Selasa, 9 Juni 2026, pukul : 03:29 WIB
Surabaya
--°C

Puisi Minggu Ini, Karya Mh. Iskan

KEMPALAN: Mengenang kembali Mh. Iskan yang pelukis, teatrawan, penari, dan penyair ini, saya muatkan puisi-puisi beliau yang indah itu. Hal ini guna mengingatkan kita, ucapan beliau bahwa pemain teater itu harus bisa menulis puisi, katanya. (aa)

Mh. Iskan

TANGANPUN MENGGAPAI MEGA

tanganpun menggapai mega 

kecil jarinya tapi ramping 

kutatap sang waktu 

melangkah juga 

kapas-kapas putih diantar angin utara

tanganpun menggapai mega 

serentak cahaya menerpa 

di keluasan yang jauh 

titik-titik yang mati 

adalah kekakuan bayangan 

yang dihimpit waktu

o, sunyinya 

tatapan pun akan sama saja 

kedirian yang digoyang di arena prahara

bukan mimpi 

atau peradaban zaman purba 

tapi kenyataan dalam bulatan waktu 

yang bergetar menahan kantuk 

menahan gejolak 

dilecutkan dari dasar bumi 

dari tamparan matahari 

tubuhku semakin bergoyang 

kemudian terbanting 

di tong sampah jalanan

kemudian terdengar irama jazz merayap

di dinding kaca etalase 

lalu aku terlena 

dalam kekerdilan ini 

tanganpun menggapai mega 

tak ada lagi 

yang mau dikerjakan 

lemas di sandaran kursi 

tak ada lagi bayang 

selebihnya cuma tulisan 

sobek 

dengan guratan tajam 

tangan pun berhenti 

sunyi adanya

Jakarta, 1975

mh. iskan

RUMPUT-RUMPUT BERGOYANG DI TANAH LAPANG

rumput-rumput bergoyang di tanah lapang, adik

rindu rumput rindu jemput menggamit jiwaku

BACA JUGA  "Bukan Emas, Tapi Berkelas: Skuad 'Leles' Mengguncang Dunia, FA7 Indonesia Kejar Mahkota"

adalah kehadiran yang memanjang dan menyesak

jika rumput-rumput bergoyangan di tanah lapang

sepotong dukana nyangkut di daun pintu 

dan aku menatap goyangan perdu 

di bendul jendela 

nyanyi sunyi di padang itu 

jangkrik pun menyusut sayapnya 

rindu rumput rindu lumut adalah menyatu

dalam tatapan warna senja

rumput-rumput bergoyang di tanah lapang, adik 

rumput rindu menyaput dukana 

yang membasuh warna malam

melantunkan suara merdeka 

damai di bumi damai adalah kerinduan 

seperti nyala rinduku padamu

Ngawi, 1976 

(dari: Tanah Kapur, 1986: hal. 8)

mh. iskan

AKRABNYA BIRU LANGIT DI ATAS BUKIT

akrabnya biru langit di atas bukit 

simponi menyusup lewat senja itu 

secangkir teh mengulum hasratku 

yang sekian kali kutahan 

dan alam adalah selimutku 

di sini

angin jatuh satu-satu 

sementara gembala itu meniti senja 

namun suara gaung doaku 

menepis punggung-punggung bukit 

mengalir di gerisik air mengelus batu-batu secangkir teh melewatkan sepiku 

dan doaku telah kuendap 

jadilah jiwa yang menuntunku ke lembah sana

dan perjalananku tak usah kau tangisi 

karena inilah hasrat untuk menembus waktu sampai kapan jam menghentikan detaknya akrabnya biru langit di atas bukit 

nyala sepiku menggugah 

aroma dan sendirian mengurut punggung bukit

BACA JUGA  Empat Ketakutan Terbesar Si Narsistik

di sini ku tatah namaku 

menjelang usia yang ketiga puluh enam

Ngawi, 1978

(dari: Tanah Kapur, 1986: hal. 10)

mh. iskan

LEMBAYUNG BAKUNG

lembayung bakung 

nagasari santapan pagi 

tak mungkin sirna oleh teknologi 

tak mungkin mati oleh gerigi-gerigi 

lembayung kangkung, serai madu, jenang ragi 

adalah tumbal raga, adalah ruh lembah cadasku 

yang tumbuh menurut getar jari-jari mencakari bumi 

yang tumbuh melumasi otot-otot bayi

napas lembayung daun kunci laos jahe 

adalah bau kesturi menggugah alam pagi 

menapaki ranjam batu dan desah tanah 

yang tergugah 

karena jiwa-jiwa yang pasrah 

kemurnian yang abadi

lembayung-lembayung bakung 

nagasari santapan pagi 

selalu kutemui setiap jengkal tanah 

dan tubuhku menyatu di pusar raganya

ngawi, 1993

(dari: Tanah Rengkah, 1998: hal. 11)

mh. iskan

SAJAK TEMBANG KAPUR

angin letih menepisi ranting 

dan bau tanah purba bangkit 

merebak di kulit bumi 

adalah nafas sukma yang bening

harumnya tanah kapur, coklatnya lembah 

tak mengubah niat yang tabah 

kali sunyi adalah rengkuh 

tembang megatruh 

menyusup jiwa-jiwa yang pasrah 

tak pernah istirahat 

adalah tonggak adalah akar adalah 

getar yang memuput bongkah tebing cadas 

dicium langit tak wingit

Ngawi, 1994 

(dari: Tanah Rengkah, 1998)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.