Senin, 8 Juni 2026, pukul : 05:52 WIB
Surabaya
--°C

Safari Ramadan, Gubernur Khofifah Jelajahi Masjid-Masjid Legendaris di Jawa Timur

SURABAYA-KEMPALAN: Selama bulan Ramadan, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa aktif melakukan safari ramadan dengan Tarawih keliling Jawa Timur serta berkunjung dan menjelajahi masjid- masjid legendaris di kabupaten/kota di Jawa Timur. 

Di masjid-masjid itu, Khofifah melakukan salat Tarawih bersama jamaah, membagi beras, serta berziarah ke makam para ulama/ habaib leluhur yang memiliki peran besar dalam pembangunan peradaban dan keagamaan di Jawa Timur.

Salah satunya saat Khofifah salat Tarawih di Masjid Jami’ Kabupaten Gresik yang di dalamnya juga terdapat makam Habib Abu Bakar bin Muhammad Umar Assegaf, Minggu (26/3) malam. 

Ziarah tersebut dilakukan setelah menunaikan salat Tarawih bersama Bupati Gresik Fandi Akhmad, Wakil Bupati Gresik Aminatun Habibah, dan masyarakat sekitar. 

Dalam ziarahnya, Ketua Umum PP Muslimat NU itu tampak khusyuk mengikuti zikir doa sekaligus menabur bunga di makam Habib Abu Bakar bin Muhammad Umar Assegaf dan Habib Alwi bin Muhammad Hasyim Assegaf. 

Setelah berdoa, Khofifah mengatakan, kehidupan Habib Abu Bakar Assegaf memiliki keteladanan yang luar biasa. Di antaranya tentang kesalehan, keilmuan, dan kesederhanaan Habib Abu Bakar Assegaf.

“Selain sederhana, beliau orang yang salih dan alim dikenal memiliki karomah dari Allah,” ujarnya. 

Menurut  Khofifah, dari berbagai referensi semasa hidup Habib Abu Bakar Assegaf merupakan pemimpin wali sedunia. Sehingga, Habib Abu Bakar mendapat julukan Al Qutb atau pimpinan para wali. 

Kedalaman dan kejernihan hati yang dimilikinya telah melahirkan pelajaran hidup yang sangat besar dan bermanfaat bagi manusia. Khususnya, kesederhanaan dan menolong sesama yang benar-benar membutuhkan. 

Untuk mengenang perjuangannya sebagai seorang ulama, di Gresik terdapat tradisi haul setiap tahun yang bertepatan pada tanggal 17 Dzulhijjah. Pusat acara difokuskan di kediamannya Jalan KH. Zubair dan Masjid Jami’ Gresik depan alun-alun. 

“Acara ini selalu menjadi magnet bagi ribuan peziarah yang datang dari banyak penjuru negeri khususnya masyarakat Jawa Timur maupun para tokoh-tokoh politik,” tandasnya. 

Kunjungi Masjid Jami’ Gresik

Masjid Jami’ Gresik menyimpan sejarah, di mana masjid ini dibangun oleh seorang ulama dan saudagar perempuan yang termasyhur kala itu, yaitu Nyai Ageng Pinatih.

Menurut literatur sejarah, Masjid Jami’ Kabupaten Gresik dibangun oleh Nyai Ageng Pinatih pada tahun 1412 Masehi di atas sebidang tanah yang merupakan hadiah dari Raja Brawijaya. Untuk memaksimalkan hadiah itu, tidak hanya perlu bekal ilmu agama tetapi juga ilmu dagang atau ilmu ekonomi.

BACA JUGA  Polsek Sidoarjo Kota Pantau Perkembangan Lahan Jagung Desa Lebo Dukung Swasembada Pangan

Dari ilmu agama, para gurunya yaitu Syaikh Maulana Malik Ibrahim dan Raden Rahmatullah alias Sunan Ampel di Surabaya yang keduanya juga mahir ilmu dagang, Nyai Ageng Pinatih mampu menyebarkan Islam kepada warga di tanah Gresik.

Nyai Ageng Pinatih menyadari bahwa menyebarkan Islam tidak hanya berbekal ilmu agama. Perlu juga diimbangi dengan kekuatan ekonomi yaitu dengan berdagang. Dengan kapal yang dimiliki ia mampu menjual hasil bumi ke wilayah lain, baik di wilayah Majapahit maupun Blambangan serta wilayah lain.

“Dari Nyai Ageng Pinatih ini, kita belajar bahwa sejak zaman dahulu kala kebangkitan agama juga harus berseiring dengan kemandirian ekonomi,” tuturnya.

Nyai Ageng Pinatih adalah sosok yang berhasil dalam berdagang. Hal itu ditandai dengan kepemilikan kapal dagang yang banyak. Dan, pada 1458 M, Kerajaan Majapahit mengangkatnya sebagai Syahbandar Pelabuhan Gresik yang bertugas memungut bea cukai dan mengawasi kapal-kapal dagang asing.

Nyai Ageng Pinatih adalah syahbandar terkenal di zamannya dan perempuan pertama di Nusantara yang mengurusi bea cukai. Sampai meninggal tahun 1478 Masehi, Nyai Ageng Pinatih dikenal ulama perempuan yang juga menjadi kepala pelabuhan era Kerajaan Mejapahit.

“Nyai Ageng Pinatih ini perempuan hebat, beliau lebih dikenal sebagai saudagar, syahbandar juga daripada seorang ulama perempuan,” ucapnya.

Tarawih di Masjid Agung Sewulan

Tidak sampai di sana, safari ramadan Gubernur Khofifah juga berlanjut  di malam ketujuh Ramadan 1444 Hijriyah, di mana ia melakukan salat Tarawih di Masjid Agung Sewulan dilanjutkan  berziarah ke makam leluhur Gus Dur, yakni Kyai Ageng Basyariah, di Dusun Sewulan Wetan, Desa Sewulan, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, Selasa (28/3) malam. 

Gubernur Khofifah menyebut, Kyai Ageng Basyariah ini adalah sosok ulama yang konsisten mengajarkan nilai-nilai spiritual sebagai lokomotor perubahan. Salah satu keberhasilan Kyai Ageng Basyariah ialah memperjuangkan Sunan Pakubuwono II dalam perebutan tahta Mataram Kartasura melawan Sunan Kuning.

“Kyai Ageng Basyariah ini adalah pemimpin juga ulama. Dengan kedalaman ilmu agama yang dia miliki, Kyai Ageng berperan besar atas kembalinya kekuasaan Kasunanan Pakubuwono II,” katanya.

Dihimpun dari berbagai sumber, Kyai Ageng Basyariah atau Raden Mas Bagus Harun adalah leluhur dari Presiden keempat RI KH. Abdurrahman Wahid dari KH. Wachid Hasyim. Kyai Ageng Basyariah ini dikenal sebagai sosok yang cerdas, alim, dan tawadhu. 

BACA JUGA  Khofifah Tegaskan Kekuatan Jatim Sebagai Pemain Utama Rantai Halal Nasional

Bagus Harun (Basyariah) adalah putranya Adipati Ponorogo yang menjadi santri di Tegal Sari Ponorogo. Sewaktu Paku Buwono II mengungsi ke Tegal Sari karena Keraton Solo direbut oleh Mas Garendi (Sunan Kuning),
Paku Buwono II minta tolong kepada Kyai Tegal Sari Ponorogo untuk membantunya.

Kyai  Tegal Sari lantas memerintahkan santrinya, yaitu Bagus Harun (Basyariah). Setelah berhasil mengalahkan Raden Mas Garendi, akhirnya Bagus Harun (Basyariah) mendapat hadiah berupa Songsong dari Paku Buwono II.

Kemudian RM. Bagus Harun (Basyariah) pulang ke Tegal Sari Ponorogo, medapatkan pula Tanah Perdikan di Sewulan. Di tanah ini,  ia kemudian mendirikan masjid dan pesantren sebagai upaya dakwah agama Islam.

Atas jasa perjuangannya, Kyai Ageng Basyariah hendak dijadikan Adipati Banten. Namun ia menolak dan memilih kembali ke pesantren. 
“Sifat tawadhu’ beliau perlu diteladani, bahwa saat menggengam keberhasilan, harus tetap rendah hati,” imbuhnya.

Pada Tahun 1.740 M, Kyai Ageng Basyariah mendirikan Masjid Agung Sewulan yang hingga saat ini masih berdiri kokoh. Masjid Agung Sewulan ini memiliki corak bangunan khas Jawa yang tetap dipertahankan, atap yang terdiri dari tiga susun, disertai kolam air untuk cuci kaki, dan gapura yang kokoh.

“Masjid tempat kita salat Tarawih ini adalah peninggalan Kyai Ageng Basyariah, semoga kita semua mampu meneladani beliau, ketawadhuannya dan bagaimana menjadi pemimpin yang juga ulama,” harap Khofifah.

Sementara nasab yang ditarik dari garis neneknya Presiden RI keempat Gus Dur, masih keturunan dari Bagus Harun (Basyariah) dan pada masa kecilnya Presiden keempat Gus Dur pernah tirakat di Sewulan.

Apabila di runut ke atas Bagus Harun (Basyariah) anaknya Adipati Ponorogo yang merupakan Cucu Buyutnya Panembahan Senopati dan apabila ditarik  lebih ke atas lagi adalah  keturunan dari salah satu Raja Majapahit Bhre Brawijaya.

Sebelum berziarah, orang nomor satu di Jatim ini bersama Bupati Madiun Ahmad Dawami dan Wakil Bupati Madiun Hary Wuryanto melaksanakan salat Tarawih berjamaah bersama masyarakat Desa Sewulan di Masjid Agung Sewulan. 

Tak hanya itu, gubernur perempuan pertama di Jatim ini juga membagikan 400 kantong beras yang masing-masing beratnya 3 kg kepada seluruh jamaah salat Tarawih. (Dwi Arifin)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.