Doan pun mengaku senang bisa bekerja sama dengan Indah Kurnia dalam proses pengerjaan buku “Indah Dalam Pandemi”.

“Bu Indah ini detail dalam kata-kata. Bagi beliau diksi sangat penting. Saya sebagai penulis senang karena beliau membaca dengan teliti saat pengerjaan. Bahkan, beliau itu layaknya seorang redaktur,” katanya.

Sementara itu,  Indah Kurnia yang ditemui di tempat yang sama mengaku berterima kasih dengan ditulisnya buku ini. “Motivasi saya nggak ada. Namun buku ini saya anggap sebagai pengakuan dari kawan-kawan,” katanya.

Menurut Indah, cerita ini (pandemi Covid-19) tidak akan terulang mungkin sampai berapa ratus tahun lagi. “Siapa yang mau mengulang kondisi seperti ini. Tetapi ini bisa kita anggap sebagai bagian dari sejarah,” katanya.

Di mana waktu itu, lanjut Indah, seluruh bangsa di dunia bersama-sama melakukan penanganan dengan caranya masing-masing. Sedang dia dengan cara sederhana, yaitu dengan menjaga dan merawat harapan dari kawan-kawannya.

“Kebetulan yang paiing dekat, paling rentan terdampak dari pandemi adalah mereka yang tidak menerma gaji bulanan. Salah satunya adalah musisi,” terangnya.

Selain itu Indah menyebut sektor industri hiburan dan pariwisata. Contohnya Kabupaten Badung, Bali. Daerah ini menjadi salah satu daerah yang secara instan mendapatkan efek domino dari Covid-19 yang menjadi wabah global.

“Kabupaten Badung itu begitu pandemi langsung terkontraksi. Karena mayoritas perolehan incomenya dari pariwisata,” katanya.

“Begitu pandemi langsung lockdown. Gak ada lagi turis, baik domestik maupun manca negara yang datang, sehingga tidak lagi dapat income,” imbuhnya.

Karena itu, Indah dengan teman-teman musisi kemudian berbincang. Karena ia tahu mereka akan mengalami kesulitan dalam menjalani kehidupan. “Bukan hanya gak dapat uang, tapi¬† kalau musisi gak main musik itu sama dengan mati,” katanya.

Indah pun lantas mengumpulkan kawan-kawan musisinya untuk menghadapi Covid-19 yang kala itu tidak tahu akan berakhir kapan. Dia mencoba mulai memikirkan skenario yang tepat bagi para musisi hingga mereka benar-benar mendapatkan haknya dengan melibatkan orang-orang di bidang tersebut.

“Kebersamaan itu membuat saya bahagia karena bisa memberi arti pada mereka di saat sulitnya dan ini dibukukan,” aku Indah.

Dia tak menampik ada rasa bahagia saat bisa turun langsung membantu merampungkan persoalan tersebut, dengan memanfaatkan posisinya sebagai wakil rakyat untuk membuat suatu terobosan menjaga harapan masyarakat luas.

Dia juga mengaku senang dengan foto-foto dalam buku tersebut.¬† “Saya jadi ingat dan sedih lagi. Ini juga ada foto saya waktu divaksin bareng nakes pertama,” kata Indah sembari menunjukkan foto kenangan dirinya waktu divaksin di dalam buku yang baru diluncurkan. (Dwi Arifin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *