Sabtu, 9 Mei 2026, pukul : 08:43 WIB
Surabaya
--°C

Gubernur Khofifah Buka East Java International Trade Festival

SURABAYA-KEMPALAN:Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa membuka East Java International Trade Festival di Grand City Surabaya, Selasa (30/5). Kegiatan yang diinisiasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim, Bank Pembangunan Daerah Jatim, dan Bank UMKM ini dihadiri sekitar 1.000 orang dari dunia usaha hingga pemerintah. 

“Forum ini strategis dan produktif. Misi dagang kita selama ini di Hongkong, Arab Saudi, dan lain-lain alhamdulillah terus bersambung,” kata Gubernur Khofifah dalam sambutannya. 

Gubernur Khofifah mengaku bersyukur telah melewati pandemi Covid-19 karena kerja keras dan kegotongroyongan semua pihak. “Ini hasil kerja produktif kita semua. Kegotongroyongan yang juga bisa mengantarkan kita mengendalikan pandemi,” ujarnya. 

Pada kesempatan ini, Khofifah menyerahkan sejumlah penghargaan bagi bupati/wali kota, eksportir, dan importir. Selain itu, ia juga meresmikan Desa Devisa Madura dan Desa Pendulum Devisa.

Desa Devisa tersebut adalah Pasar Batik Aromatik di Kabupaten Bangkalan dengan total jumlah 11 desa. Kemudian Pasar Daun Kelor dan Rumput Laut di Kabupaten Sumenep total 27 desa. 

“Batik Aromatik ini sesuatu sekali. Pasarnya sangat segmented dan sekarang makin meluas. Kemudian Kelor dan Rumput Laut yang dari Sumenep juga luar biasa. Mereka sudah beberapa kali ekspor ke Jerman,” terang Khofifah.

Sementara untuk Desa Pendulum Devisa terdiri dari Kampung Coklat Kabupaten Blitar dengan komoditas olahan coklat, Desa Ngindeng, Kabupaten Ponorogo dengan Koordinator PT. Enha Sentosa Indonesia, dan Desa Trayang, Kabupaten Nganjuk dengan Koordinator PT. Astana Shoga Asia dan komoditas Jahe. 

“Jika kemudian dari Desa Devisa berkembang menjadi eksportir itu bisa menghasilkan manfaat lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Makin tumbuh, makin turun tingkat kemiskinan. Makin tumbuh, makin turun pengangguran terbuka. Makin tumbuh, makin besar kesejahteraan yang bisa dirasakan masyarakat,” terangnya.

Gubernur Khofifah juga berharap agar penguatan ekonomi di desa berseiring dengan penurunan kemiskinan di desa. “Karena asumsi kita pasti akan terjadi pertumbuhan lebih inklusif di desa, makin banyak kesejahteraan yang menetes di desa, serta makin banyak inovasi dan kreativitas berbasis desa. Dan itu kita berharap akan berseiring dengan signifikasi penurunan kemiskinan di desa,” ujarnya.

Mulai Juli 2021, kata Khofifah, sudah tidak ada desa tertinggal di Jatim. Bahkan, sebaliknya. Ada 1.492 desa mandiri di Jatim. Jumlah itu merupakan tertinggi di antara provinsi di seluruh Indonesia. “Itu artinya bahwa kemandirian berseiring dengan pertumbuhan-pertumbuhan kreativitas inovasi dan ekonomi di desa,” jelasnya. 

Lebih lanjut Khofifah mengatakan, Pemprov Jatim ingin membangun penguatan ekonomi berbasis desa dengan market global. Oleh karenanya, East Java International Trade Festival juga melibatkan stakeholder perdagangan luar negeri. 

Di penghujung sambutannya, gubernur perempuan pertama di Jatim ini menyampaikan terima kasih kepada Disperindag Jatim dan seluruh pemangku kepentingan terkait atas terselenggaranya kegiatan ini. 

“Saya sampaikan terima kasih kepada seluruh stakeholder, baik dari dunia usaha, eksportir, importir, asosiasi, dan lain-lain. Disperindag Jatim juga harus tambah terus semangatnya dan semakin kuat sinergi seluruh stakeholder,” pesannya.

Sementara itu, Perwakilan Anggota Dewan Direktur Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) Kasan pada kesempatan yang sama mengungkapkan, LPEI atau Indonesia Exim Bank mengapresiasi kolaborasi seluruh pihak. 

Terutama upaya mereka dalam pengembangan dan fasilitasi UMKM untuk go ekspor. Karena, UMKM di Jatim memiliki potensi ekspor yang cukup besar. 

Kasan berharap East Java International Trade Festival dapat mendorong pelaku UKM di Jatim untuk menjadi eksportir sebagai kontributor, terutama pendongkrak sektor perdagangan luar negeri. 

LPEI sendiri merupakan lembaga khusus milik pemerintah berdasarkan UU Nomor 2 Tahun 2009. LPEI memiliki mandat untuk memberikan dan memfasilitasi pembiayaan ekspor nasional dalam bentuk pembiayaan ekspor, penjaminan ekspor, asuransi ekspor, dan jasa konsultan. Kegiatan pada hari ini di dalamnya adalah program Desa Devisa merupakan salah satu fokus LPEI. 

Sedangkan dari sisi mandat jasa konsultasi, LPEI memiliki produk dan layanan dalam mendorong pelaku UMKM melalui pelatihan dan pengembangan ekspor atau program peningkatan volume ekspor serta pendampingan akses pasar Desa Devisa. 

Program Desa Devisa, kata Iksan, bersifat community global. Bahkan Menteri Keuangan memberikan target yang cukup besar untuk membentuk Desa Devisa di seluruh Indonesia. 

“Setahu saya Ibu Menkeu menargetkan 5.000 Desa Devisa. Kami dengan seluruh jajaran ingin terus melakukan kolaborasi untuk mencapai target pengembangan Desa Devisa,” kata Iksan.

Sasaran Desa Devisa sendiri melibatkan komunitas (community development). Ada nelayan, petani, pengrajin, serta pelaku UMKM lain yang berorientasi ekspor. 

LPEI bertugas melakukan pendampingan akses pasar, peningkatan kualitas produksi, dan peningkatan kapasitas produk serta fasilitasi akses pembiayaan agar mereka dapat menjadi pelaku ekspor. 

Dalam rangka mendukung pertumbuhan ekspor di Jatim ini, LPEI mencatat sampai Mei 2023 telah memberikan pembiayaan kepada 65 eksportir dengan  outstanding sebesar Rp 2,98 triliun. 

“Mudah-mudahan tahun ini akan terus meningkat dan juga tahun depan lebih dari capaian pada saat ini sampai dengan bulan Mei,” katanya. 

Selain itu, LPEI juga telah memberikan pelatihan dan pendampingan kepada 351 UKM di Jatim dan 102 Desa Devisa yang berdampak pada 11.746 petani dan telah menciptakan sebanyak 77 eksportir baru pada sektor UKM. 

Dalam East Java International Trade Festival, LPEI bahkan secara khusus menampilkan tujuh klaster Desa Devisa. 

“Kami berharap seluruh tujuh Desa Devisa menjadi bagian dari binaan LPEI dan seluruh pihak termasuk Pemprov Jatim bisa menjadikan Desa Devisa ini bagian dari kontributor ekonomi di Jatim dan juga nasional,” harapnya.

Lepas Ekspor 

Selain menguak potensi ekspor Desa Devisa, Gubernur Khofifah pada kesempatan ini juga melepas ekspor produk milik enam perusahaan asal Jatim di Grand City Surabaya. 

Keenam perusahaan tersebut adalah PT Mitra Saruta Indonesia (Benang Warna Recycle), PT Indo Rasa Utama (Keripik Singkong), PT Pei Hai International Wiratama Indonesia (Alas Kaki), PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (Frozen Shrimp), PT Smoore Technology Indonesia (Vuse Alto Pod) dan PT Asal Jaya (Robusta Coffee Grade). 

Total nilai ekspor keenam perusahaan ini mencapai USD 18,80 juta atau Rp 282 miliar. Dengan negara tujuan ekspor Taiwan, Amerika Serikat, Italia dan Spanyol. 

Antara lain pelepasan ekspor komoditi kopi robusta 20 ton senilai USD 150 ke Taiwan. Kemudian ekspor udang beku perdana ke Amerika Serikat sebesar 15,24 ton atau USD 126,23 dan ekspor alas kaki 12,5 ton dengan nilai ekspor USD 99,9 juta tujuan Spanyol. 

Tampak hadir dalam kegiatan ini Konjen Australia di Surabaya Fiona Hoggart, Konjen Jepang, Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai I Untung Basuki, Anggota Dewan Direktur Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), Forkopimda se-Jatim, Kepala OPD di Pemprov Jatim serta Dirjen TETO dan Direksi BUMD Jatim. (Dwi Arifin)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.