Kamis, 7 Mei 2026, pukul : 05:33 WIB
Surabaya
--°C

Jaran Dor Sebuah Budaya yang Masih di Pertahankan

KEMPALAN-MALANG: Malang salah satu kota di Indonesia yang terkenal dengan berbagai macam keindahan alamnya dan menyuguhkan tempat yang nyaman bagi para pelancong yang berkunjung kesana. Tak hanya terkenal melalui suasana yang nyaman, Malang juga menyimpan berbagai macam budaya khas yang tidak bisa diabaikan.

Ditengah pesatnya teknologi yang kian hari makin berkembang, terdapat sekelompok masyarakat yang melestarikan kesenian daerah yang sudah berumur ratusan tahun. berbicara mengenai budaya dan kesenian Malang tak kalah dengan daerah-darerah lainnya, meskipun sudah terbilang salah satu kota yang cukup pesat perkembangan teknologi dan budayanya.

Perubahan zaman yang pesat serta masuknya budaya-budaya dari luar tidak menghalangi para pemuda-pemudi yang biasa disebut arek malang ini untuk melestarikan budaya dan kesenian di tanah kelahirannya.

Salah satu kesenian yang terdapat di Malang adalah keseninian jaranan. Pada awalnya, seni jaranan lahir sebagai simbolisasi rakyat juga memiliki kemampuan dalam menghadapi musuh ataupun melawan kekuatan elite kerajaan yang memiliki bala tentara.

Jaran Kepang Malang memang tak hanya ada di Malang. Diberbagai kota pun kesenian ini ada. Namun ciri khas antara Jaran Kepang satu dengan lainnya itulah yang membuat beda sesuai karakter daerah asalnya. Di lansir dari kompasiana.com seperti penggambaran Jaranan, Jaran Dor Malangan (karakter Malangan keras, berani tapi jujur), Blitaran, Tulungagungan dan Banyuwangian.

Perbedaan tersebut ada pada karakter, gerakan dan cara main serta filosofi yang terkandung di dalamnya. Pertunjukan ini juga diiringi oleh berbagai musik tradisional gamelan seperti kenong, kendang, gong dan lain-lain.

Pertunjukan ini juga memiliki kesan dengan nilai-nilai spiritualnya. Sehingga tidak jarang pada saat pertunjukan para penari ada yang mengalami kesurupan. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan masyarakat jawa pada jaman dahulu akan roh-roh para leluhur. Hal tersebut membuat masyarakat menjadikan Tari Jaranan sebagai alat komunikasi dengan leluhur mereka.

Saat pertunjukan Tari Jaranan terdapat seorang pawang atau yang sering di sebut dengan Gambuh. Tugas gambuh disini untuk melakukan ritual, berkomunikasi dengan leluhur dan menyembuhkan penari yang kesurupan. Pada saat pertunjukan gambuh membacakan mantra dan memanggil roh leluhur untuk memasuki raga sang penari.

Tak selang beberapa lama roh pun masuk kepada para penari itu sehingga mereka menari tanpa sadarkan diri. Karena raga mereka sudah dikendalikan oleh roh yang memasukinya. Hal tersebutlah yang membuat kesenian ini mempunyai daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang menikmatinya.

Kesenian ini juga memiliki peraturan tidak tertulis bahwa selama proses kesenian ini dan beberapa penari sudah dimasuki arwah leluhur maka tidak boleh ada yang bersiul keras. Karena akan membuat marah arwah yang memasuki raga si penari dan akan mengejar orang yang bersiul itu.

Namun uniknya masyarakat banyak sekali yang bersiul guna memancing amarah arwah yang sedang mengendalikan raga penari tersebut. Secara otomatis para penari yang sedang dirasuki arwah roh leluhur itu mengejar dan tidak jarang memutar serta berusaha memukul masyarakat yang sedang menonton.

Tapi tenang saja bagi kalian yang mau melihat kesenian ini sudah dipastikan aman, karena akan ada yang menjaga dari penari yang sudah kerasukan tersebut.

Kesenian ini terus dilestarikan oleh masyarakat sekitar misal yaitu masyarakat Desa Landungsari yang sedang memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus memperingati Hari Ulang Tahun Pasar Landungsari pada (18 Agustus 2022) ini mengadakan pameran kesenian Jaran dor guna memeriahkan hari spesial tersebut.

Antusias warga untuk menonton sudah terlihat dari banyaknya warga yang memenuhi area pagelan kesenian yang diadakan di lapangan Pasar Desa Landungsari. Banyak sekali warga yang menonton pertunjukan tersebut, ada yang khusyu menonton, ada yang sembari merekam, ataupun bersiul supaya mereka dikejar-kejar para penari yang sedang di rasuki arwah.

Seru sekali,dan sayang sekali jika kita kehilangan salah satu kesenian yang dimiliki bangsa ini serta menjadikan bangsa yang kita cintai ini mempunyai keunikan tersendiri dari bangsa-bangsa lainnya.

Sudah tugas kita selaku penerus bangsa ini agar senantiasa mempertahankan dan melestarikan setiap budaya yang berada di negara kita tercinta ini, adanya pementasan Jaran Dor dalam peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Landungsari ini menandakan bahwa kecintaan masyarakat terhadap budaya yang mereka punya belum lah luntur, semoga bangsa ini terus melestarikan budaya dan juga menjaganya. (Moch. Alfaizi)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.