Senin, 18 Mei 2026, pukul : 03:14 WIB
Surabaya
--°C

Tujuh Hal Positif Warisan Kepemimpinan Anies Baswedan

JAKARTA–KEMPALAN: Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera menilai ada tujuh faktor legacy atau warisan yang bakal ditinggalkan Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta. Pernyataan ini disampaikan jelang bakal berakhirnya jabatan inisiator Indonesia Mengajar sebagai orang nomor satu di ibu kota pada 16 Oktober 2022.

Menurut Mardani faktor pertama adalah kerukunan antar umat beragama. Seperti diketahui, Pemprov DKI bersama Foruma kerukunan Umat Beragama (FKUB) DKI Jakarta berhasil meraih Harmony Award Tahun 2020 dari Kementerian Agama. Hal ini diberikan atas sumbangsih dan kontribusi pemerintah daerah bersama pihak-pihak terkait dalam pembangunan dan kerukunan umat beragama.

“Kedua Jakarta yang ramah transportasi publik,” kata Mardani, Kamis, 1 September 2022.

Sudah banyak diketahui di era Anies Baswedan, bekas rektor Universitas Paramadina benar-benar memanjakan pejalan kaki. Pendapat ini disampaikan pengamat perkotaan Yayat Supriyatna. “Saya sebagai pemakai transportasi publik benar-benar menikmati fasilitas ini. Murah meriah,” kata Yayat.

Hal ketiga yang menjadi warisan Anies menurut Mardani adalah dibangunnya ikon stadion Jakarta International Stadium (JIS). “Keempat Digelarnya ajang balap mobil listrik Formula E, Kelima dibangunnya Tebet Ecopark, Keenam Sudirman Thamrin yang nyaman bagi pejalan kaki. Dan ketujuh penguatan RT dan RW,” ujar Mardani.

Terkait kebijakan di DKI di bawah Anies Baswedan, pengamat perkotaan Yayat Supriyatna mengaku kagum. Orang nomor satu di ibu kota itu menurutnya sudah melakukan banyak hal positif selama lima tahun memimpin.

Yayat mengatakan Jakarta di bawah kepepempinan Anies banyak berubah. “Perubahan utamanya ada pada lanskap pedestrian atau pejalan kaki. Itu yang paling mendasar,” kata Yayat.

Secara hakikat, Anies tutur Yayat ingin membetulkan urutan pada lanskap dalam hal mobilitas masyarakat. “Yaitu pejalan kaki harus dinomor satukan, transportasi publik harus dibenahi, dan pembatasan pemakaian kendaraan pribadi,” kata Yayat.

Pada masa kepemimpinan Anies Baswedan struktur ruang publik juga banyak berubah. Yayat mencontohkan bagaimana penambahan ruang bagi pejalan kaki yang semakin masif di jalan-jalan Jakarta. Bukan hanya di wilayah Jakarta Pusat saja, tetapi cucu pahlawan nasional Abdurrahman Baswedan itu juga banyak membangun trotoar bagi pejalan kaki di wilayah lain.

Yayat mengaku sebagai pejalan kaki dirinya merasa bersyukur. “Ini sesuatu (kebijakan membuat pedestrian) yang menjadi pilihan tepat. Karena hal ini akan banyak menekan emisi nol rendah atau low zero emission. Yang banyak terjadi di banyak ruas jalan Jakarta,” kata dia.

Hal kedua yang banyak berubah pada masa kepemimpinan Anies Baswedan adalah dalam hal transportasi publik. Integrasi tarif, integrasi simpul antarmoda, antar KRL dengan MRT kata Yayat juga banyak sekali dibangun simpul-simpul pelayanannya. “Kalau di Stasiun Juanda, Halte Transjakarta akan diintegrasikan dengan KRL. Luar biasa,” ujar Yayat.

Yayat menuturkan sebagai pemakai transportasi publik dirinya banyak diuntungkan. Hal menarik lainnya adalah penataan taman-taman. Taman-taman ini katanya bukan sekadar tempat biasa. Ambil contoh katanya Tebet Ecopark. “Itu sesuatu yang menjadi viral. Ikonik. Betul-betul membuat lanskap ruang berubah. Membuat orang-orang berbondong-bondong datang,” kata dia.

Peninggalan lain Anies sebagai Gubernur DKI kata Yayat adalah penataan Kota Tua. Dia melihat bekas rektor Universitas Paramadina itu menjadikan kawasan Kota Tua surga bagi pejalan kaki. Ruang ketiga yang digagas jebolan Fakultas Ekonomi UGM itu benar-benar dimaksimalkan penggunaannya. “Ruang interaksi warga. Isu besar menarik revitalisasi, ruang terbuka dimanfaatkan oleh anak-anak pinggiran seperti Citayam Fashion Week,” ujar Yayat.

Adanya upaya-upaya dalam membangun rumah-rumah terjangkau juga menjadi warisan positif kepemimpinan Anies Baswedan. Hal ini kata Yayat membuat anak-anak milenial bisa membeli rumah dengan harga terjangkau.

Kebijakan tarif air minum yang berkeadilan, pembebasan Pajak Bumi Bangunan, menurut Yayat ada upaya-upaya lain yang menjadi warisan sangat berharga. Contoh lainnya kebijakan populis Anies Baswedan adalah penataan kampung akuarium, itu kata Yayat ada program kampung kota.

Di pasar ikan mau dibangun rumah susun bagi warga-warga tidak mampu. Ada program penataan kampung. “Itu cara-cara lebih membumikan. Pendekatan ini membumikan hakikat, pejalan kaki, jelas pro people. Dia (Anies) tidak melihat kepada persoalan pemilik mobil. Makin boros bahan bakar, subsidi yang salah sasaran. Justru yang disubsidi pak anies untuk pengembangan publik transport. MRT poros utara-selatan,” kata dia.

Secara prinsip kata Yayat banyak hal yang sudah dilakukan Anies Baswedan. Tinggal peta anggaran bisa dilanjutkan oleh PLT. Kalau prinsipnya menyentuh ke akar rumpur itu banyak. Seperti JIS itu luar biasa, membangun stadion yang menjadi kebanggaan.

Plus penataan ruang sekitarnya. Ibaratnya pak Anies kata sudah memberikan perubahan pada penandaan wilayah. “Ancol mulai ditata, Tebet ditata, barat utara kota tua ditata lagi. Ibaratnya bekerja dalam senyap tetapi manfaatnya bisa dirasakan,” kata Yayat. (kba)

Editor: Freddy Mutiara

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.