Pelaksanaan KTT ini diglorifikasi supaya terlihat sempurna 100 persen. Aparat keamanan dikerahkan full power. Tidak boleh ada protes sedikitpun. Bahkan, seorang emak yang membentangkan poster pun harus diamankan. Sebanyak 26 mahasiswa NTB yang melakukan demonstrasi dibubarkan dan ditangkap oleh polisi.
Hajatan G20 diagungkan tanpa boleh ada kritik sedikitpun. Hajatan ini harus menjadi pameran kehebatan yang sempurna. Siapa saja yang melakukan kritik sekecil apapun akan dihajar, dan dituduh sebagai subversif dan mempermalukan negara.
BACA JUGA: Delapan Miliar
Darryl Dwi Putra ialah aktivis mahasiswa yang ingin melihat KTT G20 dari kacamata yang kritis. Sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Udayana, Bali, Darry memberikan kritik melalui beberapa aktivitas diskusi di kampus bersama teman-temannya.
Tapi, yang terjadi kemudian Darryl dirundung habis-habisan dan diserbu oleh serangan netizen yang murka. Sepanjang hari ini (17/11) tagar #DarrylBikinMaluNegara menjadi trending topik di Twitter. Darryl dianggap mempermalukan Indonesia di mata dunia karena sikapnya yang kritis terhadap G20.
Kalau suara kritis dari mahasiswa dibungkam dengan cara-cara seperti ini, maka ruang demokratis di Indonesia sudah semakin menyempit, kalau tidak disebut sudah habis tergusur. Ruang demokrasi itu hilang dilindas oleh mobokrasi baru dalam bentuk serangan netizen. Ruang demokrasi itu menyempit karena digusur oleh glorifikasi yang berlebihan terhadap seorang pemimpin populis dalam sosok Jokowi.
Darryl dan kawan-kawannya kerap melakukan diskusi untuk melihat secara kritis sisi baik dan buruk dari G20. Namun, menurut Darryl, diskusi-diskusi kritis mahasiswa yang dia lakukan selalu mendapat intimidasi baik dari internal kampus maupun pihak luar.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi