”Bukannya saya tak percaya sama kamu, tapi saya tak percaya sama diri saya sendiri,” kataku.
”Kalau ini uang saya pakai buat nikah sama orang lain gimana?”
”Tak apa-apa. Itu kan uang buat kita menikah, atau salah satu dari kita, kalau ada lelaki lain yang lebih baik, kami bisa terima dia, pakai saja uang itu,” kataku. Saya mengatakan itu dengan maksud melucu, bercanda. Inayah malah menangis.
BACA JUGA: Siapa Membunuh Putri (24)
Sehabis rapat pagi di kantor, Bang Eel bicara soal rencana pernikahannya. Ia sudah membawa Nenia bertemu dengan Ustad Samsu. Bang Eel cerita tentang Nenia yang bekerja di Bluebeach Resort. Saya tak menunjukkan bahwa saya sudah tahu tentang hal itu. Ia cemas. ”Kalau minta dia cari kerja di tempat lain. Kembali ke Nagata Plaza masih diterima dia,” kata Bang Eel.
Ketika bertemu Nenia di Bluebeach dia juga bilang ingin pindah dari situ. Tapi bekerja di Bluebeach memang menggiurkan, penghasilan di luar gajinya berlipat-lipat. Ada bonus mingguan dari pengelola kasino. Ada tips besar dari tamu yang datang berjudi. Uang panas.
Yang dicemaskan Bang Eel adalah perjudian itu. Dari Nenia, katanya, dia tahu ratusan orang dari seberang tiap malam berjudi di sana. Miliaran omzetnya tiap malam. Yang dicemaskan Bang Eel adalah persaingan antarpreman yang berebut lahan pengaman. Selama ini pengelola Bluebeach memberi kesempatan pada beberapa kelompok, secara garis besar terbagi dua, yang masing-masing dibekingi oleh polisi dan TNI.
”Makin ramai judinya, makin panas persaingan kelompok preman. Apalagi ada pengacara yang ikut bermain,” kata Bang Eel.
”Kita bikin liputannya, Bang?” tanyaku.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi