Sebuah ambulans tiba-tiba keluar dari pusat penahanan. Kiarash Amini mendengar kabar dari saksi mata bahwa polisi telah membunuh seorang wanita muda di dalam. Sebuah foto dan video Mahsa Amini yang beredar luas di media sosial pada 15 September menunjukkan dia terbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit dengan selang di mulut dan hidungnya. Darah mengalir dari telinganya dan memar di sekitar matanya.
Beberapa dokter Iran mengatakan di Twitter bahwa meskipun mereka tidak memiliki akses ke file medisnya, pendarahan dari telinga menunjukkan dia mengalami gegar otak akibat cedera di kepala. Ayah Mahsa mengatakan bahwa putrinya tidak memiliki masalah kesehatan atau riwayat masalah jantung. Dia mengatakan putrinya mengalami luka-luka fatal, dan pihak keluarga menuntut polisi bertanggung jawab atas kematiannya.
BACA JUGA: Dewan Kolonel
Kematian Amini telah memicu kemarahan luas di masyarakat. Awalnya gerakan ini hanya diikuri oleh emak-emak dan gadis-gadis muda dan remaja. Tetapi, dalam beberapa hari terakhir gerakan anti-pemerintah meluas dan diikuti oleh semakin banyak kalangan.
Aksi demonstrasi setelah kematian Amini dimulai pada 17 September dan telah menyebar ke lebih dari 40 kota di Iran. Sebagian besar demonstrasi terkonsentrasi di barat laut Iran yang berpenduduk Kurdi. Suku Kurdi yang umumnya beragama Islam sunni menjadi minoritas di Iran yang mayoritas syiah.
Demonstrasi oleh suku Kurdi ini bisa memantik perseteruan etnis yang sudah lama terpendam. Suku Kurdi sering menjadi korban diskriminasi karena perbedaan mazhab. Demonstrasi besar kali ini bisa menjadi pemicu bagi krisis politik yang lebih serius.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi