Sementara untuk aktivitas budidaya yang direncanakan di dalam keramba sedalam 7 meter yang berada di bawah bangunan hotel terapung tersebut komoditasnya belum jelas, apakah tuna, lobster, tongkol atau kerapu. Soal komoditas ikan yang akan dibudidayakan pengelola yang melibatkan masyarakat nelayan setempat (Pokmaswas) dan tidak melibatkan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi tidak gegabah. Teknologi budidaya tongkol dan tuna di Indonesia sampai saat ini belum berhasil dikembangkan, stagnan. Sebagai catatan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut (BPPBL) Gondol selama puluhan tahun bereksperimen baru bisa memproduksi benih tuna di hatchery. Sedangkan untuk pengembangan budidaya spesies tuna sirip kuning tersebut menjadi tanda tanya besar mengingat teknologi budidaya yang belum dikuasai.
BACA JUGA: Titik Nadir Budaya Bahari
Budidaya laut selama ini sudah banyak dikembangkan dan berhasil seperti kerapu, rumput laut, bandeng dan kekerangan. Umumnya masih berupa kegiatan skala kecil atau tradisonal. Manfaat dari budidaya KJA dirasakan oleh nelayan sangat membantu menutupi penghasilan nelayan saat musim paceklik ikan yaitu pada waktu musim angin barat. Sebagai referensi waktu efektif nelayan melaut dalam setahun hanya sekitar 181 hari. Selain libur di musim angin barat, nelayan umumnya tidak melaut selama satu minggu pada waktu bulan purnama.

Demikian pula budidaya lobster walaupun benih tersedia cukup banyak akan tetapi pasokan pakan menjadi kendala. Untuk membesarkan lobster seberat 1 kg dibutuhkan pakan berupa ikan rucah 50 kg. akan terjadi konflik kepentingan antara pembudidaya dengan nelayan berebut ikan rucah. Sementara untuk menangkap rucah alat yang digunakan jaring cantrang yang dilarang. Hal penting lainnya, ilmu pengembangbiakan lobster juga masih belum dikuasai di Indonesia. Pengembangbiakan kebanyakan masih mengandalkan alam yang membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi