Ganjar memakai jurus-jurus lama yang sudah dipakai oleh Jokowi. Dengan melakukan emulasi itu Ganjar menempatkan positioning politiknya sebagai suksesor alamiah dari Jokowi. Sementara Anies memberikan penampilan yang berbeda dari produk politik sebelumnya. Anies menawarkan alternatif baru dari status quo lama.
Dua strategi marketing politik ini berbeda, dan sama-sama mampu menarik minat publik. Dua kandidat ini akan menjadi ‘’two horse race’’ dua kuda pacuan yang akan terus berbacu sampai finish.
Anies sudah mendapat separo tiket dari Partai Nasdem, Prabowo juga sudah menggenggam separo tiket dari partainya sendiri, Partai Gerindra. Ganjar masih HC2 alias harap-harap cemas menunggu tiket, karena sampai sekarang partainya sendiri, PDIP, belum terlihat akan memberikan tiket kepada Ganjar.
BACA JUGA: Muhammad
Sejarah politik Indonesia pasca-Orde Baru mengenal silkus 10 tahunan, dengan munculnya figur alternatif yang mampu menyedot histeria massa. Pada 2004 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) muncul sebagai fenomena satria piningit. Ia menjawab kerinduan publik akan munculnya pemimpin yang gung binantara yang mampu membawa praja menjadi negara yang makmur gemah ripah loh jinawi.
SBY adalah fenomena. Penampilannya sangat presidential ‘’mresideni’’. Ia menjadi idola ibu-ibu yang terpesona oleh tampilan fisiknya yang gagah. Ia menghipnotis publik dengan karisma dan wibawanya. Ia menata citranya dengan teliti dalam setiap penampilan. SBY adalah sosok satria piningit yang paripurna.
Siklus 10 tahunan SBY berakhir. Publik yang sudah bosan dengan penampilan yang serba formal, menginginkan pemimpin baru yang bisa menjadi alternatif. Enter Jokowi. Masuklah Jokowi. Dalam kondisi vakum itu muncullah Joko Widodo sebagai alternatif yang benar-benar berbeda dari produk sebelumnya. Jokowi adalah antitesa SBY yang mampu merebut perhatian publik karena tampilannya yang benar-benar beda.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi