
Oleh Yarifai Mappeaty
KEMPALAN: Kala itu siang, saat saya mampir di sebuah warung kopi yang letaknya tak jauh dari Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar. Kira-kira baru sebatang rokok berlalu, saya tiba-tiba terusik oleh suara seorang pengunjung, “Wow, rilis survei terbaru, bro!” Suaranya terdengar demikian jelas sampai membuatku menoleh ke arahnya secara spontan.
Sumber suara itu berasal dari meja di sebelah kananku. Di meja itu tampak tiga anak muda sekitar 20-an tahun. Meski baru melihatnya, namun pada akhirnya saya dapat mengetahui nama ketiganya, setelah hampir setengah jam menyimaknya secara diam-diam.
Yang membuatku terusik, namanya, Arul, duduknya di tengah. Di ujung meja di sebalah kanannya, disapa, Deny. Sedangkan yang duduk di ujung meja sebelah kirinya, dipanggil, Alex. Terdengar sangat jelas olehku kalau ketiga anak milenial itu sedang bercakap tentang servei Capres mutakhir.
Kendati tak sekalipun menyebut nama lembaga survei yang mereka percakapkan, namun saya bisa menebak kalau Lembaga survei itu termasuk salah satu yang tak menginginkan Anies menjadi Capres.
“Hari gene masih percaya lembaga survei. Sudah, bahas yang lain saja,” sambut Deny dingin mencoba mengelak.
“Jangan apriori begitu dong, bro. Bagaimanapun, ini hasil riset yang mengggunakan metode ilmiah,” ucap Arul yang tampak sedikit gusar melihat temannya tidak antusias meresponnya.
“Ini bukan soal apriori atau antusias, coy. Masalahnya, survei itu, mereka belum rilis kita so baca. Peringkatnya pasti selalu Ganjar – Prabowo – Anies. Apanya yang menarik? Kalaupun berbeda, paling urutannya berubah menjadi Prabowo – Ganjar – Anies. Hampir semua rilis survei Capres seperti itu. Jadi, ngapain juga dibahas,” sambungnya.
Alex yang sedari tadi menyimak, ikut menimpali. “Deny benar, Rul,” ujarnya. “Saat ini, nyaris tidak ada satupun lembaga survei yang dapat dipercaya. Meski survei itu adalah metode riset ilmiah, tetapi kalau datanya direkayasa, maka, tentu hasilnya juga abal-abal. Tujuannya apa? Yah, mem-frame sosok tertentu untuk ditanamkan dibenak publik.”
Mendengar percakapan mereka, saya sedikit terperangah. Bukan apa, saya tidak menyangka kalau kaum milenial seperti mereka, pun punya kepedulian, memiliki analisis yang tajam dan kritis terhadap perkembangan politik saat ini. Saya pun makin fokus menyimak percakapan mereka yang makin lama semakin menarik bagiku.
“Payah kamu, Lex. Tumben mendukung Deny,” sergap Arul yang tampak tidak nyaman melihat Alex tidak condong kepadanya.
“Bukan hanya sependapat dengan Deny, Rul, tetapi saya malah menduga kalau elektabilitas Anies sebenarnya jauh melampaui Ganjar dan Prabowo,” balas Alex tak mau kalah.
“Tetapi menduga-duga pun harus punya dasar, bung, jangan serampangan,” potong Arul dengan nada tinggi.
“Asumsinya begini, bro,” Alex melunak kala emosi Arul mulai naik. “Jika pendapat netizen benar bahwa pemanggilan Anies oleh KPK itu adalah skenario untuk menjegal Anies. Memang apa gunanya menjegal Anies? Toh elektabilitasnya menurut survei, selalu di bawah Ganjar, melampaui margin of error. Atau, jangan-jangan justeru sebaliknya.”
“Selain itu,“ lanjut Alex, “Menurut Drone Emprit dan Astra Maya, bahwa selama dua bulan terakhir, Anies paling banyak dipercakapkan di media sosial dan online, jauh melampaui Ganjar dan Prabowo. Hebatnya lagi, Anies pada umumnya mendapatkan sentimen positif.”
Terkait sentimen positif yang disebut Alex, Deny kemudian menimpali, “Bagaimana mungkin sentimen positif seperti itu sampai tidak tertangkap oleh survei tatap muka?”
“Tetapi anehnya, sentimen positif itu justeru dapat tertangkap oleh polling ILC. Terbukti, dari 56 ribu lebih votes, 77% memilih Anies sebagai presiden, jauh meninggalkan Ganjar dan Prabowo, masing-masing dipilih hanya 14% dan 9%,” sambung Deny yang membuat Arul makin tak berkutik.
“Bukan hanya itu, bro,” Alex menambahkan. “Gegara polling ILC, Ferdinand Hutahaean sampai jumawa membuat polling sendiri dengan pertanyaan yang sama. Hasilnya, Ferdinand malah ditertawakan netizen,” tambah Alex.
Ferdinand Hutahaean (FH) dikenal sebagai sosok pembenci Anies Baswedan. Jejak digital kebenciannya berserakan di dunia maya. Karena tak terima Ganjar dipecundangi Anies di Polling ILC, ia lantas membuat polling sendiri di akun twitternya, sehari setelahnya. Tentu ia berharap mendapat hasil yang berbeda, sehingga punya bahan mengolok Anies.
Namun apa yang terjadi? Justeru FH yang kemudian diolok-olok netizen. Bayangkan, dari 60 ribu lebih votes, 63% memilih Anies presiden. Sedangkan yang memilih Ganjar, hanya 31%, kurang dari setengah yang memilih Anies. Tetapi bukan Ferdinand Hutahaean kalau tak punya cara berkelit.
“Pasukan medsos Anies lebih kuat…..” kilahnya.
“Pasukan Medsos Anies? Bukankah mereka semua adalah followers Ferdinand sendiri?” ujar Arul menanggapi cara FH berkilah. Melihat itu, Alex dan Dany serempak angkat bahu sambil senyum setengah dikulum. Mungkin dalam hati keduanya mentertawakan Arul yang baru tercerahkan.
“Oke, saya cabut dulu, bro. Ini ada orderan masuk,” ujar Deny tiba-tiba sambil gegas berlalu.
Mendengar Deny menyebut, “ada orderan masuk”, saya benar-benar terperanjat. Mereka rupanya adalah pengojek milenial yang sangat terpelajar.
Yarifai Mappeaty, pemerhati sosial, tinggal di Makassar
Makassar, 26 September 2022
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi