MALANG-KEMPALAN: Trauma mendalam dialami oleh beberapa suporter Arema FC, Aremania usai mengalami secara langsung tragedi di Stadion Kanjuruhan.
Tragedi terjadi di Stadion Kanjuruhan usai Arema FC mengalami kekalahan dari sang rival bebuyutan Persebaya Surabaya di lanjutan pekan ke-11 Liga 1 musim 2022-2023.
Tragedi tersebut menewaskan ratusan suporter. menurut oleh Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo korban jiwa menurut berjumlah total 131 orang.
Banyaknya korban dalam tragedi itu kemudian membuat beberapa Aremania merasa terpukul harus menyaksikan saudaranya merenggut nyawa.
BACA JUGA: FIFA Siap Bantu Perbaiki Sepakbola Indonesia
Tidak sedikit dari Aremania yang selamat merasa trauma dan enggan untuk kembali mendung Arema FC di stadion.
“Untuk sementara dukung dan nonton lewat televisi dulu,” kata seorang Aremania bernama Hadi.
“Selain masih takut datang ke stadion, ini juga sebagai bentuk penghormatan untuk rekan-rekan Aremania yang menjadi korban tragedi 1 Oktober kemarin.” tambah Hadi.
“Makanya teman-teman juga menggantung syal di beberapa jembatan di Malang untuk sementara tidak nribun. Tapi saya tetap mensupport Arema FC, cuma untuk kembali nribun masih belum tahu kapan.” ucap suporter Arema FC itu.
BACA JUGA: Komnas HAM: Kerusuhan Tidak Disebabkan oleh Suporter yang Masuk Lapangan
Hadi mengaku ia masih terbayang-bayang suasana kelam di Stadion Kanjuruhan selama kerusuhan di hari Sabtu (1/10) lalu.
Beruntung saat itu ia dapat keluar dari stadion dengan aman dan tak mengalami nasib nahas seperti yang dialami ratusan Aremania yang terjebak di pintu 12-13 usai menghirup gas air mata dari polisi.
“Banyak teman-teman Aremania yang juga dilarang orang tuanya untuk nribun. Semua masih trauma dan takut.” tutup Hadi.
Selepas kerusuhan tersebut, Komdis PSSI memberikan sanksi kepada Arema FC berupa larangan untuk menyelenggarakan pertandingan dengan dihadiri penonton.
(*) Edwin Fatahuddin

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi