Jumat, 17 April 2026, pukul : 22:29 WIB
Surabaya
--°C

Puisi-Puisi Minggu Ini: Warok Sutejo

Warok Sutejo
IBADAH PUISI

Di ranjang aku beribadah kesekian kali, aku lupa menghitung. Kepada senja aku idem saja pada SGA. Kepada rindu aku titipkan pada Rendra, SDD, dan Jokpin. Ibadah puisi adalah jalan spiritualitas sepi, jalan sempit, dipenuhi ilalang dan perdu. “Semoga tak membeku, temui aku. ” ucap jalan sunyi sambil menggerakkan bibir. “Ini istana, bukan hutan! ” Bersenang-senanglah sambil bernyanyi. Bernyanyi sambil menari. Puisi beraneka ragam saling bersaing menikam dan menendang. Satu puisi terguling-guling kemudian terkapar. Puisi yang lain teriak dan menguar, mengabarkan bahagia dan sedih yang saling menindih. Puisi-puisi itu berebut panggung untuk terus berekspresi. Antara sakral dan binal, bagaimana membedakannya?

*

Warok Sutejo
KESAMBET PUISI

Sejak kecil, kau tak tahu, jika aku pembenci puisi. Kaulah pembuat gila aku berpuisi. Liuk jalan sempit, berjejal dan deras arus sungai pegunungan itu sebabnya. Di sungai pegunungan itu bagaimana deras, curam, dan batu-batu besar mengepung dan menganyutkan. Tenggelam di rumah puisi berdinding seni, berdapur legit, berpintu gairah. Sungguh, bagai Cak Nun: kesambet aku. Burung gereja melompat dari ranting ke kecil ke ranting lainnya. Burung terkuku mengangguk memainkan patuk dengan suara. Burung perkutut mengiringi dengan tasbih suara bahagia. Kita adalah sepasang burung tanpa nama dan jenis yang terbang dan terus mengepakkan sayap imajinasi, melintasi bukit, pegunungan, hutan, dan jurang dalam emosi sepasang elang, dengan kekuatan dan kecepatan paruh serta sayapnya.

*

Warok Sutejo
RUH PUISI YANG MENJALAR

Aku kerasukan ruh puisi menjalar di seluruh tubuh. Kesentuhan dan kesetanan di ranjang, seperti seorang serdadu brutal mengungkit popor, membunuh mangsa dengan selusin emosi mencabik kemakmuran. Akal hilang beterbangan oleh puting beliung meliuk dan menukik di berliku jalan puisi. Jalan ibadah sepi nan riuh dengan belasan taring imajinasi. Di liuk tubuh penyanyi kita memintal ulang melodi hingga pita suara hilang, tak bersuara, hanya bisik yang terus berisik mengusik dan membabat perdu jiwa. Sepasukan serigala berlari bekejaran, saling menikam dan menerkam. Beranda kengerian.

*

Warok Sutejo
PUISI DALAM LENGKARA

Tercengang guling dan bantal menonton fragmen musikalisasi puisi subtil mengutil kesadaran digantung di cantolan baju di balik pintu. Terjantur. Aku terkesima oleh jalan puisi. Termangu-mangu dalam lembab. Sepuluh ingus meleleh karena gigil hangat tubuh membakar puisi demi puisi, luruh tinggalkan bibir puisi. Terpana. Parade persembahan dan sesembahan pemuja dan dipuja bertemu di lengkara rasa. Menjulang laksana bukit Jabal Rahman. Di balik seprei selusin puisi tersisa menunggu dibaca dan dideklamasikan. Kita adalah deklamator puisi yang siap setiap saat, sesekali berpantomim dengan ratusan gerak dan ribuan ekspresi. Kadang, begitu mendadak. Meledak.

*

Warok Sutejo
LANSKAP PUISI

Surup waktu kau datang bersama bianglala, cicit burung senja, sebagian terbang berputar merayakan kemerdekaan. Kedua sayap mengepak menerbangkan dan menembangkan larik-larik lagu, menjelma puisi keranjingan memanah dadamu. Kalap. Kesampukan adalah keikhlasan tersentuh dalam kekalapan. Kedatangan dan kepergian apa beda ketika akal telah bertukar, berubah akal. Edan. Percakapan dan perbincangan maya adalah fatamorgana surga berlantai tujuh terlelap dalam mahligai pesona. Sepasang anak kecil bermain kelereng, wok-wokan dengan gelak tawa.
Lanskap puisi seperti permainan anak kecil atau kegilaan dewasa meliarkan renjana.

*

Warok Sutejo
PUISI DI DADAMU

Lupa diri saat kau tunaikan ibadah puisi dikulum sepi dipagut sunyi. Gigil safih.
Sakit ingatan tersengat ilusi ruang pesta renjana. Berpasang penari dansa setengah telanjang dibungkus remang, kau di mana?
Situasi remang, musik eksotik, disco terus meracau, kuburu kau hingga ke halaman pub, samping, ruang dapur, hingga di toilet. Gemuruh itu tetap bergelora, menggelora. Gelora di dalam dan di luar sama mencekamnya. Gerbang istana tidak terjaga, ada dua burung bercumbu di antara ranting pohon besar sebelah istana, rerimbunan daun adalah ranjang teduh tersingkap oleh kuning rembulan, tepat di buah dadamu. (*)

Jakarta-Bogor-Mataram, 2018-2019

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.