Kamis, 14 Mei 2026, pukul : 07:45 WIB
Surabaya
--°C

Pimpinan Kompas Mengaku Pemasangan Foto Anies di KPK Sebuah Kelalaian

JAKARTA–KEMPALAN: Pimpinan Harian Kompas mengklarifikasi bahwa pemasangan foto Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang sedang di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada salah satu artikel beritanya adalah sebuah kelalaian.

Penjelasan pemimpin harian terbesar di tanah air ini diketahui dari penyampaian Anies Baswedan sendiri yang dia unggah melalui akun Instagram resminya @Anies Rasyid Baswedan, Jumat, 9 September 2022.

Tidak disebutkan siapa saja para pimpinan Kompas yang menyampaikan penjelasan ke Anies tersebut.

Melalui akun instagramnya itu Anies menanggapi pemasangan foto dirinya yang sedang di KPK dalam berita Harian Kompas berjudul “Korupsi Bukan Lagi Kejahatan Luar Biasa”, di rubrik Politik dan Hukum Harian Kompas, Kamis 8 September 2022.

“Kemarin, sehari sesudah memenuhi undangan KPK untuk memberikan keterangan terkait Formula-E, saya menerima banyak pesan memberitahukan tentang berita yang dimuat di Harian Kompas,” kata Anies yang dikutip dari akun instagramnya tersebut, Jumat, 9 September 2022.

“Judul beritanya besar: Korupsi Bukan Lagi Kejahatan Luar Biasa. Isinya mayoritas tentang pembebasan bersyarat 23 narapidana tipikor. Terdapat pula kolom berisi daftar napi tipikor yang dibebaskan,” sambung Anies.

Yang aneh, kata Anies, yang terpampang adalah foto Gubernur DKI. Tidak ada hubungan dengan topik yang ditulis di dalam artikel. Di bagian akhir artikel terdapat tiga paragraf kecil tentang kedatangan Gubernur DKI ke KPK, yang juga tidak ada hubungan dengan topik beritanya.

Menurut orang nomor satu di DKI Jakarta itu, media memang memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi, opini, dan perasaan pembacanya.

“Karena memiliki kekuatan besar inilah maka media harus memiliki tanggung jawab yang besar pula,” tutur Anies.

Mantan Rektor Universitas Paramadina Jakarta itu mengatakan, media sebagai pilar demokrasi bukannya tidak boleh berpihak. Sebaliknya, ia justru harus berpihak, pada kebenaran, keadilan, dan objektivitas. Tanggung jawab media memang berat, karena risiko dampak salah langkahnya pun besar.

“Kemarin, beberapa pemimpin Kompas menjelaskan pada saya, bahwa penempatan foto itu adalah kelalaian, tak ada niat framing buruk,” ujarnya.

Meskipun demikian, Anies menyanyangkan kesalahan mendasar seperti itu terjadi di media seperti Kompas yang pastinya memiliki mekanisme pengawasan berlapis.

“Hari ini, Kompas memasang berita baru yang menjelaskan secara lebih objektif terkait kedatangan saya ke KPK. Kompas hari ini memberi contoh kepada Kompas kemarin tentang bagaimana sebuah berita seharusnya ditulis,” tuturnya.

Dahulu, lanjut Anies, Kompas sebenarnya hendak diberi nama Bentara Rakyat. Namun Bung Karno memberi usul nama Kompas, karena kompas adalah penunjuk arah dan jalan.

“Kita berharap, filosofi nama Kompas ini terus dijaga. Apabila sebuah kompas berfungsi baik, maka kita lancar dan selamat mengarungi perjalanan. Apabila jarumnya terpengaruh oleh magnet (polar), maka ia tak lagi dapat menjadi penunjuk arah.

“Saya memilih mempercayai penjelasan pemimpin di Kompas dan, walau banyak yang menyarankan, saya memilih tidak membawa masalah ini kepada Dewan Pers,” imbuh Anies.

“Namun, saya memilih tetap menyampaikan catatan ini pada publik agar bisa menjadi pengingat bagi kita semua dalam bernegara dan berdemokrasi,” tutup Anies, tegas.(kba)

Editor: Freddy Mutiara

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.