KEMPALAN: Mengenang kembali Mh. Iskan yang pelukis, teatrawan, penari, dan penyair ini, saya muatkan puisi-puisi beliau yang indah itu. Hal ini guna mengingatkan kita, ucapan beliau bahwa pemain teater itu harus bisa menulis puisi, katanya. (aa)
Mh. Iskan
TANGANPUN MENGGAPAI MEGA
tanganpun menggapai mega
kecil jarinya tapi ramping
kutatap sang waktu
melangkah juga
kapas-kapas putih diantar angin utara
tanganpun menggapai mega
serentak cahaya menerpa
di keluasan yang jauh
titik-titik yang mati
adalah kekakuan bayangan
yang dihimpit waktu
o, sunyinya
tatapan pun akan sama saja
kedirian yang digoyang di arena prahara
bukan mimpi
atau peradaban zaman purba
tapi kenyataan dalam bulatan waktu
yang bergetar menahan kantuk
menahan gejolak
dilecutkan dari dasar bumi
dari tamparan matahari
tubuhku semakin bergoyang
kemudian terbanting
di tong sampah jalanan
kemudian terdengar irama jazz merayap
di dinding kaca etalase
lalu aku terlena
dalam kekerdilan ini
tanganpun menggapai mega
tak ada lagi
yang mau dikerjakan
lemas di sandaran kursi
tak ada lagi bayang
selebihnya cuma tulisan
sobek
dengan guratan tajam
tangan pun berhenti
sunyi adanya
Jakarta, 1975
mh. iskan
RUMPUT-RUMPUT BERGOYANG DI TANAH LAPANG
rumput-rumput bergoyang di tanah lapang, adik
rindu rumput rindu jemput menggamit jiwaku
adalah kehadiran yang memanjang dan menyesak
jika rumput-rumput bergoyangan di tanah lapang
sepotong dukana nyangkut di daun pintu
dan aku menatap goyangan perdu
di bendul jendela
nyanyi sunyi di padang itu
jangkrik pun menyusut sayapnya
rindu rumput rindu lumut adalah menyatu
dalam tatapan warna senja
rumput-rumput bergoyang di tanah lapang, adik
rumput rindu menyaput dukana
yang membasuh warna malam
melantunkan suara merdeka
damai di bumi damai adalah kerinduan
seperti nyala rinduku padamu
Ngawi, 1976
(dari: Tanah Kapur, 1986: hal. 8)
mh. iskan
AKRABNYA BIRU LANGIT DI ATAS BUKIT
akrabnya biru langit di atas bukit
simponi menyusup lewat senja itu
secangkir teh mengulum hasratku
yang sekian kali kutahan
dan alam adalah selimutku
di sini
angin jatuh satu-satu
sementara gembala itu meniti senja
namun suara gaung doaku
menepis punggung-punggung bukit
mengalir di gerisik air mengelus batu-batu secangkir teh melewatkan sepiku
dan doaku telah kuendap
jadilah jiwa yang menuntunku ke lembah sana
dan perjalananku tak usah kau tangisi
karena inilah hasrat untuk menembus waktu sampai kapan jam menghentikan detaknya akrabnya biru langit di atas bukit
nyala sepiku menggugah
aroma dan sendirian mengurut punggung bukit
di sini ku tatah namaku
menjelang usia yang ketiga puluh enam
Ngawi, 1978
(dari: Tanah Kapur, 1986: hal. 10)
mh. iskan
LEMBAYUNG BAKUNG
lembayung bakung
nagasari santapan pagi
tak mungkin sirna oleh teknologi
tak mungkin mati oleh gerigi-gerigi
lembayung kangkung, serai madu, jenang ragi
adalah tumbal raga, adalah ruh lembah cadasku
yang tumbuh menurut getar jari-jari mencakari bumi
yang tumbuh melumasi otot-otot bayi
napas lembayung daun kunci laos jahe
adalah bau kesturi menggugah alam pagi
menapaki ranjam batu dan desah tanah
yang tergugah
karena jiwa-jiwa yang pasrah
kemurnian yang abadi
lembayung-lembayung bakung
nagasari santapan pagi
selalu kutemui setiap jengkal tanah
dan tubuhku menyatu di pusar raganya
ngawi, 1993
(dari: Tanah Rengkah, 1998: hal. 11)
mh. iskan
SAJAK TEMBANG KAPUR
angin letih menepisi ranting
dan bau tanah purba bangkit
merebak di kulit bumi
adalah nafas sukma yang bening
harumnya tanah kapur, coklatnya lembah
tak mengubah niat yang tabah
kali sunyi adalah rengkuh
tembang megatruh
menyusup jiwa-jiwa yang pasrah
tak pernah istirahat
adalah tonggak adalah akar adalah
getar yang memuput bongkah tebing cadas
dicium langit tak wingit
Ngawi, 1994
(dari: Tanah Rengkah, 1998)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi