Sabtu, 30 Mei 2026, pukul : 14:59 WIB
Surabaya
--°C

Amang Mawardi, 50 Tahun Bergiat di Literasi

KEMPALAN: Ibarat dua sisi mata uang, menyertai perjalanan hidup Amang Mawardi:  jurnalistik dan seni. Keduanya saling menopang, seiring sejalan. 

Alumni Stikosa-AWS ini terus berproses dan berkarya di usianya yang semakin senja. 

Menandai usianya yang ke-70 dan pergulatannya yang tiada henti selama 50 tahun di dunia literasi, hari Minggu kemarin,  5/11/2023, diadakan talk show dengan judul: Menjaga Eksistensi — di Rumah Dedikasi Soetanto Soepiady,  Semolowaru Elok Surabaya, dengan Pembicara Prof. Dr. Soetanto Soepiadhy dan Amang Mawardi. Sekaligus dirilis “Buku Waktu Tak Pernah Menipu” buku kumpulan puisi tunggal karya Amang. 

Buku kumpulan puisi ini merupakan buku kedua yang ditulisnya secara perseorangan. Sedangkan antologi puisi bersama beberapa penyair lain cukup banyak jumlahnya, antara lain yang diterbitkan bersama komunitas Wartawan Usia Emas (Warumas), Bengkel Muda Surabaya, dan Rumah Budaya Kalimasada Blitar. 

Dalam hal menulis buku, alumnus Stikosa-AWS tahun 1977 ini sudah menghasilkan 16 judul, yang dimulai sejak tahun 2007. 

Selain menulis puisi, cerpen dan bermain teater (saat muda), Amang Mawardi juga dikenal sebagai EO pameran lukisan. Ia pernah mengadakan event pameran lukisan dan kegiatan seni di Thailand, Australia dan Singapura. 

Tahun 2002 Amang bahkan menerima penghargaan dari Gubernur Jawa Timur kategori Penggerak Kesenian.

Sedangkan di sisi jurnalistik, perjalanan karier dan prestasinya sangat panjang. Karier jurnalistiknya diawali tahun 1975 saat menjadi koresponden Harian Pos Kota di Surabaya, sambil kuliah di Akademi Wartawan Surabaya (sekarang Stikosa-AWS). Kemudian bergabung dengan sejumlah media cetak lainnya. 

BACA JUGA  Menuju Panggung Asia: 12 Srikandi Muda Voli Indonesia Masuk Pelatnas

Dua belas penghargaan kejuaraan  jurnalistik dan karya tulis serta 2  kejuaraan  foto jurnalistik, telah diraih kakek 3 cucu ini.

Amang terus bergerak, terus menulis, walau kini ia tidak terikat atau bekerja di perusahaan media manapun.

“Wartawan itu profesi yang tak  mengenal pensiun. Dan puncak karier wartawan bukan sebagai pemimpin redaksi, melainkan menulis buku, yang lantas ditambahkannya dengan penuh semangat, “tentu saja buku yang bisa menginspirasi masyarakat, yang bisa memberi pencerahan. Sedangkan puncak jurnalisme adalah humanisme.” 

Ia terinspirasi dari karya-karya jurnalistik sahabatnya,  Peter Apollonius Rohi (almarhum), seorang wartawan idealis dan mengedepankan humanisme dalam tulisan-tulisan jurnalistiknya. Kenangan bersama sahabatnya itu ia tulis dalam buku “Senja Keemasan Peter A. Rohi” pada tahun 2021. 

Maka walaupun tidak lagi bekerja sebagai wartawan di perusahaan media, Amang terus menulis berbagai artikel yang dishare di FB-nya maupun di beberapa media online.

Tulisan-tulisan itu kemudian dikumpulkan dan diterbitkan sebagai buku. 

Pada tahun ini, sudah dua buku yang ia terbitkan. Yakni, “Memoar Wartawan Biasa Biasa, Di Senja Waktu Aku Tulis Buku” dan kumpulan puisi tunggal ke-2 ini.

BACA JUGA  Kanit Binmas Polsek Porong Pantau Lahan Jagung di Desa Kesambi

Dalam kesempatan tersebut, Prof Soetanto Soepiadhy yang juga dikenal sebagai penyair, menyebut bahwa karya-karya Amang Mawardi mengeksploitasi hal-hal kecil yang kemudian tereksplorasi ke persoalan umum. Profesor ilmu hukum itu mengambil contoh tentang tulisan Amang yang punya nilai humanis, yakni  kisah obrakan di emperan Apotek Simpang yang membuat si wartawan Amang muda saat itu kebingungan. Tulisan Amang tersebut jika lebih dieksplor lagi tentang kisah Pak Susilo yang dagangan majalahnya dirampas oleh Satpol PP, tentu akan menjadi lebih menarik. 

Hadir pada  talk show di Rumah Dedikasi Soetanto Soepiady ini, di antaranya  Imung Mulyanto, mantan pemred Arek TV; Karyanto, mantan redaktur opini Harian Surya; Henky Kurniadi  penggiat seni ketua komunitas Seduluran Semanggi Suroboyo; Achmad Zainuri  sutradara teater peraih Anugerah Gubernur Jatim 2012; Novi Yanto Aji wartawan dan novelis; Sjamsul Umur promotor musik; pelukis Desemba Sagita; penggiat ludruk Meimura; Udi Laksono wartawan senior; penyair Denting Kemuning, youtuber Herry Siswa  dan Cak Wahyu Pindarto serta sejumlah undangan lainnya.  

Toto Sonata wartawan yang penyair bertindak sebagai host. Ikut menyemarakkan acara yang berakhir pada pukul 22.00, penampilan musisi Bambang Jon dan Arul Lamandau.

(*) Penulis adalah wartawan senior dan Humas Stikosa AWS. Sasetya Wilutama

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.