Hampir semua penumpang memilih berdasarkan pertimbangan emosional, bukan atas pertimbangan rasional. Karena itu, tawaran program yang disampaikan oleh calon pilot pertama tidak terlalu menarik, meskipun sebenarnya program itu sangat bagus dan bahkan mutlak harus dilakukan oleh seorang pilot.
Sebaliknya, program yang ditawarkan oleh calon pilot kedua sangatlah menarik. Semua penumpang pesawat pasti ingin naik kelas eksekutif atau kelas bisnis yang nyaman. Karena itu tawaran program calon pilot nomor dua sangat menarik, meskipun sebenarnya sang kandidat tidak mempunyai kemampuan kompetensi dasar mengenai penerbangan, dan tidak tahu mengenai aturannya.
BACA JUGA: Golkar Kopeg
Dalam sistem pemilihan demokrasi liberal langsung pilot kedua akan mudah memenangkan pemilihan. Apalagi jika para penumpang mempunyai tingkat pengetahuan dan pendidikan yang tidak terlalu tinggi, janji-janji yang muluk itu pasti jauh lebih menarik ketimbang janji yang lebih rasional.
Singkat cerita, pilot kedua terpilih secara landslide, dengan selisih suara yang sangat besar. Dia terpilih menjadi pilot dan penerbangan akan dimulai. Tapi, mungkinkan semua penumpang akan naik ke kelas eksekutif? Janji-janji kampanye akan tetap menjadi janji kampanye.
Itulah tamsil demokrasi dalam metafora pilot pesawat itu. Dalam sistem pemilihan demokrasi liberal, seringkali terjadi seorang pilot yang tidak kompeten terpilih menjadi pemimpin penerbangan. Calon pemuimpin yang berkampanye tidak dilihat dari programnya yang realistis dan rasional, tapi dari janji-janji politik yang lebih mengaduk suasana emosional.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi