Jumat, 8 Mei 2026, pukul : 01:19 WIB
Surabaya
--°C

Seriuskah Anies Ditarget Penjara, Miris Dengarnya

KEMPALAN: Video singkat Minggu malam (25 September), muncul di grup pertemanan WhatsApp. Lalu video yang sama, dan sama lagi, dikirim kawan lainnya. Susul-menyusul seperti ingin memberitakan sebuah berita besar yang pantang dilewatkan. Bahkan sampai Senin siang pun, masih saja ada yang mengirimnya.

Hanya video singkat dari kader senior Partai Demokrat, Andi Arief, mampu menyebar jadi berita viral. Judulnya mentereng, “Andi Arief tentang Demokrat dan Istana”. Tampak gambar Andi Arief menonjol di depan. Tertulis pula dibagian atas pojok kiri, sepertinya nama yang memproduksi, Jiwa Demokrat. Menandakan video itu resmi diproduksi Partai Demokrat.

Setelah mendengar paparan singkat Andi Arief, utamanya pada kalimat, yang konon itu keluar dari mulut Presiden Joko Widodo (Jokowi), “Oh Anies Kan Sebentar Lagi Masuk Penjara”, miris mendengarnya. Antara percaya dan tidak percaya.
Hingga perlu mengulang beberapa kali untuk memastikan info dari Andi Arief itu memang sesuai dengan yang didengar.

Andi Arief tentu tidak asal bicara. Apalagi sampai perlu membawa-bawa nama Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden RI ke-6.
Seolah menyuratkan, bahwa apa yang disampaikan Andi Arief itu info A-1. Info yang didapat SBY dari orang yang langsung mendengar dari mulut Presiden Jokowi sendiri.

Awalnya, Jokowi minta capres hanya dua pasangan saja. Lalu orang tadi mengatakan, bagaimana dengan Anies… Ganjar… Lalu muncul pernyataan Jokowi, Oh… Anies kan sebentar lagi masuk penjara!

Benarkah Presiden Jokowi bicara demikian, memastikan bahwa Anies akan masuk penjara. Tentu perlu klarifikasi langsung dari Jokowi akan kebenaran info itu.

BACA JUGA: Layaknya Peran Antagonis Menghabisi Anies Baswedan

Jika istana menganggap ini biasa-biasa saja, maka info yang disampaikan Andi Arief itu bisa dianggap punya nilai kebenaran sempurna. Semilir berita yang muncul dalam beberapa pekan ini, bahwa Anies memang sedang ditarget untuk dipenjarakan, seperti menemukan titik terang kebenaran.

Apa yang disinyalir pengamat, bahwa akan terus dimunculkan sprindik-sprindik untuk Anies dari KPK, dan itu terus berulang. Pada saat dianggap pas Anies akan dipenjarakan. Apa benar begitu skenarionya?

Andi Arief, dan itu kepanjangan dari SBY, mengatakan hal demikian, tentu tidak asal bicara. Pasti dengan berlapis bukti penunjang. SBY itu populer dengan sikap hati-hatinya, yang dipelesetkan musuh politiknya sebagai peragu. Maka, jika bukti yang umum itu cukup dua alat bukti, tidak bagi SBY yang perlu mengecek dan mengecek lagi. Tentu dari sumber utama.

Jika istana, dan seharusnya Presiden Jokowi, merasa apa yang disampaikan Andi Arief itu fitnah, itu sama artinya SBY tengah melakukan fitnah, maka silahkan pulihkan hak yang dipunya untuk menuntutnya. Jika tidak dilakukan, dan menganggap itu _nothing_, maka apa yang disampaikan Andi Arief, itu benar adanya.

Dibocorkannya info Anies akan dipenjarakan, itu bukti bahwa SBY tidak main-main dengan ungkapannya, bahwa ada upaya untuk menjadikan pilpres hanya diikuti dua pasang saja. Dan, SBY memang sedang turun gunung. Ia ingin melihat pemilu berjalan jurdil.

Mengapa Anies Mesti Dipenjarakan

Anies itu jika pemain bola, ia bisa diserupakan atau perpaduan dua bintang sekaligus, Christiano Ronaldo dan Lionel Messi. Ungkapan yang tidaklah berlebihan.

BACA JUGA: Skenario Menjegal Pencapresan Anies Baswedan

Kecepatan Anies dalam menyelesaikan tugas yang diamanahkan selama memimpin DKI Jakarta, itu bagai kecepatan lari Ronaldo yang sulit dikejar oleh pemain lawan. Sedang sikap lenturnya dalam menghadapi lawan politiknya–meski Anies tidak pernah merasa mereka yang mengkritisinya sampai tingkat caci-maki segala itu sebagai lawan politiknya–Anies tetap mampu meliuk-liuk bagai Messi menghadapi hadangan lawan yang terus ingin menjegalnya dengan berbagai cara.

Ibarat bermain bola, menghentikan kecepatan Ronaldo dan liuk-meliuk Messi, dengan terpaksa dan rasa putus asa perlu sampai men- tackling keras. Persis seperti yang dihadapi Anies saat ini, upaya menghentikannya agar tidak sampai lolos sebagai capres di 2024 dengan berbagai cara. Dilakukan meski dengan cara melawan asas kepatutan.

Bahkan pikiran untuk memenjarakan Anies, jika itu benar, pastilah itu skenario jorok, tanpa berpikir panjang. Seperti kehilangan arah, hanya mengandalkan permainan kasar, yang tidak pantas dilakukan. Jika tetap nekat dilakukan, pastilah itu spekulasi dengan hitung-hitungan ngawur. Tidak mustahil akan menguatkan gerakan civil society untuk bergerak bersama. Menemukan momentum, yang sulit diprediksi.

Anies bukan bagian dari salah satu partai politik, justru itu kekuatannya. Kekuatan Anies itu bersama rakyat, dan itu tidak hanya rakyat seputaran Jakarta. Keberadaan Anies sudah menembus belahan wilayah lain. Anies jadi idola baru, harapan untuk sebuah perubahan negeri ke arah yang lebih baik.

Maka coba-coba mencederai Anies, itu sama dengan mencederai Ronaldo atau Messi, di mana penonton di stadion akan bereaksi dengan teriakan keras penuh kemarahan. Analogi Anies dipadukan dengan dua mega bintang, itu seperti menemukan bentuknya. Salah memperlakukan Anies, tidak mustahil memunculkan perlawanan–bisa pula memunculkan koreksi atas Orde Reformasi yang gagal, atau bahkan lebih dari itu–yang sama-sama tidak kita inginkan. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.