Dalam beberapa kesempatan Tito Karnavian dianggap terlibat dalam skenario politik. Dalam kasus dugaan korupsi yang melibatkan Gubernur Papua Lukas Enembe, Tito Karnavian disebut berusaha menyodorkan anak buahnya untuk mengisi posisi wakil gubernur Papua yang kosong.
Kubu Lukas Enembe mengatakan bahwa Tito Karnavian, bersama Menteri Bahlil Lahadalia, menemui Lukas Enembe untuk menitipkan Komjen Polisi Paulus Waterpauw menjadi wakil gubernur menggantikan Klemen Tinal yang meninggal dunia.
Gubernur Lukas Enembe menolak dengan halus dengan mempersilakan Paulus Waterpauw untuk mengumpulkan dukungan dari partai pengusung. Syarat ini tidak bisa dipenuhi dan Paulus Waterpauw gagal menjadi wagub Papua. Insiden ini disebut sebagai pemicu munculnya kriminalisasi terhadap Lukas Enembe.
BACA JUGA: Politik Ganjen
Kontroversi ini menjadi perdebatan. Tito Karnavian memegang segepok cek kosong yang bisa diisinya dengan ratusan nama siapa saja untuk menjadi penjabat kepala daerah. Kasus Papua dan Aceh menjadi indikasi awal adanya permainan politik dalam penunjukan kepala daerah. Hubungan Tito Karnavian dengan Budi Gunawan akan menjadi sorotan untuk menguji netralitasnya.
Aceh dan Papua menjadi contoh kasus pertama. Dua wilayah itu kebetulan pernah menjadi DOM. Sekarang Aceh menjadi DOI (daerah operasi intelijen) dengan diangkatnya dua petinggi BIN sebagai penjabat kepala daerah.
Papua dan daerah-daerah lain, sangat mungkin, akan menyusul menjadi DOI juga. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi