Tagar #DarrylBikinMaluNegara menjadi viral berawal dari tulisan Darryl yang dimuat di instagram story (16/11). Dalam snapgramnya itu Darryl mempertanyakan mengapa ruang demokrasi masyarakat–terutama mahasiswa melalui diskusi akademik–itu harus dibatasi karena G20.
Darryl mempertanyakan, mengapa ada upaya represif dari aparat dengan menangkap beberapa mahasiswa yang melakukan protes terhadap masalah lingkungan dalam bentuk kerusakan ekosistem. Terlepas apakah kawan-kawannya mendukung atau menolak, Darryl menggugat bagaimana nasib kehidupan demokrasi yang dimiliki mahasiswa. Apa yang dia sampaikan di dalam story itu adalah upaya untuk memantik diskusi. Ia pun selalu menyematkan tanda tanya questions box.
BACA JUGA: Rocky Gerung dan Operasi False Flag
Dia mengatakan tidak ada niat memprovokasi, dia hanya mempertanyakan apakah diskusi sebagai bagian dari hak demokrasi sudah dilarang. Dia membantah tuduhan yang menyebut dirinya sebagai salah satu orang yang memprovokasi penolakan KTT G20.
Darryl terkejut oleh serangan berbagai akun terhadap dirinya. Ia mencurigai serangan itu diorkestrasi oleh kelompok tertentu dengan mempergunakan robot dan akun-akun bodong. KTT G20 adalah forum demokratis yang dihadiri 20 kepala negara demokratis. Tetapi, rundungan yang dilakukan terhadap Darryl tidak sesuai dengan prinsip demokrasi yang menghormati kebebasan berpendapat dan berekspresi.
Rundungan semacam itu tidak hanya ditujukan kepada aktivis di Indonesia. Di Inggris, seorang aktivis sayap kanan dan seorang influencer bernama Mahyar Tousi merasakan kerasnya gempuran netizen Indonesia. Saking gencarnya gempuran itu Tousi sampai meminta ampun dua kali.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi