Moerdani seorang perwira intelijen yang punya pengalaman kuat di lapangan. Ia seorang nasrani yang nasionalistis dan ditugasi oleh Pak Harto untuk mengontrol politik Islam supaya tidak menjadi kekuatan yang merongrong rezim Orde Baru. Benny Moerdani menjalankan tugas itu dengan baik. Tapi, diam-diam Moerdani juga membangung basis politik sendiri di dalam ABRI.
Moerdani semakin kuat pengaruhnya. Ia membentuk jaringan tentara-tentara nasionalis yang kemudian dikenal sebagai ‘’ABRI Merah Putih’’. Pak Harto–jenderal yang sangat matang oleh pengalaman dan tajam penciuman politiknya—bisa mengendus manuver Benny Moerdani. Pak Harto pun memunculkan faksi baru di ABRI yang lebih berorientasi ke Islam. Muncullah faksi ABRI Hijau yang lebih islamis.
BACA JUGA: Cucu Bung Karno
Pak Harto tahu persis bagaimana memainkan politik kesimbangan. Pak Harto tahu Benny Moerdani membangun kekuatan yang punya potensi untuk membahayakan kekuasaannya. Karena itu Pak Harto memainkan kartu baru untuk mengimbangi manuver Moerdani. Power play, permainan kekuasaan, di antara dua orang itu berlangsung panas tapi dingin dan tersembunyi di balik pintu.
Ketika tahu dukungan dari ABRI mulai menipis, Pak Harto memainkan kartu baru, yaitu politik Islam. Maka berdirilah ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) di bawah kepemimpinan B.J Habibie pada 1990-an. ICMI menjadi basis baru kekuatan politik Pak Harto untuk mengimbangi kekuatan ABRI. Pak Harto memainkan politik keseimbangan dengan cermat, tapi akhirnya terpeleset juga oleh people power gerakan reformasi 1998.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi