JAKARTA–KEMPALAN: Imam di Islamic Center of New York dan Direktur Jamaica Muslim Center, Imam Shamsi Ali turut buka suara soal adanya tuduhan kembali politik identitas pada Anies Baswedan.
Menurutnya, ia sangat kenal dengan gubernur DKI Jakarta itu. Kata dia, tuduhan tersebut adalah tak mendasar.
“Anies Baswedan saya kenal dari dulu sangat pintar, berwawasan luas dan menguasai permasalahan-permasalahan yang dihadapinya. Tapi lebih dari itu beliau taat agama namun santun dan berintegritas,” katanya, Jumat, 23 September 2022.
Shamsi Ali menyampaikan, sejak terjun di dunia politik praktis, memang terlalu banyak upaya untuk merusak citra mantan Rektor Universitas Paramadina itu.
Satu di antaranya adalah yakni bahwa Anies Baswedan mengusung politik identitas. Padahal, lanjut dia, jika saja mereka yang menuduh itu sadar, atau berani mencari fakta di Jakarta, betapa Anies diakui oleh semua kelompok non-Muslim, seperti Kristen Protestan dan Kristen Katolik, sebagai pemimpin yang merangkul semuanya.
“Bukan dengan kata dan retorika, tapi dengan kerja dan kebijakan. Jejak media itu sangat banyak,” jelasnya lagi.
Tokoh kelahiran 5 Oktober 1967, Bulukumba, Sulawesi Selatan itu juga menyampaikan, perihal politik identitas pun sesungguhnya adalah suatu yang tidak jelas.
“Apakah jika orang Jawa maju jadi Capres lalu didukung oleh mayoritas orang-orang Jawa itu politik identitas? Selama ini Capres non-Jawa masih belum bisa menang karena belum bisa diterima oleh mayoritas bangsa (Jawa). Apakah ini politik identitas? Lalu Kenapa kalau ada seorang Muslim yang maju lalu didukung oleh mayoritas Muslim dituduh sebagai politik identitas?” katanya.
Ia menjelaskan, sejujurnya politik itu mau atau tidak, diakui atau tidak, disadari atau tidak, harus ada identitasnya. Karena dengan identitas itu seseorang atau bahkan sebuah partai politik akan teridentifikasi.
Misalnya, lanjut Shamsi Ali, di Amerika Serikat hanya dua partai politik. Dan duanya memiliki identitas yang sangat kontra. Republika itu identitasnya konservatisme. Sementara demokrat identitasnya ada pada liberalisme.
“Kedua identitas ini berimbas pada kebijakan. Ambillah misalnya masalah eborsi, bahkan masalah alokasi APBN,” ujarnya.
Sebelumnya, Pendeta Donald Sendow juga menilai, tuduhan Anies Baswedan melakukan politik identitas adalah tak mendasar dan tanpa bukti sedikit pun.
Ia pun mengatakan, dirinya tak khawatir dengan hal tersebut. Itu karena, kini masyarakat sudah waras dan cerdas. Bisa menilai secara langsung Anies Baswedan dalam kepemimpinannya di Ibu Kota. “Salam waras, salam cerdas,” katanya.
Menurut pria yang kini jadi wakil ketua umum relawan Anies BRANI 1 itu, penyebutan politik identitas kini memang sudah mulai digaungkan oleh mereka yang tak suka pada Anies.
Hal itu, lanjut dia, karena Anies Baswedan sudah menyatakan bersedia maju menjadi Capres 2024 dan juga ada partai politik yang akan mengusungnya nanti.
“Bagi lawan-lawan politik yang menyebut dan melabeli Anies Baswedan sebagai Bapak Politik Identitas, anda sedang melakukan pembunuhan karakter kepada seseorang, kepada individu orang tersebut, kepada pribadinya,” jelasnya.
Ia juga menegaskan, dalam kepemimpinannya di Jakarta, Anies Baswedan sudah membuktikan bahwa ia tak seperti yang dituduhkan selama ini. Menurutnya, Anies adalah sosok yang menjunjung toleransi antar umat beragama. Dan itu kata dia, yang dibutuhkan oleh Indonesia saat ini.
“Sekarang setelah 5 tahun Anies Baswedan memimpin DKI Jakarta, sebagai seorang gubernur, sebagai seorang pemimpin, apakah dia memakai politik identitas?” tanya dia.
“Kembali saya menekankan sebaiknya jangan menilai seseorang dari kata orang. Lihat dan pahami jalan pikiran seseorang dari apa yang dia perbuat,” ujarnya. (kba)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi