Kritik Fun Football PSSI dan FIFA: Media Inggris: Tuli, Tidak Peka

waktu baca 2 menit
Presiden FIFA Gianni Infantino dan Iwan Bule tertawa bersama saat bermain Fun Football (*)

JAKARTA-KEMPALAN: Media ternama Inggris, The Athletic menulis kritik keras pada Presiden FIFA, Gianni Infantino dan Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan karena menggelar fun football di tengah kesedihan masyarakat karena tragedi Kanjuruhan.

The Athletic bahwa mengecap Infantino sebagai orang tuli karena dinilai tidak memiliki empati kepada para korban tragedi Kanjuruhan.

PSSI baru saja mengadakan acara fun football bersama Presiden FIFA Gianni Infantino di Stadion Madya, Senayan, Jakarta, pada Selasa (18/10) malam lalu.

Acara fun football tersebut diadakan setelah Presiden FIFA, Gianni Infantino bertemu dengan Presiden Indonesia Joko Widodo di di Istana Negara, pada Selasa (18/10) siang.

Acara Fun football itu menuai banyak kritikan kritik keras dari masyarakat karena Presiden FIFA dan PSSI dianggap ‘bersenang-senang’ di atas penderitaan korban tragedi Kanjuruhan.

Tak hanya masyarakat Indonesia, kegiatan tersebut ternyata juga menuai sorotan dari media internasional.

BACA JUGA: Harapan Thomas Doll: Penonton Tetap Bisa Hadir saat Liga 1 Berlanjut

Salah satunya dari media besar di Inggris, The Athletic ikut mengkritik PSSI dan FIFA dengan menyebut Presiden FIFA, Infantino sebagai orang tuli dan minus kepekaan di tengah situasi duka.

“Tuli, tidak peka, menggunakan istilah ‘bencana’ dalam komunikasi publik tetapi benar-benar merendahkan, dia tidak tahu apa arti kata tersebut,” tulis The Athletic.

Selain Infantino, The Athletic juga mengkritik PSSI yang secara mentah-mentah menerima ajakan Infantino untuk bermain Fun Football.

“Untuk orang-orang yang kehilangan terkasih dari hidup mereka, hidup dari luka-luka dari serangkaian kesalahan yang menyebabkan kematian fans sepak bola yang seharusnya dapat dihindari, ini perilaku memuakkan dari orang berkuasa.” lanjut The Athletic.

“Ketidaktepatan Infantino, dan tindakan tuan rumahnya, adalah kesalahan penilaian yang besar, hal ini harus dipastikan tidak terjadi lagi.” tutup The Athletic.

(*) Edwin Fatahuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *