Saya juga jelaskan: kalau ke drh Yuda jangan minta diagnosis. Juga jangan minta diperiksa. Beliau tidak mau melakukan itu. Beliau tahu dirinya bukan dokter.
Maka beliau juga tidak akan bertanya Anda sakit apa. Beliau tidak praktik sebagai dokter.
Hanya saja drh Yuda punya protein-sel. Bikinannya sendiri. Ia bisa dan mau menyuntik Anda dengan suntikan protein-sel tersebut.
Istilah ”protein-sel” itulah yang rupanya bisa menimbulkan salah paham. Seorang dokter bertanya:
“Cell protein itu cell atau protein? Katanya, cell-nya itu dipisahkan, tidak ikut proses. Prosesnya adalah kultur. Setahu saya (yang bukan biochemist) yang dikultur itu cell. Protein tidak bisa dikultur. Penggandaan molekul ada yang disebut PCR. Seperti pada Covid.”
BACA JUGA: Rifda Widi
Tentu saya tidak bisa menjawab pertanyaan seperti itu.
Awalnya saya sendiri juga punya persepsi seperti dokter yang bertanya tersebut: menyamakan protein-sel dengan protein biasa seperti protein yang sudah kita kenal. Yakni protein yang kita konsumsi lewat makanan itu; protein ikan atau protein telur.
Sebenarnya dalam tulisan yang lalu saya sudah menyebut ”protein-sel”. Artinya bukan protein biasa. Tapi karena ada nama protein di depannya, tetap saja menimbulkan salah pengertian.
Melihat banyaknya salah pengertian itu, saya pun mengajukan pertanyaan baru kepada drh Yuda: “Mengapa Anda menggunakan istilah protein-sel? Mengapa tidak pakai nama ilmiahnya saja, sekratom?”

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi