Nurikmal usul bikin tulisan serial feature tentang orang-orang yang terkait dengan perjudian itu, terutama para preman, perpanjangan tangan atau katakanlah dikendalikan aparat itu, dan perempuan yang terlibat pelacuran terselubung itu.
”Kuatkan wawancaranya, ya. Data-data bisa dapat dari LSM yang fokus pada isu perempuan, ada beberapa yang saya kenal penggeraknya. Nanti saya kasih nomor teleponnya. Mereka banyaknya mengadvokasi buruh pabrik itu, sih, tapi saya tahu mereka juga mendata dan menangani banyak kasus pelacuran itu,” kataku.
BACA JUGA: Siapa Membunuh Putri (21)
Pak Rinto menelepon. Dia sudah kembali dari seberang. Ia mengucapkan selamat untukku dan tanya kapan rencananya kami menikah. Terkejut juga saya, tahu dari mana beliau?
”Calon mertuamu itu sahabat saya. Dulu pernah jadi wartawan di sini. Ke mana-mana sama saya dulu. Dia cerita kan? Saya berutang banyak sama dia. Tapi, nah, brengseknya dia tak pernah kasih kesempatan saya bayar utang-utang saya itu, jadi saya berutang terus…” kata Pak Rinto.
”Ya, Pak. Beliau cerita,” kataku. Hanya sekilas. Mungkin lupa. Mungkin ia sedang lebih tertarik untuk menceritakan hal lain.
”Anaknya, calon istrimu itu, dulu lahir di Singapura. Setelah lama dia tak punya anak. Itu pun saya diberi tahu setelah dia kembali ke Pekanbaru. Keterlaluan betul bapakmu itu. Apa yang bisa saya bantu untuk pernikahanmu, Dur? Kasih tahu saya ya… Apa pun yang kamu perlukan, saya mau bantu kamu. Kalau kamu sempat hari ini ke rumah ya. Ada banyak hal yang saya mau ceritakan…”
”Apa terkait kasus pembunuhan Putri, Pak?”
”Ada sedikit terkait dengan kasus itu.” (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi