JAKARTA-KEMPALAN: Chief Executive Officer (CEO) PSIS Semarang, Yoyok Sukawi memberikan jawabannya terkait isu keterlambatan pembayaran gaji pemain yang sudah menimpa PSIS Semarang selama beberapa hari.
Isu keterlambatan pembayaran gaji pemain ini pada mulanya menimpa PSIS Semarang setelah dibahas pada sesi bincang-bincang di salah satu akun Youtube agen pemain, Aggy Eka Ressy pada 13 Desember 2023 lalu.
Dalam sesi bincang-bincang itu, Aggy memang menanyakan situasi keuangan Mahesa Jenar. Sebab, ada sejumlah klub BRI Liga 1 yang sempat diterpa isu tunggakan pembayaran gaji pemain selama musim 2023/2024.
Menjawab isu itu, Yoyok kemudian menjelaskan bahwa PSIS Semarang memang sempat mengalami masalah keuangan, namun manajemen klub memiliki cara tersendiri dalam menghadapi kesulitan itu.
Dia menjelaskan bahwa PSSI tetap melakukan pembayaran gaji pemain, meski harus dicicil secara bertahap. Dia juga menjamin bahwa meskipun dicicil, namun kewajiban pembayaran itu bakal diselesaikan klub.
“Dalam podcast itu, kami membahas tentang kesulitan klub BRI Liga 1 pada tahun ini. Ada banyak klub yang bermasalah tentang pembayaran gaji pemain,” kata Yoyok Sukawi.
“Saya menjelaskan PSIS sempat mengalami hal yang sama karena sekarang ini perekonomian sedang sulit. Sepak bola sedang menurun karena adanya pandemi Covid-19 hingga Tragedi Kanjuruhan, sehingga sponsorship berkurang,” lanjut CEO PSIS Semarang itu.
“Cara PSIS menyiasati situasi ini ialah dengan mencicil gaji pemain, tetapi kami tidak terlambat satu bulan hingga dua bulan. Ini terjadi karena situasi keuangan kami sudah over budget. Pengeluaran jauh lebih besar daripada pendapatan,” ucapannya.
“Hal ini bukan hal baru di klub sepak bola Indonesia. Situasi ini sering diatasi klub-klub BRI Liga 1, termasuk PSIS. Kami selaku pemegang saham selalu berkomitmen untuk menyelesaikan masalah ini,” tambah Yoyok.
Lelaki yang juga menjabat sebagai Ketua Asprov PSSI Jawa Tengah itu bahkan mengatakan bahwa dirinya rela menjual beberapa aset seperti lahan tambak untuk mencari dana pembayaran gaji pemain PSIS Semarang.
“Ketika tidak ada yang untuk membayar gaji pemain, kami membutuhkan waktu untuk menjual tambak atau menjual aset. Kami juga butuh waktu untuk mencairkan deposito keluarga,” ujar Yoyok Sukawi.
“Kami punya komitmen itu untuk menyelesaikan semua kewajiban. Sebetulnya tidak ada masalah karena finansial PSIS Semarang ini cukup kuat. Hanya butuh re-scheduling saja,” lanjutnya.
Menurut Yoyok Sukawi situasi kesulitan yang dialami oleh klub ini sebetulnya juga dipahami oleh para pemainnya. Sebab, PSIS Semarang berusaha untuk selalu terbuka dengan para pemainnya.
“Namun, yang gajinya dicicil ini tidak semua pemain. Hanya pemain-pemain tertentu yang gajinya memang sangat besar. Saat tahap cicilan pertama itu, biasanya sudah memenuhi biaya hidup pemain,” kata Yoyok.
“Jadi kekurangannya dicicil berikutnya. Hampir semua pemain PSIS ini mengerti situasinya, karena kami juga terbuka dengan mereka. Saat nanti penonton sepi, mereka sudah mengira bahwa gaji atau bonus akan telat,” tutupnya.
(*) Edwin Fatahuddin

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi