Nomura dan Goldman Sachs sama-sama Pangkas Prospek PDB China

waktu baca 2 menit
Kolase Nomura & Goldman Sachs

JAKARTA-KEMPALAN: Nomura dan Goldman Sachs telah menurunkan estimasi mereka mengenai pertumbuhan China karena permintaan yang lemah, ketidakpastian karena kebijakan bebas dari Covid dan adanya krisis energi.

Dilansir dari CNBC, Goldman Sachs telah menurunkan proyeksi pada satu tahun penuh tahun 2022 dari 3,3 persen menjadi 3,0 persen. Sementara itu, Nomura menurunkan proyeksi setahun penuh dari 3,3 persen menjadi 2,8 persen.

Pemotongan atau penurunan tersebut muncul karena rasa pesimis yang berkelanjutan di antara bank-bank investasi atas target pertumbuhan Beijing, yaitu sekitar 5,5 persen. Pejabat China pada bulan Juli mengindikasikan bahwa negara tersebut kemungkinan kehilangan target untuk PDB tahun ini.

Data ekonomi terbaru untuk bulan Juli dipaparkan dan kendala energi dalam jangka pendek akibat musim panas yang luar biasa dan juga kering.

Saat ini China sedang mengalami salah satu gelombang panas terburuk dalam beberapa dekade sehingga memengaruhi pasokan listrik yang sudah tertekan dan menyebabkan berkurangnya produksi di beberapa bagian negara tersebut.

“Musim panas yang luar biasa panas dan kering telah menekan pasokan listrik dan menyebabkan pengurangan produksi di provinsi-provinsi tertentu dan beberapa sektor padat energi,” ucap analis Goldman dikutip dari CNN, Rabu (18/8/2022) malam.

Ekonom dari kedua bank tersebut juga mencatat adanya peningkatan kasus Covid-19 secara nasional dan juga kontraksi investasi properti untuk bulan Juli sehingga menurunkan total investasi.

“Meskipun kami tidak mengharapkan terulangnya pemadaman listrik dan penghentian produksi yang signifikan yang terlihat tahun lalu karena pasokan batu bara masih cukup, kendala energi kemungkinan akan memperlambat laju pemulihan pada Agustus dibandingkan dengan ekspektasi kami sebelumnya,” pungkasnya.

Sementara itu, pada bulan Mei UBS mengurangi perkiraannya menjadi 3 persen dan angka tersebut merupakan terendah di antara perkiraan yang ada pada saat itu.

Pada paruh kedua di tahun lalu, krisis energi menyebabkan pemadaman listrik yang meluas di China. Pemadaman tersebut disebabkan karena kurangnya pasokan batu bara untuk digunakan China memproduksi sekitar 60 persen listriknya dan melonjaknya permintaan listrik. (Arlita Azzahra Addin)

Editor: Reza Maulana Hikam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *